Momen Lebaran biasanya identik dengan kehangatan berkumpul dengan sanak saudara yang mungkin hanya bisa bertemu setahun sekali, juga saling memaafkan. Seharusnya, momen itu menjadi hari yang membahagiakan, tetapi ada hal yang bisa merusaknya, yaitu rentetan pertanyaan “horor” tahunan. Mulai dari “Kapan lulus?”, “Kapan kerja?”, hingga “Si A seumuran kamu udah punya pasangan, kamu kapan?”.
Bagi sebagian besar remaja dan dewasa muda, pertanyaan-pertanyaan seperti ini dirasa cukup mengganggu. Reaksi negatif ini sering kali dicap sebagai “baper” atau terlalu sensitif. Padahal, ada landasan psikologis mengapa pertanyaan “horor” tahunan ini bisa berubah menjadi sumber stres yang membunuh motivasi.
Fenomena ini dibedah melalui kacamata teori psikologi, bersama pandangan dari salah satu dosen psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., M.A. serta kisah nyata dari W, seorang mahasiswa yang merasakan langsung pahitnya ekspektasi keluarga.
Sudut Pandang Ahli
Menurut Fadjri Kirana Anggarani atau kerap disapa Kiki, tidak perlu terburu-buru menghakimi atau memberi label niat buruk ketika dihadapkan dengan pertanyaan ekspektasi sosial yang kerap diajukan oleh orang yang lebih tua. Hal ini perlu dilihat dari berbagai sisi, seperti penanya tidak menyadari dampak yang dapat ditimbulkan dari pertanyaannya karena tidak menyangka jika menjadi stresor tertentu bagi orang yang ditanyai. Barangkali orang tersebut ingin berniat baik dengan menunjukkan bentuk kepedulian.
“Adanya kita sebagai human being itu penting, kita tidak bisa serta-merta men-judge hal itu menimbulkan dampak negatif saja, bisa jadi positif,” tutur Kiki.
Adanya budaya kolektivisme yang berkembang di masyarakat membuat batas privasi seakan memudar. Namun, dugaan pergeseran budaya tersebut ke arah individualisme pada era Generasi Z dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman bagi kaum remaja hingga dewasa muda saat ini. Beberapa pihak keluarga mungkin merasa hak untuk terlibat dalam pengambilan keputusan di kehidupan seseorang karena mereka masih terbiasa dengan budaya kolektivisme. Sementara itu, pihak yang ditanyai mungkin cenderung merasa tidak nyaman karena berpikir bahwa pihak keluarga terlalu ikut campur.
Dari sisi psikologi perkembangan, ada pemahaman mengenai tugas perkembangan yang harus diselesaikan setiap individu seiring bertambahnya usia. Pihak keluarga yang cenderung merupakan kaum dewasa madya (40—60 tahun) akan mengajukan pertanyaan ekspektasi sosial untuk memenuhi salah satu tugas perkembangannya, yakni memberikan kontribusi pada generasi berikutnya. Bagi mereka, pertanyaan seperti itu dapat menjadi sebuah nasihat sebagai pengingat untuk generasi muda. Hal ini selaras dengan istilah generativity vs. stagnation, yaitu ketika individu berusaha menunjukkan kepedulian dan membantu orang lain, lalu merasa tidak produktif ketika gagal berkontribusi dalam hidup orang lain.
Membedah Masalah Lewat Self-Determination Theory (SDT)
Dalam Self Determination Theory, terdapat tiga kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan pertama adalah autonomy, yakni manusia membutuhkan perasaan memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Ketika seseorang merasa kebutuhan tersebut “direnggut,” maka salah satu kebutuhan dasarnya menjadi kosong. Contohnya adalah pengalaman W yang merasa dikekang dengan standar sosial keluarganya, seperti harus lulus 3,5 tahun. Akibatnya, ia merasa kewalahan dalam menjalankan temponya sendiri.
Lalu manusia memiliki kebutuhan untuk merasa mampu dan kompeten (competence). Perasaan ini bisa terganggu dengan adanya berbagai hal, misalnya dibandingkan-bandingkan. W merasa hancur karena dibandingkan dengan sepupunya yang lulus lebih cepat dan memiliki pencapaian yang dinilai lebih dari dirinya. Akibatnya, W merasa insecure, meragukan diri sendiri, dan selalu merasa kurang dalam setiap pencapaiannya.
Manusia juga membutuhkan perasaan terhubung, hangat, dan diterima oleh lingkungannya, atau disebut dengan relatedness. Ketika seseorang tidak bisa memenuhi ekspektasi dari lingkungannya, maka ia akan merasa tidak diterima di lingkungan tersebut. Pada kasus W, perlakuan dari keluarga besarnya membuat ia merasa diasingkan, alih-alih diterima. Akibatnya, ia bereaksi menghindar, mengurung diri di kamar, dan memendam kekesalan terhadap mereka.
Efek Domino: Ketika Motivasi Berubah Wujud
Terganggunya Autonomy, Competence, dan Relatedness akan berdampak pada pergeseran motivasi seseorang, dengan penjelasan sebagai berikut:
- Terjebak Motivasi Ekstrinsik: tekanan sosial memaksa seseorang bergerak bukan karena keinginan pribadi, melainkan untuk menghindari hukuman atau mencari pengakuan. W mengakui bahwa ada kalanya ia mengejar nilai hanya agar tidak merasa malu saat diinterogasi keluarga pada Lebaran.
- Jatuh ke Jurang Amotivasi: jika tekanan terlalu berat, seseorang bisa menyerah sepenuhnya. W pernah berada di titik ia merasa down, menjadi malas dan tidak mau melakukan apa-apa karena merasa usahanya akan selalu kurang di mata keluarga.
- Motivasi Intrinsik yang Padam: jika keluarga tidak ikut campur secara berlebihan, motivasi dari dalam diri W sebenarnya sangat sehat. Ia menuturkan bahwa tanpa tekanan keluarga, ia ingin menjalani kuliah sesuai dengan pace-nya sendiri, menikmati proses tanpa harus buru-buru.
Solusi
Bagi orang yang sering menghadapi pertanyaan seperti kapan lulus atau kerja pada hari raya, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan manajemen diri dan membangun motivasi internal. Social expectation dari keluarga adalah hal yang sulit dihindari karena sudah menjadi budaya kolektivistik di masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, seseorang perlu untuk tidak selalu memaknai pertanyaan tersebut sebagai tekanan yang harus segera dipenuhi dan menempatkan tujuan akademik atau karier sebagai pilihan berdasarkan kesiapan pribadi.
Setiap individu perlu memperkuat rasa kompetensi diri dengan berfokus pada proses perkembangan diri, bukan pada perbandingan dengan orang lain. Pengalaman dibanding-bandingkan dengan sepupu atau kerabat lain dapat menyebabkan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Padahal, setiap individu mempunyai ritme hidup yang berbeda. Dengan menyadari hal tersebut, seseorang bisa lebih menerima proses yang sedang dilalui dan tetap menjaga kepercayaan diri. Pada saat yang sama, penting juga untuk tetap menjaga rasa terhubung dan diterima dalam keluarga dengan tidak selalu memaknai pertanyaan tersebut sebagai penilaian negatif.
Selain itu, keluarga berperan penting dalam membentuk komunikasi yang lebih sehat. Pertanyaan mengenai pendidikan, pekerjaan, atau rencana hidup sering kali dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian, tetapi cara penyampaian yang menuntut atau membanding-bandingkan bisa menyebabkan tekanan bagi generasi muda. Oleh karena itu, keluarga perlu meningkatkan kesadaran sosial dan memahami bahwa setiap individu memiliki proses dan pilihan hidup yang berbeda. Kepedulian bisa disampaikan melalui dukungan yang lebih empati dengan memberi ruang berproses serta menghindari perbandingan yang tidak perlu agar hubungan keluarga tetap hangat dan suportif.
Kesimpulan
Kebahagiaan sejati dapat diperoleh saat kebutuhan autonomy, competence, dan relatedness terpenuhi dengan baik. Kebahagiaan akan timbul dari dalam diri sendiri, bukan atas dasar pemenuhan ekspektasi keluarga atau orang lain. Setiap orang memiliki ritme hidup masing-masing yang dapat diatur sendiri cepat-lambatnya. Maka dari itu, momen Lebaran nanti dapat memaafkan ketidaknyamanan tersebut untuk kembali fokus pada sumber kebahagiaan yang ada di dalam diri sendiri.
Penulis : Jelita Sekar Nirwana, Zulfi Khoirunisa, dan Wantech Arofiq Huda Firdausyi
Editor : Muthiara ‘Arsy

