Sejumlah peserta dan mahasiswa Sosiologi UNS melakukan aksi susur jalan bersama untuk menguji langsung aksesibilitas bagi pejalan kaki di koridor Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo. (Sumber: Dok. Istimewa) 

Mahasiswa Sosiologi UNS dan Kolektif Jejak Kota Soroti Krisis Inklusivitas Pedestrian di Slamet Riyadi Solo

Tata kelola ruang publik di Jalan Slamet Riyadi Solo kini tengah menghadapi tantangan serius dalam menyelaraskan pertumbuhan ekonomi sektor riil dengan pemenuhan hak pedestrian. Maraknya fenomena extended seat atau perluasan area duduk kedai kopi hingga okupasi fasilitas publik oleh parkir liar memicu diskusi kritis mengenai masa depan inklusivitas kota. Di beberapa titik, pejalan kaki bahkan kerap merasa canggung karena ruang melangkah yang kian menyempit dan berbaur langsung dengan area komersial.

Dinamika tata ruang inilah yang mendorong lahirnya aksi kolaboratif berupa gerakan dan talkshow bertajuk “Antara Singgah dan Melangkah” pada Selasa (19/05/2026) lalu. Hal ini digagas oleh kelompok mahasiswa Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo melalui program Pembelajaran Berdampak Hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Gerakan ini mengajak masyarakat umum untuk menguji langsung tingkat aksesibilitas di jantung Kota Solo.

Aksi Susur Jalan Membedah Aksesibilitas Solo

Gerakan ini berkomitmen untuk melihat langsung realita di lapangan. Sejak pagi hari, para peserta melakukan street auditing (susur jalan) menyusuri rute dari titik Sami Luwes hingga UD Jaya, lalu kembali menggunakan moda transportasi publik Batik Solo Trans (BST).

Sejumlah peserta dan mahasiswa Sosiologi UNS melakukan aksi susur jalan bersama untuk menguji langsung aksesibilitas bagi pejalan kaki di koridor Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo. (Sumber: Dok. Istimewa)

Sepanjang perjalanan, peserta menemukan berbagai rintangan fisik pada jalur pedestrian. Trotoar ikonik yang sejatinya diproyeksikan sebagai ruang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk lansia dan penyandang disabilitas, kini justru menghadirkan tantangan aksesibilitas yang cukup berat bagi warga umum. Perjalanan komunal tersebut kemudian bermuara di 28 Coffee untuk melangsungkan sesi diskusi intim bersama Abel dari Komunitas Jejak Kota.

“Inklusivitas itu sebenarnya sederhana: sebuah ruang di mana semua orang tanpa terkecuali diterima dan dihargai. Bagi teman-teman disabilitas netra, itu diwujudkan lewat guiding block yang utuh,” ungkap Abel.

Tantangan Okupasi Ruang Publik

Sayangnya, kondisi nyata di koridor Slamet Riyadi menunjukkan arah yang sebaliknya. Ekspansi area tempat duduk komersial di atas trotoar yang awalnya dipelopori oleh beberapa kedai kopi lokal, kini memicu pergeseran fungsi ruang. Fungsi sosial trotoar perlahan tergerus oleh aktivitas ekonomi.

Selain meja kursi kafe yang menutupi ubin pemandu disabilitas, hak aksesibilitas pejalan kaki kian terbatas akibat tingginya volume kendaraan roda dua yang menggunakan trotoar sebagai kantong parkir liar yang berlapis-lapis pada malam hari.

Kompilasi bukti pelanggaran di lapangan berupa deretan kursi kedai kopi dan parkir sepeda motor liar yang mengokupasi jalur pedestrian Slamet Riyadi, Kota Solo. (Sumber: Dok. Istimewa)

Mendorong Keadilan Ruang Publik

Meski keberadaan coffee shop diakui berdampak positif pada daya tarik wisata, diskusi mahasiswa Sosiologi UNS menegaskan perlunya jalan tengah (win-win solution). Harus ada regulasi yang tegas serta pengawasan konsisten dari pemerintah daerah agar pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan hak dasar pejalan kaki.

Sebagai langkah keberlanjutan, kampanye digital “Riyadi Urbanode” akan terus digulirkan melalui media sosial demi mendorong kebijakan tata kota Solo yang kembali berpihak pada kenyamanan seluruh hak pedestrian.

 

 

Penulis : Tim Hibah Mahasiswa Sosiologi UNS

Editor : Muthiara ‘Arsy