Sudah kali ke-36 Kelompok Kerja Teater Tesa memberikan ruang bagi potensi jati diri dalam latihan alamnya atau yang mereka sebut sebagai LATAL. Peringatan XXXVI kali ini, teater yang cukup ternama terkhususnya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret itu, mempersembahkan pentas pasca LATAL pada 10 Januari 2026 lalu.
“Prolog” tajuknya, mereka menyebut sebagai sebuah permulaan lembar baru dari periode yang sudah teregenerasi itu. Prolog mempertontonkan sebuah kisah tentang anak manusia, takdir, hingga misterinya. Sebuah kisah karya sutradara Try bernama “Cinderella” dan sutradara Nopal bernama “Sukma”, dua penyatuan dalam panggung “Prolog” di Sanggar Teater Tesa FIB UNS.
Cinderella
Teater Tesa dalam adaptasinya berjudul “Cinderella” dari dongeng klasik Eropa dengan judul yang sama yaitu Cinderella merelevansikannya dengan realitas masa kini. Cinderella dalam pementasan ini, menceritakan kisah tentang Cindy, seorang mahasiswa yang terikat oleh sepasang sepatu yang mengikatnya dalam takdir.
Adegan itu dimulai dari Cindy merasa stres dengan tugas kuliah yang menumpuk, hingga ia mendapat sebuah telepon dari tantenya yang mengabarkan bahwa kedua orang tuanya telah mengalami kecelakaan. Namun, Cindy tampak diikat oleh dua makhluk tak kasat mata dengan sepasang sepatu yang merupakan takdirnya kelak.
Sepatu itu tak mau melepaskan diri dari kaki Cindy. Ia pasrah dan menjalani kehidupan yang mengikatnya dalam roda takdir. Adik perempuan Cindy, Bella dan Riri, menokohkan karakter yang kontras. Bella hidupnya berandalan sementara Riri manja dan penuh kasih.
Cindy terpaksa putus kuliah dan memilih untuk langsung bekerja untuk menghidupi kebutuhan. Adegan tampak baik-baik saja hingga kedua adiknya bertengkar karena permasalahan bahwa Cindy harusnya menikah atau tidak.
Bella berpendapat bahwa Cindy harus menikah dengan pria kaya supaya bisa menghidupi kebutuhan mereka bertiga, sedangkan Riri menolak kakaknya untuk menikah karena takut akan ditinggalkan. Konflik tersebut memuncak hingga Cindy yang mendengarnya pun kesal dan tak sengaja menampar Riri.
Adegan tak terduga Bella mengungkapkan bahwa ia ternyata sudah hamil oleh pacar tongkrongannya.
Sepatu yang menjadi unsur penting dalam teater ini dapat dimaknai sebagai simbol identitas dari karya asli Cinderella dan dalam teater ini, tetapi memiliki akhir dan takdir yang berbeda dalam tokoh utamanya.
“Cinderella” bukan sekadar panggung tak bermakna, melainkan karya sastra yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan secara subtil. Kisah ini mengajak penonton untuk melihat bahwa tak segala hal harus berakhir dengan baik, tetapi penonton dapat memaknai sendiri bagaimanakah akhir dari kisah tersebut sesuai dengan persepsi masing-masing, karena adegan ditutup dengan Cindy yang bermain dengan pusaran roda takdir.
Sukma
Teater Tesa menampilkan “Sukma”, nama yang cukup kontras dari judul pertama. Alkisah gadis bernama Sukma dihantui oleh bayang-bayang orang yang ia kenal, menghantui pikirannya. Ia menatap siluetnya di cermin dan berkata bahwa ia adalah gadis tercantik yang tak ada siapapun dapat menandinginya.
Misteri. Sukma memeluk dan menenangkan teman dekatnya yang bernama Kasih, seorang gadis yang tumbuh besar di bawah kekerasan ayahnya. Hal itu membuatnya kacau hingga ia selalu mengonsumsi obat-obatan.
Sukma adalah satu-satunya penolong dalam hidupnya. Ia percaya akan rahasia kehidupan suramnya. Namun, adegan penyulut konflik datang ketika Sukma menyebarkan misteri Kasih.
Kasih merasa dikhianati karena satu-satunya orang yang ia percayakan untuk menyimpan rahasianya dengan mudah menyebarkannya ke orang yang bahkan tak ia kenal. Pertunjukan diakhiri dengan Sukma menari-nari dalam gelap, memakai baju putih mengkilap yang menggantungkan hidupnya pada sebuah tali putih bersih di langit-langit.
Kisah Sukma dan Kasih dalam pertunjukkan merupakan sindiran halus akan rumitnya hubungan antar manusia. Penilaian seseorang akan berbanding terbalik dengan yang lainnya. Dalam pertunjukkan, terbesit bahwa Sukma sebenarnya memiliki niat baik akan cerita masa lalu Kasih, ia yakin bahwa dengan menceritakan masa lalunya akan membuat Kasih tidak selalu merasa sendiri dalam hidup yang sayangnya tidak ditanggapi baik oleh kasih.
Pentas pasca LATAL Teater Tesa mengangkat tema segar akan rumitnya definisi sebuah hubungan. Dengan akhir yang menggantung, pertunjukan ini membawa perspektif baru dalam memandang kehidupan dan segala kerumitan di dalamnya.
Penulis: Alya Wulan Ramadhani dan Dzakwan Putra Andrava
Fotografer: Alya Wulan Ramadhani
Editor: Tiara Nur A’isah

