Meromantisasi Sibuk, Mengorbankan Hidup: Gen Z di Tengah Ilusi Toxic Productivity

Seiring maraknya penggunaan media sosial saat ini, kehidupan akademik seperti kurangnya jam tidur, jadwal kegiatan organisasi yang padat, serta tumpukan tugas sering kali dipamerkan dan dibanggakan seolah-olah menjadi sebuah medali kesuksesan. Fenomena ini berkembang di tengah tingginya penggunaan media sosial di Indonesia. Laporan Digital 2026 dari DataReportal mencatat terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025. Luasnya jangkauan media sosial membuat berbagai pencapaian individu semakin mudah terlihat dan menjadi bahan perbandingan sosial. Budaya kompetitif di era modern pun menuntut individu untuk selalu bergerak cepat, seolah berhenti sejenak adalah sebuah kesalahan fatal. Sayangnya, ambisi akademik yang sehat ini dapat bergeser menjadi toxic productivity, sebuah kondisi psikologis ketika seseorang merasa bersalah, cemas, dan tidak berguna apabila sedang beristirahat atau tidak melakukan aktivitas yang dianggapnya produktif.

Secara konseptual, terdapat garis pembatas yang jelas antara ambisi sehat dan toxic productivity. Ambisi sehat adalah keinginan untuk mencapai sebuah tujuan dengan tetap menghargai batas kemampuan fisik, kesehatan mental, serta meluangkan waktu untuk beristirahat secara seimbang. Sebaliknya, toxic productivity adalah obsesi yang tidak sehat untuk terus produktif setiap saat tanpa mengenal waktu, bahkan hingga mengorbankan kesehatan fisik dan mental. Obsesi inilah yang pada akhirnya berkontribusi besar terhadap kesehatan mental di usia produktif.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI, sekitar 17,6% pelajar dan mahasiswa mengalami gangguan mental ringan hingga sedang akibat tekanan akademis. Fakta ini diperkuat oleh data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, di mana sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia (34,9%) atau setara dengan 15,5 juta jiwa mengalami masalah kesehatan mental.­­­­­­­

Fenomena tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan berakar dari paparan digital di lingkungan sosial. Pada penelitian berjudul “Tren Toxic Productivity sebagai Gejala Terjadinya Burnout Syndrome terhadap Prestasi Akademik pada Remaja Rentang Usia 18–23 Tahun di Kota Bandung” yang diterbitkan dalam jurnal SOSMANIORA pada tahun 2023, Tsabita dan rekan-rekannya menguraikan bahwa ketakutan akan tertinggal dari pencapaian orang lain atau Fear of Missing Out (FOMO) berkaitan dengan paparan konten pencapaian orang lain di media sosial.

Platform digital sering kali menampilkan pencapaian seseorang tanpa memperlihatkan keseluruhan proses maupun kesulitan yang dihadapinya, sehingga dapat menciptakan ilusi bahwa kehidupan orang lain terlihat lebih sempurna daripada kenyataannya. Kondisi ini dapat memicu perbandingan sosial yang merugikan dan mendorong individu untuk menyamai, bahkan melampaui, pencapaian orang lain. Akibatnya, mahasiswa dapat memaksakan diri mengikuti berbagai kegiatan akademik atau organisasi secara bersamaan (over-scheduling) tanpa mempertimbangkan batas kemampuan diri. Hilangnya kendali atas diri untuk mengejar standar pencapaian tersebut pada akhirnya dapat membuat mahasiswa rela mengorbankan waktu istirahat dan jam tidurnya. Memaksakan tubuh untuk bekerja melampaui kemampuannya demi mengejar standar produktivitas tersebut justru dapat berdampak buruk pada proses belajar dan kemampuan kognitif.

Dalam penelitian Tsabita dan rekan-rekannya, tekanan untuk terus produktif berkaitan dengan stres dan kecemasan, kesulitan berkonsentrasi, serta berkurangnya kreativitas dalam menyelesaikan tugas. Temuan ini sejalan dengan penelitian tentang hubungan kualitas tidur dan konsentrasi pada mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Udayana. Dari penelitian tersebut, ditemukan adanya hubungan signifikan antara kualitas tidur dan daya konsentrasi. Hal ini menunjukkan bahwa mengorbankan waktu tidur demi menyelesaikan berbagai tuntutan bukanlah kebiasaan yang bisa dianggap remeh, sebab istirahat turut berperan dalam menjaga kemampuan mahasiswa untuk tetap fokus saat belajar.

Jika tekanan akademik berlangsung terus-menerus tanpa pengelolaan yang baik, kondisi ini dapat meningkatkan risiko academic burnout, yaitu kondisi kelelahan akibat tuntutan akademik yang dapat disertai sikap menjauh terhadap proses belajar dan perasaan tidak mampu memenuhi tuntutan akademik. Tekanan dalam jangka panjang akan mengakibatkan hilangnya motivasi dan minat untuk belajar pada mahasiswa, karena orientasi belajar perlahan bergeser dari keinginan untuk meraih prestasi dan memahami materi menjadi sekadar upaya menghindari rasa takut akan kegagalan. Pergeseran orientasi ini dapat berdampak pada kualitas proses belajar mahasiswa.

Terjebaknya mahasiswa Gen Z dalam siklus ini bukanlah murni kesalahan individu, melainkan juga berkaitan dengan tekanan sistem dan lingkungan sosial. Dalam wawancara singkat, seorang mahasiswa Program Studi Hukum menyoroti bahwa mahasiswa kerap meniru pola produktivitas orang lain tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan kondisi mental, tingkat kesibukan, dan latar belakang masing-masing. Menurutnya, persaingan yang ketat di tengah ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan turut membuat prestasi akademik, seperti meraih predikat cumlaude, aktif berorganisasi, dan memenangkan perlombaan, seolah-olah menjadi standar minimum (bare minimum) untuk meraih kesuksesan. Pandangan ini menunjukkan bahwa tekanan untuk terus berprestasi tidak hanya muncul dari tuntutan pribadi, tetapi juga terbentuk oleh ekspektasi sosial dan kekhawatiran terhadap masa depan.

Di sisi lain, algoritma media sosial dapat memperkuat tekanan tersebut dengan menampilkan gambaran produktivitas yang tidak realistis, seperti unggahan durasi belajar belasan jam. Paparan konten semacam ini dapat memicu FOMO dan mendorong mahasiswa membandingkan dirinya dengan orang lain, sehingga standar kesuksesan terasa semakin sulit dicapai. Tekanan tersebut juga berkaitan dengan lingkungan akademik yang kerap menempatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), kelulusan tepat waktu, dan luaran kuantitatif lainnya sebagai indikator keberhasilan mahasiswa. Akibatnya, pencapaian akademik berisiko dipandang bukan lagi sebagai nilai tambah, melainkan syarat untuk memperoleh pengakuan sosial. Tanpa disadari, tuntutan dari lingkungan pendidikan dan media sosial dapat membentuk mahasiswa layaknya “mesin pencetak prestasi” yang menormalisasi kuantitas pencapaian di atas kualitas proses belajar dan kesehatan mental.

Oleh karena itu, diperlukan redefinisi mengenai makna produktivitas itu sendiri. Waktu luang, tidur yang cukup, dan regenerasi energi bukanlah kegiatan yang sia-sia atau wujud dari kemalasan, melainkan bagian penting dari proses produktivitas jangka panjang. Untuk dapat bertahan dan berprestasi secara baik dan sehat, mahasiswa Gen Z membutuhkan kondisi fisik dan mental yang waras dan stabil. Memiliki ambisi untuk maju adalah hal yang sangat baik, namun dorongan tersebut wajib memiliki batasan yang sehat (healthy boundaries) dan ekspektasi yang masuk akal. Mahasiswa harus menyadari bahwa kegagalan dan istirahat merupakan sebuah bagian dalam proses mencapai tujuannya. Kesehatan bukanlah harga yang pantas untuk ditukar dengan sebuah luaran kuantitatif atau sekadar validasi produktivitas di mata orang lain. Pada akhirnya, pencapaian tertinggi manusia bukanlah seberapa sibuk, tetapi seberapa waras dalam bertahan hidup.

 

Penulis : Rafi Muhammad Farhad

Editor : Muthiara ‘Arsy