Sego pecel kantin Mbok Jum memang sempurna dan saya rela mempromosikannya terus agar seluruh mahasiswa UNS (Universitas Sebelas Maret) tau betapa enaknya!
Siapa di sini mahasiswa UNS yang masih belum tau legendarisnya kantin Mbok Jum. Mungkin mahasiswa semester awal belum banyak yang tahu apalagi karena lokasinya dulu hidden gem di pinggiran FIB (Fakultas Ilmu Budaya). Eh, jangan salah, kantin Mbok Jum masih selalu ramai meski lokasinya sekarang sudah dipindah dan lebih hidden lagi, kalau nggak notice-notice amat dan niat mencari.
Dulu, kantin Mbok Jum berada di samping Taman Dewa Ruci FIB, tapi karena digusur untuk pembangunan gedung baru FIB, lokasinya berpindah ke sisi sebelah Selatan Kansas a.k.a Kantin Sastra. Tepatnya di pinggir jalan FT (Fakultas Teknik) yang jika dari arah Rektorat tinggal belok kiri. Wujud bangunannya memang tidak terlalu kelihatan, tertutup pohon besar yang teduh juga deretan mobil yang sering parkir di sepanjang jalan. Jangan lupa juga kalau kantinnya di atas, jadi kamu harus sedikit menanjak untuk menjangkaunya.
Sambal Pecelnya yang Sempurna
Terhitung sudah lebih dari tujuh kali berturut-turut penulis membeli menu sego pecel di Kantin Mbok Jum untuk makan saat di kampus. Entah resep macam apa yang dimiliki untuk membuat sambal pecelnya yang sempurna, sebab feeling setelah memakannya konsisten lebih dari rasanya yang memang enak. Sempurna!
Bayangkan, penulis membeli sego pecel yang isinya sangat simpel sebenarnya, hanya rebusan bayam dan rebusan toge yang dituang sambal pecel di atasnya. Namun perpaduan tekstur dan rasa yang menjadi satu itu yang melekat di hati penulis, dari bayam yang lembut bertemu renyahnya toge rebus yang krenyes-krenyes dipadukan dengan bumbu kacang yang masih sedikit kasar dan tidak terlalu lembut, dengan rasa pedas, manis, dan gurih yang seimbang dengan aroma kencur dan jeruk.
Terus, yang bikin gong lagi karena penulis selalu menambah lauk bandeng goreng bagian kepala yang garing, gurih, empuk dan yang terpenting: sensasi tulang kering dan bagian kepala kering yang ada selaput-selaput gurih dari bumbunya. Cetas! Enak banget, sumpah!
Bapak Ibu Kantin Mbok Jum yang Selalu Hangat
Mungkin kantin Mbok Jum bisa bertahan selama ini, juga karena karakter penjualnya atau biasa penulis sebut Mbok Jum—walaupun ada seorang Bapak penjual juga—yang manis dan hangat menyambut pembeli. Di sini, ada beberapa rewang ibu-ibu yang melayani hingga me-refill sayur dan lauk, karena memang dapurnya juga di sampingnya. Mereka selalu memanggil penuh kasih dengan panggilan “sayang” seperti: mau makan apa, sayang? Habis dari mana, sayang? Ini enak lho sayang. Penulis dengan hati yang mudah meleleh tentu seperti dipuk-puk dan merasa kembali ke tempat pulang yang nyaman dan tenang.
Bapak-Ibu di Kantin Mbok Jum mayoritas sudah berumur, tetapi ada juga mbak-mbak yang beberapa kali tampak hadir, mungkin pegawai baru, tapi pelayanannya sama. Semuanya dengan wajah penuh senyum dan menanti kedatangan pembeli.
Jika kamu berencana mencoba makan di Kantin Mbok Jum, saat mau membayar baik cash maupun Qris, berbaikhatilah untuk memastikan apakah harganya sudah sesuai. Sebab sudah dua kali terhitung, Ibu penjual kadang lupa dan harganya jadi lebih murah. Jangan menipu, ya!
Tempatnya kini tampak lebih kecil dari yang sebelumnya, tetapi vibes teduhnya tetap terjaga, spot paling nyaman adalah meja di bagian depan yang menghadap jalanan. Kamu bisa menikmati sepoi angin dan pepohonan.
Pilihlah jam-jam yang kira-kira sepi jika kamu ingin makan di tempat, karena tiap harinya ketika jam makan siang, kantin Mbok Jum dikerumuni bapak-bapak sivitas akademika dan mahasiswa laki-laki yang memenuhi kursi.
Penulis mulai menghayati Kantin Mbok Jum, khususnya menu sego pecel dan lauk kepala pindang dengan menikmati dan menyadari tiap suapan legit hingga hangatnya pelayanan yang tiada berubah sejak dulu.
Penulis : Tiara Nur A’isah
Editor : Muthiara ‘Arsy

