> Puisi

Puisi

Januari, 2018

  • 15 Januari

    Preambul

    Preambul Β  Gugup berumah harap Menghirup kehampaan lalui jendela keasingan jelma kecipak ikan-ikan kecil nubuat bercik di pinggiran gelas kaca   di cawan setengah kasat mata itu puisi sebatang bunga pongah oleh derap nisbi prasangka yang ia kira sawah rumah bagi padi-padi yang mekar di kehidupan   berbenah atau sekadar …

November, 2017

  • 13 November

    Tuhan di Semangkuk Kwetiaw

    PUISI-PUISI RIZKA NUR LAILY MUALLIFA Β  Β    Tuhan di Semangkuk Kwetiau     Waktu sarapan diburu jam makan siang di sebuah warung di batas Mangkunegaran Aku tak menemu sengat sengit tatapan orang-orang memilih masyuk dengan menu-menu moyangya yang kata lidah Jawa: hemat rempah-rempah     Memang cuma aku yang …

September, 2017

  • 4 September

    Menjaga Nama Baik

    Berita Palsu Pagar-pagar rumah semakin tinggi. Menjadi pembatas antara diri sendiri dengan dunia luar yang tak pernah bisa terkendali. Namun mengenali dan mengendalikan orang lain bisa dilakukan melalui pesan-pesan instan dan berantai. Tanpa sua, jumpa, dan tanpa suara.   Berita-berita semakin beringas. Doa dirapal untuk meredam. Berendamlah dalam kubangan kata-kata. …

Juni, 2017

  • 23 Juni

    Ramadan

    Puisi-puisi Rizka Nurlaily Mualifa   Ramadan surau-surau penuh sesak oleh tilawah anak-anak dusun yang seperti tiada jengah berkumuh berkah solo, 2017     Di Rumah bapak ibu gelisah bila anak gadisnya urung membelah dhommah tanwin dan fathah solo, 2017     Kota sebagai anak gadis ibu bapak yang pungkasan aku …

  • 12 Juni

    Puisi-Puisi M. Lutfi dan Dimas Ridho W.S

    Di Mana Kau? Oleh : Muhammad Lutfi   Dimana kau ketenangan, Yang selalu hadir dalam gairah perjuangan Membakar emosi yang tak kunjung padam   Dimana kau keajaiban, Yang ada di saat detik-detik pengibaran Dari panji-panji kemerdekaan   Dimana kau air dan kesejukan, Yang membasuh jiwa dengan lembut Memadamkan setiap api …

Mei, 2017

  • 10 Mei

    Angkringan Surealis

    Kami sedang sedikit rehat Pada secangkir kopi hitam pekat Yang ditenggak, habis penat Dalam cepatnya waktu terlewat   Kami jelata kecil yang terhimpit Genggam elan walau sedikit Buang asa hanya ke langit-langit Agar esok kami tak lagi sempit   Kami sedang menimang nasib malang Pada sebatang rokok ampang Yang dihisap, …

April, 2017

  • 25 April

    Mendengar Kipas Angin

    Puisi-Puisi Eko Setyawan Mendengar Kipas Angin Aku tak pernah mengerti mengapa kipas angin itu terus berputar. Saling berkejaran dengan dirinya sendiri. Dan menimbulkan deru yang amat bising seperti ketika ibu memarahiku.   Kipas angin ialah ibu yang pernah melahirkanku. Mengejarku ketika aku tak mau mandi. Berlarian ketika aku sesenggukkan. Dan …