Ada delapan nama yang masih tinggal di ujung doa. lima pewarta dan tiga awak kapal. Entah di mana mereka kini berada. Entah apakah mereka masih sempat memandang langit, atau sekadar menyimpan rindu pada rumah dan orang-orang yang dicinta. Yang kita tahu, mereka pergi untuk membawa berita, namun waktu kehilangan cara untuk mengembalikan mereka.

Barangkali, Esok Mereka Pulang (Catatan oleh Pemimpin Umum LPM Kentingan UNS)

Ada delapan nama yang masih tinggal di ujung doa. lima pewarta dan tiga awak kapal.

Entah di mana mereka kini berada. Entah apakah mereka masih sempat memandang langit, atau sekadar menyimpan rindu pada rumah dan orang-orang yang dicinta. Yang kita tahu, mereka pergi untuk membawa berita, namun waktu kehilangan cara untuk mengembalikan mereka.

Mereka adalah pejuang informasi. Orang-orang yang teguh berjalan mendekati api dan mengabarkan kepada dunia tentang apa yang sedang terjadi. Mereka pergi membelah lautan menembus angin dan deburan ombak demi satu kebenaran dan informasi yang pasti. Namun, kali ini, tak ada kabar yang bisa mereka kirimkan, bahkan untuk diri mereka sendiri.

Pencarian telah dihentikan.

Kalimat itu terdengar begitu sederhana ketika dibaca. Hanya tiga kata yang selesai dalam sekali tarikan nafas. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang menunggu? Bagaimana dengan keluarga yang masih menyisakan tempat di meja makan? Bagaimana dengan ibu yang setiap kali mendengar suara kendaraan di depan rumah, diam-diam berharap seseorang datang membawa berita?

Barangkali, bagi sebagian orang, pencarian yang dihentikan adalah akhir dari sebuah ikhtiar yang telah dilakukan. Namun, bagi mereka yang kehilangan, bagaimana mungkin sesuatu bisa disebut selesai ketika nama mereka masih menggantung di udara, tanpa kepastian, tanpa salam perpisahan?

Aku membayangkan betapa sunyinya sebuah rumah ketika harapan tak lagi kembali. Betapa panjangnya malam ketika seseorang hanya bisa memandang langit untuk menunggu seseorang yang dicinta dan mendamba mereka untuk pulang, sementara dunia di luar sana terus berjalan seperti biasa. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap berangkat bekerja. Berita-berita baru terus ditulis, dibaca, lalu dilupakan.

Sementara itu, mereka belum pulang.

Semoga mereka masih bisa mendengar suara orang-orang yang menyebut nama mereka. Semoga masih ada jalan pulang kepada yang terkasih. Semoga di suatu tempat, dalam gelap yang tak kita ketahui, masih ada kesempatan bagi mereka untuk kembali.

Jika hari itu belum juga tiba, biarlah doa menjadi jalan yang tak pernah lelah kita tempuh. Kita titipkan nama-nama mereka kepada malam, kepada hujan, kepada langit dan luasnya samudera.

Sebab, ada rindu yang tak membutuhkan jawaban untuk tetap hidup. Ada harapan yang tak membutuhkan kepastian untuk tetap tumbuh.

Dan jika suatu hari nanti mereka benar-benar pulang, semoga rumah masih menyimpan hangatnya pelukan. Semoga ada cerita yang bisa mereka lanjutkan.

Untuk mereka yang belum pulang, semoga malam tak terlalu dingin, semoga jalan tak terlalu jauh. Dan jika esok belum menjadi hari pulang, semoga doa kita tetap sampai, semoga jalan kembali masih terbuka. Dan untuk mereka yang menunggu, semoga harapan tak pernah benar-benar padam.

Terima kasih atas semua dedikasi dan perjuangan kalian untuk kami yang selalu menunggu warta, nama dan karya kalian senantiasa abadi di semesta.

Namun, jika semesta berkehendak menunjukkan mukjizatnya. 

Barangkali, esok mereka pulang.