MOSI TIDAK PERCAYA: DENTUMAN AMARAH MELAWAN POLITIK BERMASALAH
Lagu Mosi Tidak Percaya karya band Efek Rumah Kaca lahir sebagai bentuk kegelisahan masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan politik. Lagu yang dirilis tahun 2008 ini, menyampaikan pesan kritik terhadap pemimpin yang dianggap tidak mampu menjaga kepercayaan masyarakat. Melalui lagu ini, masyarakat diajak untuk turut mempertanyakan kebijakan dan tindakan pemimpin yang tidak lagi berpihak pada kepentingan publik.
KEKUASAAN, WACANA, DAN APATISME: RELEVANSI POLITIK KAMPUS DALAM BUKU ‘ANIMAL FARM’ KARYA GEORGE ORWELL (1945)
Novel Animal Farm karya George Orwell mengisahkan kehidupan para hewan di sebuah peternakan yang memberontak terhadap pemiliknya, Mr. Jones, karena merasa dieksploitasi dan diperlakukan tidak adil. Pemberontakan ini dipicu oleh gagasan Old Major, seekor babi tua yang mengajarkan bahwa semua hewan berhak hidup bebas tanpa penindasan manusia. Setelah berhasil mengusir manusia, para hewan mengambil alih peternakan dan menamainya “Animal Farm”. Mereka membangun sistem baru yang didasarkan pada prinsip kesetaraan, yang dirumuskan dalam tujuh perintah (Seven Commandments), dengan semboyan bahwa semua hewan adalah setara.
KOMANDO KETUA KAMMI 2025 DALAM POLITIK KAMPUS UNS
Politik kampus kerap direduksi maknanya, seolah hanya berkutat pada aksi massa dan organisasi mahasiswa. Padahal, realitanya jauh lebih kompleks. Sejarah panjang gerakan mahasiswa menunjukkan bahwa “sumbu-sumbu politik kampus” tidak pernah lahir secara spontan, melainkan hasil dari strategi yang terstruktur, rencana yang terukur, dan intervensi kekuasaan.
REKTOR UNS: POLITIK KAMPUS SAMA DENGAN POLITIK NEGARA
“Politik kampus ini kita maknai istilahnya sebagai suatu serangkaian aktivitas, kegiatan, kemudian juga advokasi di kampus yang dilakukan oleh mahasiswa dalam pemahaman atau dengan tujuan belajar mengelola kekuasaan. Belajar untuk bagaimana mahasiswa itu berorganisasi, menyampaikan aspirasi, kemudian juga bagaimana mahasiswa memperjuangkan kepentingannya, sama sebenarnya dengan politik negara itu kan sebenarnya mengelola kekuasaannya untuk tujuan tertentu.”
BEM SAMA DENGAN BADAN EVENT MAHASISWA?
Mahasiswa sebagai entitas kolektif yang rentan terfragmentasi membutuhkan satu simbol representasi yang mampu menyalurkan aspirasi serta mengkritisi kebijakan institusional. Dalam konteks ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) memiliki posisi politis dalam demokrasi kampus. BEM memegang mandat sentral dalam artikulasi kepentingan mahasiswa. Namun, eksistensi BEM Universitas Sebelas Maret (UNS) kian terasa berjarak dan kehilangan esensi pergerakan, seakan BEM tidak jauh berbeda dengan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya yang mengedepankan program kerja dan acara unggulan daripada sebagai lembaga eksekutif kampus.
APATISME MAHASISWA UNS TERHADAP POLITIK KAMPUS UNS
Partisipasi mahasiswa pada politik kampus merupakan unsur penting dalam kehidupan kampus sebagai ruang pembelajaran politik. Organisasi mahasiswa menjadi salah satu sarana yang dapat digunakan untuk mengasah jiwa kepemimpinan, mengembangkan minat-bakat, dan membangun kesadaran terhadap isu sosial baik dalam kampus maupun dunia luar. Sesuai pembahasan ini, student government seharusnya menjadi wadah representasi aspirasi mahasiswa sekaligus menjadi penyelenggara pendidikan politik.
