Terbaru
Barangkali, Esok Mereka Pulang (Catatan oleh Pemimpin Umum LPM Kentingan UNS)
Ada delapan nama yang masih tinggal di ujung doa. lima pewarta dan tiga awak kapal.
Entah di mana mereka kini berada. Entah apakah mereka masih sempat memandang langit, atau sekadar menyimpan rindu pada rumah dan orang-orang yang dicinta. Yang kita tahu, mereka pergi untuk membawa berita, namun waktu kehilangan cara untuk mengembalikan mereka.
Barangkali, Esok Mereka Pulang (Catatan oleh Pemimpin Umum LPM Kentingan UNS)
Ada delapan nama yang masih tinggal di ujung doa. lima pewarta dan tiga awak kapal.
Entah di mana mereka kini berada. Entah apakah mereka masih sempat memandang langit, atau sekadar menyimpan rindu pada rumah dan orang-orang yang dicinta. Yang kita tahu, mereka pergi untuk membawa berita, namun waktu kehilangan cara untuk mengembalikan mereka.
Mengintip Hajatan Mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan yang Nggak Cuma Makan-Makan
Bulan lalu, tepatnya 27 Agustus 2026, Danau UNS (Universitas Sebelas Maret) acara bertajuk “Festival Pangan” diinisiasi oleh Himaghita (Himpunan Mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan). Mendengar kata ‘festival pangan’ yang terlintas biasanya nggak jauh-jauh dari madhang gedhen, acara makan-makan bersama. Namun, setelah penulis mengunjungi acara tersebut, penulis tidak hanya jajan makanan. Penulis juga mengantongi beberapa ngilmu baru. Apa saja yang penulis dapatkan?
Bibi Coffee: Program Unggulan Tim KKN 40 UNS untuk Pemberdayaan Ekonomi Desa Wonodoyo
Tim KKN 40 Universitas Sebelas Maret (UNS) mengembangkan Bibi Coffee sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah potensi kopi lokal Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Program ini tidak hanya berfokus pada pembuatan identitas visual produk, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengembangkan produk kopi agar memiliki identitas yang lebih kuat dan siap diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas.
Bahaya Laten Pidato Presiden
Pola keblunderan pidato Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia adalah fenomena yang tak boleh berakhir di ujung kewajaran usianya, orang-orang di lingkarannya, atau dugaan inkompetensinya saja.
Sebagai seorang pemimpin negara dan wakil bangsa, Prabowo tampak berada dalam utopisnya sendiri ketika berpidato sebagai Presiden, di belakangnya rentetan klarifikasi dan fakta-fakta kebalikan bermunculan berujung bahaya bagi semuanya: rakyat, stabilitas nasional, hingga wajah Indonesia di hadapan asing. Setiap kalimat yang diucapkan dapat dibaca sebagai sikap pemerintah, dikutip oleh media, diperdebatkan publik, bahkan diterjemahkan sebagai pesan politik.
