Para peserta kegiatan ‘Chuihua’ seni melukis dengan teknik tiup berfoto bersama sambil menunjukkan hasil karya mereka usai mengikuti pelatihan di Perpustakaan Bukuku Guruku, Desa Puro, Karangmalang, Sragen. Foto: Dok. Pribadi

Ibu-Ibu Antusias Berkreasi, Seni Tiup Tinta ‘Chuihua’ Hangatkan Suasana Perpustakaan Desa Puro

Ibu-Ibu Desa Puro, Karangmalang, Sragen, Jawa Tengah, duduk berjajar di dalam Perpustakaan Bukuku Guruku. Mereka sedang melakukan kegiatan Chuihua, yakni seni melukis dengan teknik tiup. Hal ini diperkenalkan sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat di perpustakaan desa tersebut, Rabu (29/07/2026).

Mereka meniup tinta yang berbagai macam warna dengan sedotan sebagai media lukis. Kegiatan ini digagas sebagai upaya menghadirkan wajah baru literasi desa, yang tak melulu identik dengan membaca buku di rak, melainkan juga ruang untuk bereksperimen dan berkarya.

Ketika Sedotan Menjadi Kuas

Teknik Chuihua terbilang sederhana. Pada awalnya, setetes tinta hitam diteteskan di atas kertas, lalu ditiup perlahan menggunakan sedotan hingga tinta mengalir membentuk cabang-cabang pohon yang liar dan tak terduga. Tak ada dua hasil yang sama persis—setiap tiupan, setiap sudut, dan setiap kekuatan napas melahirkan bentuk cabang yang unik.

Setelah kerangka pohon terbentuk, para peserta kemudian mempercantik karya mereka dengan bintik-bintik warna merah, oranye, dan kuning menggunakan kapas dan cotton bud, menyulap ranting-ranting hitam itu menjadi pohon bunga sakura atau pohon mumei (bunga plum) yang merekah penuh warna musim gugur.

“Awalnya saya kira ini susah. Ternyata setelah dicoba, meniup tinta itu justru bikin rileks. Hasilnya juga beda-beda, jadi unik punya masing-masing,” ujar salah satu peserta sambil menunjukkan hasil karyanya yang dipenuhi bunga kuning keemasan.

Peserta lain mengaku sempat kesulitan mengatur kekuatan tiupan di awal percobaan. “Tiupan pertama saya terlalu kencang, jadi tintanya melebar ke mana-mana. Tapi lama-lama saya jadi paham, harus pelan dan sabar,” tuturnya.

Sejumlah karya ‘Chuihua’ hasil buah tangan ibu-ibu Desa Puro dipajang berjajar di atas meja, menampilkan beragam gradasi warna dan corak yang berbeda satu sama lain. Foto: Dok. Pribadi

Bukan Sekadar Melukis, Tapi Ruang Berkumpul dan Belajar

Di balik keseruan meniup tinta dan berbagi cerita di antara rak-rak buku, ada semangat literasi yang coba dihidupkan oleh Perpustakaan Bukuku Guruku, yakni perpustakaan desa bisa menjadi ruang kreatif. Tempat tersebut bukan hanya tempat membaca, tapi juga tempat berkumpul, belajar hal baru, dan mempererat kebersamaan antarwarga.

Kegiatan semacam ini juga menjadi selingan yang menyegarkan di tengah rutinitas harian para peserta, yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan warga aktif di berbagai kegiatan sosial desa. Bagi mereka, satu jam duduk bersama sambil melukis menjadi momen langka untuk melepas penat sekaligus menyalurkan sisi kreatif yang jarang tersentuh.

Dengan kegiatan Chuihua di Desa Puro, menjadi bukti bahwa seni dan literasi bisa berjalan beriringan. Hal ini menghadirkan ruang ekspresi baru bagi ibu-ibu desa sekaligus menghidupkan kembali fungsi perpustakaan sebagai pusat kegiatan masyarakat yang hangat dan inklusif.

 

Editor: Muthiara ‘Arsy