> Laporan Khusus > Trilogi Ravik Karsidi

Trilogi Ravik Karsidi

Pemilihan rektor akhirnya membawa nama Prof. Dr. H. Ravik Karsidi. M.S. menjadi rektor baru Universitas Sebelas Maret Surakarta periode 2011- 2015. Rektor baru ini juga telah dinobatkan secara resmi pada pelantikan 13 April 2011 lalu di Jakarta. Program-program kerja baru telah siap di depan mata dan perubahan-perubahan pun telah ditunggu. Kemajuan yang telah diraih UNS di beberapa bidang itu pun seakan menuntut kemajuan yang berlanjut dari kepemimpinan sang rektor baru.

Setelah melalui serangkaian proses pemilihan, terpilihlah Prof. Dr. H. Ravik Karsidi, M.S. sebagai nahkoda baru yang akan menentukan arah perjalanan UNS ke depan. Rektor kelahiran Sragen, 7 Juli 1957 ini mengumpulkan suara senat sebesar 109 suara, mengungguli pesaingnya, Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd. yang mendapatkan 48 suara dan Prof. Adi Sulistyono dengan jumlah 40 suara.

Dalam pemilihan umum rektor setidaknya ada dua aturan yang ditetapkan sebagai pedoman, yaitu Peraturan Menteri No. 729 tahun 2010 yang berisikan bahwa pemilihan dipungut dari suara dosen, mahasiswa, dan senat, serta Peraturan Menteri No. 24 tahun 2010 yang menyatakan bahwa hasil pemilu di tentukan oleh keputusan senat dan menteri.

Pemilihan rektor langsung oleh civitas akademika diselenggarakan pada 7 Oktober 2010. Dua hari sebelum dilakasanakannya pemilihan, pada 5 Oktober 2010 turun Peraturan menteri No. 24 tahun 2010 yang menyatakan bahwa jumlah suara ditentukan oleh senat dan menteri. Dalam peraturan itu, terdapat beberapa aturan dalam melakukan pemilihan rektor, yakni: suara senat sebesar 65 %, calon memiliki pengalaman manajerial, dan menteri pendidikan nasional memiliki jatah 35 % suara. Meskipun demikian, pemilu oleh mahasiswa dan warga kampus tetap dilakukan walaupun perhitungan suara tetap berada di tangan senat dan menteri.

Dalam pemilihan terdapat 200 surat suara, sehingga jika dikalkulasikan menurut Peraturan menteri No. 24 tahun 2010 tersebut, Menteri pendidikan nasional mendapat jatah sebesar 70 suara dan senat mendapat jatah 130 suara. Senat terdiri dari guru besar, perwakilan dari tiap fakultas dan Emeritus (guru besar kehormatan). Jumlah anggota senat terdiri dari 130 orang. Pemilihan umum pun dilaksanakan dan muncullah Ravik Karsidi sebagai rektor baru UNS periode 2011-2015. Pelantikan rektor dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 13 April 2010 oleh Menteri pendidikan nasional.

Dengan terpilihnya Ravik sebagai rektor baru UNS hingga 2015, tentunya membawa harapan akan sebuah kepemimpinan yang lebih baik dan berkelanjutan. Seorang pemimpin yang baru memang selalu dinanti oleh para warga masyarakat yang akan dipimpinnya dengan berbagai inovasi dan kerja nyata. Ravik, yang dalam hal ini akan memimpin UNS sebagai rektor baru, ditantang untuk mampu mengatasi berbagai pro blematika yang ada di UNS dan juga untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pelayanan sebagai sebuah institusi intelektual.

Menjadi seorang rektor tentu bukan suatu hal yang mudah, di sini Ravik dituntut peran aktif dalam kepemimpinannya untuk membawa UNS menjadi sebuah universitas terbaik. Selain melanjutkan kepemimpinan rektor sebelumnya, Prof. Dr. HM. Syamsulhadi, dr.SP.KJ(K), juga harus memiliki strategi pemajuan yang handal.

Pada dasarnya, program kerja yang akan dilaksanakan oleh Ravik sebagai rektor baru sudah tercantum dalam Rencana Strategis (Renstra) Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta periode 2009- 2029. Dalam Renstra sudah tertulis tentang program kerja yang akan dilakukan oleh rektor yang menjabat dari tahun 2009 hingga 2029. Hal ini berarti program kerja pada masa kepemimpinan Ravik juga telah tercantum dalam Renstra UNS 2009-2029. Dalam menghadapi program yang telah diputuskan tersebut dibutuhkan langkah kerja yang tepat sasaran.

“Yang jadi masalah adalah bagaimana mengakselerasi atau mempercepat proses pencapaian program tersebut, dan itu butuh sebuah strategi,” kata Ravik saat ditemui di ruang kerjanya.

Lantas, apakah yang membedakan antara seorang rektor dengan rektor lainnya? Jika menilik dari periode Renstra yang berlaku hingga 20 tahun, yang itu berarti akan dilalui kurang lebih empat-lima masa jabatan rektor dengan program kerja yang sudah ditetapkan. Oleh karena itu, para rektor harus mempunyai strategi untuk menjalankan program kerja tersebut. “Program kerjanya itu sudah ada dalam Renstra, yang membedakan dalam sebuah kepemimpinan seorang rektor adalah bagaimana strategi dan langkah-langkah yang diambil sehingga tujuan dan sasaran program kerja dalam Renstra dapat tercapai,” tambah Ravik.

Dalam masa kepemimpinannya sekaligus sebagai strategi menuju terlaksanakannya program kerja yang telah ditetapkan dalam Renstra, Ravik mengambil tiga strategi yang disebut dengan Akselerasi, Transformasi, dan Revitalisasi. Ketiga strategi yang diterapkan ini akan diusung pada empat tahun masa jabatan Ravik secara sistematis.

Akselerasi
Pada poin pertama ini Ravik mempunyai tujuan untuk mampu melaksa nakan program kerja yang ada. Menggunakan strateginya secara efektif dan efisien sehingga program kerja dalam Renstra yang dibuat dalam periode dua puluh tahun dapat selesai lebih cepat. Langkah yang akan diambil Ravik antara lain dalam hal keunggulan pendidikan, keunggulan riset, keunggulan dalam transfer dan pengembagan ilmu pengetahuan, keunggulan manajemen pengetahuan, keunggulan sumber daya manusia, keunggulan tata kelola, keunggulan manajemen mutu dan layanan, dan keunggulan internasionalisasi dan pencitraan publik.

Langkah konkrit dalam strategi Akselerasi ini salah satunya adalah de ngan meningkatkan jumlah profesor yang ada di UNS. Dari 1800 dosen di UNS saat ini, terdapat 280 profesor dan sebanyak 320 dosen yang sedang menempuh pendidikan profesor. Targetnya nanti, UNS dapat mencapai angka 600 profesor dalam masa kepemimpinan Ravik. Dalam hal riset, Ravik berusaha meningkatkan jumlah penelitian yang ada. Penelitian yang ada juga diharapkan tidak berhenti begitu saja, namun bisa ditindak lanjuti hingga mampu berkembang di masyarakat maupun industri. Hal lain misalnya dengan mempersingkat masa tunggu lulusan UNS dalam mendapatkan pekerjaan. Usaha ini pun ditempuh dengan dibuatnya program Career Development Center (CDC) di UNS.

Transformasi
Strategi kedua yang akan dilaksanakan Ravik adalah Transformasi. Strategi transformasi adalah sebagai proses berkelanjutan dalam pertumbuhan UNS mulai dari periode konsolidasi, periode kemandirian, periode percepatan, periode menuju internasionalisasi yang akan segera dilakukan.

Dalam strategi transformasi ini ditargetkan mencapai 85 kegiatan dan 195 sub kegiatan penting yang belum tercapai dalam Renstra, mencapai KPI, dan mencapai THES Asia maupun dunia. Beberapa langkah juga akan diambil Ravik, seperti mencapai University Good Corporate Governance dengan lebih mengoptimalkan peran senat sebagai lembaga normatif.

Selain itu, sejak UNS menjadi Badan Layanan Umum (BLU) yang berarti UNS mempunyai peluang otonomi tata kelola universitas, maka Ravik berusaha membuat manajemen yang efektif dan efisien.  Internasionalisasi juga akan diambil sebagai tindakan untuk membuat UNS mampu bersaing di tataran internasional. Ravik juga akan melakukan Benchmarking dengan perguruan tinggi ternama di luar negeri diantaranya Kasetsart University Thailand, Curtin University of Technology, Trobe University, University of New South Wales Australia, dan Politechnic University Hongkong. Walaupun universitas tersebut bukan yang pa  ling baik di dunia, paling tidak UNS punya target untuk menyamai atau mungkin menjadi lebih baik dari universitas-universitas tersebut.

Hal yang tak kalah penting dalam strategi transformasi adalah sertifikasi dan akreditasi sebagai peluang penjamin mutu. Misalnya, akreditasi untuk sembilan fakultas di UNS. Untuk program studi yang belum mendapatkan akreditasi A, akan dilakukan usaha bersama untuk mecapai akreditasi terbaik itudan bagi fakultas yang telah mendapatkan akreditasi A akan dilakukan usaha agar mampu mencapai kualitas internasional.

Revitalisasi
Revitalisasi sebagai strategi ketiga dimaksudkan dengan mengoptimalkan kapasitas sumber daya dan dana yang dimiliki UNS. Langkah ini ditempuh dengan memperbaiki sistem renumerasi yang produktif mempromosikan nilai tambah UNS, dan memperluas jangkauan dan sekala jejaring kerja untuk mewujudkan tujuan UNS dan mencapai kesejahte raan warga UNS.

Perkembangan langkah selanjutnya dalam strategi revitalisasi salah satunya dengan meningkatkan daya saing. Daya saing diperlukan untuk membuat branding UNS. Contoh konkritnya dapat dilihat bahwa sebenarnya beberapa prodi di UNS kualitas lulusannya tak kalah hebat dengan lulusan universitas ternama di Indonesia lainnya. Tapi masalahnya jika daya saing belum tercipta dengan baik, kualitas itupun akan menjadi terhambat untuk menghadapi tantangan dalam persaingan sekarang ini. Langkah selanjutnya adalah dengan mewujudkan kebanggaan, partisipasi, dan kesejahteraan warga kampus, dan mewujudkan UNS sebagai simpul jaringan emas perguruan tinggi negeri Jawa Tengah dan nasional.

Strategi merupakan rangkaian rencana yang nantinya akan dilakukan rektor beserta segenap jajaran civitas akademika UNS. Kesempatan masa jabatan Ravik Karsidi selama empat tahun kedepan barangkali merupakan waktu yang cukup jika dilakukan secara maksimal, atau menjadi waktu yang begitu singkat tanpa hasil dignifikan sesuai de ngan kebutuhan. Apa kebutuhan UNS saat ini? Bukankah universitas sebagai rumah ilmu harusnya bisa memberikan manfaat bagi semua, masyarakat universitas dan masyarakat luas.[] (Eri Dwi C, Dede Suprayitno)

Baca Juga

“Saya Mempersembahkan Hidup untuk Jiwa-jiwa di Api Penyucian”

  Oleh: Patricia Ferginia   Eksorsisme tidak hanya ada di film-film Hollywood. Seorang Romo yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *