Foto bersama dengan band Saveen pada Pre-Event 1 Solo International Performing Arts (SIPA) di kawasan Food Court Solo Paragon Mall, Sabtu (18/07/2026). Foto: Nisa Maftuhaturrohmah/LPM Kentingan
Foto bersama dengan band Saveen pada Pre-Event 1 Solo International Performing Arts (SIPA) di kawasan Food Court Solo Paragon Mall, Sabtu (18/07/2026). Foto: Nisa Maftuhaturrohmah/LPM Kentingan

SIPA On The Mall: Panggung Perdana Jelang Rangkaian Solo International Performing Arts

 

Solo International Performing Arts (SIPA) menggelar Pre-Event 1 bertajuk “SIPA On The Mall” di kawasan Food Court Solo Paragon Mall, pada Sabtu (18/07/2026). Mengusung tema “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”, acara ini sukses menampilkan enam pertunjukan seni dengan lima genre yang berbeda.

Ketua Pelaksana Pre-Event 1 SIPA, Muhammad Radja B. M. menjelaskan bahwa SIPA On The Mall ini merupakan bagian dari rangkaian SIPA yang disiapkan menjelang acara puncak Solo International Performing Arts 2026 pada 10 sampai 12 September mendatang di Pura Mangkunegaran.

“Pre-Event fungsinya untuk branding atau memperkenalkan event utama kami, makanya kegiatan ini hadir dengan tema yang sama sebagai transisi pengenalan,” ujar Radja.

Penampilan band Glarsa pada Pre-Event 1 Solo International Performing Arts (SIPA) di kawasan Food Court Solo Paragon Mall, Sabtu (18/07/2026). Foto: Nisa Maftuhaturrohmah/LPM Kentingan
Penampilan band Glarsa pada Pre-Event 1 Solo International Performing Arts (SIPA) di kawasan Food Court Solo Paragon Mall, Sabtu (18/07/2026). Foto: Nisa Maftuhaturrohmah/LPM Kentingan

Enam pertunjukan seni yang ditampilkan sore hingga malam itu meliputi tari tradisional dari mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI), tari modern dari Lavishé, pantomim dari Bintang Laut, teater dari Sanggar Jejak, serta dua band, Glarsa dan Saveen.

Lebih lanjut lagi, Radja menuturkan bahwa keberagaman genre tersebut dipilih agar selaras dengan tema, yaitu bagaimana pelaku seni dapat menghasilkan karya seni baik dari suara, gerakan, maupun sekadar mimik wajah.

“Pelaku seni itu bisa menghasilkan karya seni entah itu dari suara, gerakan, ataupun dari mimik wajah. Oleh karena itu, kami mengambil penampilan dari bidang yang berbeda-beda,” ungkapnya. Dia juga menambahkan, kehadiran pantomim yang tampil tanpa suara turut memperkuat gagasan bahwa seni dapat menembus batas media ekspresi, sekaligus menjadi bukti generasi muda hari ini masih akrab dengan seni tradisional maupun modern.

Radja menyebut panggung ini sengaja difungsikan sebagai wadah membangun branding bagi komunitas seni muda yang belum memiliki nama besar. “Kita tidak mengambil yang sudah punya nama,” tegasnya, merujuk pada strategi SIPA merangkul talenta baru melalui identitas komunitas SIPA sendiri.

Salah satu penampil, Naza dari Lavishé, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS), membawakan dua dance modern berjudul “Time for The Moon Night” dan “Rough” dari girl group Gfriend. Sebagai komunitas yang baru terbentuk, kesempatan tampil di panggung SIPA menjadi momen berarti bagi Lavishé.

“Ini sebuah kesempatan yang besar banget karena kita dari komunitas baru. Jujur, untuk sampai ke acara SIPA, walaupun hanya di Pre-Event saja itu sudah meaningful banget karena kami first time tampil di luar kampus,” tuturnya.

 

Penulis : Nisa Maftuhaturrohmah dan Safira Jihan Purnomo Putri

Editor : Muthiara ‘Arsy