Dua orang dari massa aksi memegang poster ‘Keadilan untuk Rakyat, Adili Para Keparat’ dalam Aksi ‘Slamet Riyadi Memanggil’ di Jalan Gatot Subroto, Solo, pada Rabu (28/10/2026). LPM Kentingan/Edi

Massa Membesar, Warga Turut Padati Aksi ‘Slamet Riyadi Memanggil’

SOLO — Seruan “Revolusi!” menggema di tengah aksi demonstrasi yang diadakan oleh aliansi mahasiswa Solo Raya di kawasan Jalan Gatot Subroto, Solo, Rabu (28/10/2026). Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, aksi kali ini diikuti massa yang lebih banyak dibandingkan aksi pada 22 Oktober lalu.

Massa yang hadir merupakan gabungan mahasiswa lintas kampus seperti UNS, UNISRI, UNSA, ISI, dan UTP, serta elemen masyarakat umum. Jalannya aksi dipimpin oleh Presiden BEM UNISRI, Daffa Adnanabin, selaku Koordinator Umum dan Presiden BEM UNS, Muhammad Kailani Rizqi Pratama, sebagai Koordinator Lapangan. Massa mulai berkumpul sejak pukul 16.00 dan melanjutkan aksi hingga pukul 19.00 WIB di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.

Tanpa Almamater, Warga Turut Berorasi

Sebagian besar massa tidak mengenakan jas almamater kampus. Mahasiswa dan masyarakat tampak berbaur dalam barisan aksi Slamet Riyadi Memanggil. Warga tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi turut mengambil bagian dengan penyampaian aspirasi melalui orasi.

“Geregetan ya, demo udah berjilid-jilid tapi pemerintah belum ada tanggapan apa pun. Kesannya kaya kita bukan lagi negara demokrasi. Polisi juga terlihat seperti kaki tangan pemerintah, bukan lagi melayani masyarakat,” ungkap Andrea sebagai warga sekitar, Rabu (28/10/2026).

Pernyataan Andrea menunjukkan kekecewaan yang ia rasakan terhadap respons pemerintah dan peran kepolisian. Kehadiran warga yang turut berorasi menjadi salah satu penanda bahwa peserta aksi kali ini tidak terbatas pada kalangan mahasiswa saja.

Ekspresi masyarakat terhadap ketidakpuasan kinerja pemerintah juga terlihat dari gestur three finger salute atau salam tiga jari yang ditunjukkan di tengah aksi. Gestur tersebut diartikan sebagai simbol solidaritas, perlawanan terhadap penindasan, dan dukungan kebebasan demokrasi. Sebagian warga pun turut menunjukkan dukungannya dalam aksi melalui pembagiaan roti dan air mineral.

Konsisten Suarakan 7 Tuntutan Isu Nasional

Tuntutan yang diserukan persisten dengan tuntutan aksi sebelumnya, yakni Aksi Evaluasi Dua Tahun Arah Kepemimpinan Prabowo-Gibran pada tanggal 22 Oktober 2026. Daffa Adnanabin selaku Presiden BEM UNISRI sekaligus Koordinator Umum, menegaskan bahwa konsistensi ini disebabkan oleh belum adanya penyelesaian dari pemerintah terhadap isu-isu nasional.

“Kajian kita hari ini masih tetap konsisten, bahwasannya isu nasional hari ini belum bisa teratasi,” tegas Daffa.

Daffa turut merinci ketujuh tuntutan tersebut yang mencakup penetapan Karhutla sebagai bencana nasional, penerbitan Perpres UMP guru honorer, efisiensi anggaran MBG dan KDMP, stabilisasi nilai rupiah, audit transparan DTKS serta pemulihan korban desil, penghentian eksploitasi alam, hingga jaminan ruang sipil bebas dari kekerasan aparat.

Aksi Meredam, Diwarnai Pembakaran Ban Pasca-Pembubaran

Rangkaian acara utama selesai dan massa mulai membubarkan diri secara tertib sekitar pukul 19.00 WIB. Namun, pasca-pembubaran, sebagian massa kembali berkumpul di perempatan Jalan Gatsu dan melakukan aksi pembakaran ban di tengah jalan. Kendati demikian, aksi tersebut tidak berlangsung lama, dan situasi di lokasi tetap aman.

Reporter: Dzakiya, Kartika, Rohman, Nisa, Wantech, Alya, Salma, Erli, Oce, Tiara, Dzakwan, Naira

Fotografer: Edi, Faiz

Editor : Muthiara ‘Arsy