Judul: Karmila (1974)
Durasi: 151 menit
Adaptasi: Novel “Karmila” karya Marga T
Sutradara: Ami Prijono
Tokoh: Karmila (Muriani Budiman) dan Faisal (Awang Darmawan)
Film “Karmila” punya alur yang mudah sekali ditebak. Lagi-lagi cinta jadi landasan penerimaan, hegemoni paling manjur sejagat perlawanan kaum marginal, nrimo ing pandum. Film ini dibangun dengan sorotan pada momen-momen kunci yang menentukan.
Bermula ketika Karmila mengandung karena diperkosa oleh Faisal.
Semua makin rusak sejak kesadaran Faisal akan tindakan brengsek yang dilakukannya kepada Karmila, memantik hatinya bertanggung jawab, dengan apa? Menikahi Karmila. Dimensi emosional gonjang-ganjing terasa nyata tiap Karmila menolak untuk memberi ruang pada dirinya sebagai tempat penebusan dosa Faisal hingga kesadaran resistensi sebagai perempuan suci ternodai.
Film ini membawa pembaca pada garis yang cukup jelas sebab alurnya maju: waktu sebagai wujud pemulihan, hal ini muncul ketika Karmila sepakat dinikahi Faisal, meski hitam di atas putih dan penolakan Karmila masih berlanjut, tetapi intensitas hidup seatap menjadi kunci Karmila dibuat berangsur melunak sampai ia punya anak.
Hal itu semakin kuat ketika Karmila melahirkan anaknya, Vanny. Vanny menjadi kunci alur selanjutnya, relasi antara ibu dan anak secara lahiriah dan batiniah. Meski konfliknya pada ketidaksudian Karmila menerima anaknya, klimaks tercapai ketika anaknya sakit, menjadi akumulasi naluri keibuan yang memuncak, Karmila menyerah pada dirinya sendiri. Resolusi hadir melalui narasi religius yang dalam film ini menjadi opium bagi Karmila, sebagai jawaban, dan penerimaan diri akan takdirnya, menutup perjalanan alur dengan penekanan pada harapan dan rekonsiliasi.
Analisis karakter pada tokoh utamanya cukup menarik. Upaya pertanggungjawaban Faisal kepada Karmila menjadi titik balik Karmila bertransformasi dari rapuh, bertahan, hingga penerimaan. Karmila dalam resistensinya adalah representasi perempuan berdaya. Wujud itu muncul dalam tindakan-tindakannya yang mencoba bertahan dari tekanan yang ada, ia bahkan berani melisankan rasa muak akan takdir yang menerpanya: membenci hingga mengumpat Faisal, yang mungkin jika diselaraskan pada era itu, adalah tindakan yang cukup berani sebab domestifikasi tampak pada karakter Faisal. Setan, brengsek, sialan, iyuh najis!
Dalam ceritanya, Faisal dibuat sebagai sosok penyelamat, bertanggung jawab, dan berbudi luhur, khas sekali dengan batas-batas timpang antara laki-laki dan perempuan. Bahkan, meski dalam tindakannya Faisal menyesal dengan mencoba menikahi Karmila, tetapi karakternya justru menginvasi resistensi Karmila habis-habisan.
Lihat saja pada adegan ketika Faisal melanggengkan proses menikahi Karmila, ia bahkan mengatakan, “Saya datang kemari dengan hati yang bersih dan pasrah, Nona. Sebaliknya, Nona terlalu angkuh, keras kepala, bisa jadi tidak punya perasaan. Nona memang seorang yang egois,” hingga “Berilah kesempatan untuk memperbaiki hidup saya, Nona,” ucap Faisal. Ini membuktikan bahwa Faisal nirempati dan tidak memposisikan dirinya sebagai Karmila. Ia memvalidasi stigma ketidaksetaraan gender yang hingga titik paling menerimanya laki-laki, tetaplah mendominasi melalui ketidaksadarannya.
Dewasa ini, dengan banyak kesadaran akan kesetaraan gender, tentu karakter Faisal dianggap red flag. Kembali ke Karmila, ia menjadi representasi marginalitas sebagai perempuan, yang mana harus tunduk, terdominasi, bahkan mengalah pada seburuk-buruknya takdir. Yang cukup menarik adalah bagaimana extras dalam film ini memvalidasi bahwa Faisal itu benar, dan resistensi Karmila itu salah. Hal ini muncul pada tokoh-tokoh seperti Ayah Faisal dan Bibi Karmila.
Keduanya menjadi representasi bagaimana masyarakat maklum dan setuju dengan tindakan Faisal, hingga menekan Karmila. Adegan itu muncul ketika Ayah Faisal yang justru meminta maaf pada Karmila, atas dasar mempertahankan posisinya sebagai sosok tersorot dan berkuasa, alih-alih memikirkan kondisi Karmila. Tekanan muncul juga dari bibinya, yang mengatakan, “Berlakulah seperti gadis-gadis baik, sakit hati itu perlu tapi tidak boleh berlebihan.” Pelabelan gadis baik seperti menjadi standar era itu, bagaimana tindakan resistensi Karmila adalah hal yang irasional.
Karmila dibuat menjadi tidak berdaya bahkan melalui narasi agama yang juga melegitimasi tindakan asusila pelaku dengan hanya meminta Karmila untuk memberi pemaafan, seolah Karmila tak diberi ruang sedikit pun, hanya sebagai sosok yang harus pasrah akan konstruksi lingkungannya. Akhirnya, cinta diunggulkan, sebagai jawaban atas konflik berkepanjangan antara keduanya, Karmila dibuat menerima melalui hubungan ibu dan anak, Faisal dibuat mencintai setulus-tulusnya.
Kredo saya, tindakan Karmila dalam resistensinya adalah seagung-agungnya di era itu, ketika society legit pada pemerkosa hingga perlawanan jadi isu yang irasional. Hidup Karmila. Cintai dirimu sendiri.
Penulis: Tiara Nur A’isah
Editor: Dea Asmara Wardana Putri


