Pembukaan Kembali Perpustakaan Reksa Pustaka pada Kamis (5/2/2026) yang berlangsung di Dalem Prangwedanan, Pura Mangkunegaran. (Sumber: Humas Mangkunegaran)

Mangkunegara IV: Pria Solo yang Gemar Membaca hingga Lahirnya Reksa Pustaka

Berada di relokasi Reksa Pustaka, sisi Timur Ndalem Prangwedanan pada Kamis, 5 Februari 2026 kemarin, saya melihat langsung bagaimana Reksa Pustaka bersalin rupa. Wajah barunya yang lebih inklusif, bukan hanya perihal cat atau tata ruang, Mangkunegara X atau Gusti Bhre tampak membawa literasi keluar dari sekat sakral keraton. Aksesnya mulai pukul 10.00—12.00 WIB dan 13.00 —15.00 WIB setiap Senin hingga Sabtu.

Bertahannya Reksa Pustaka hingga kini tak luput dari akar sejarah yang kuat dan terawat. Upaya Mangkunegaran menuju “culture future” tak lepas dari pemrakarsa Reksa Pustaka, sosok yang gemar membaca dan menjadi ningrat Jawa terkaya abad ke-19.

Sosok Mangkunegara IV yang Menuai Pujian

Sosok Mangkunegara IV atau nama kecilnya Raden Mas Sudira. (Sumber: Leiden University)

Sosok Mangkunegara IV atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV sering disebut dalam banyak literatur terkait masa keberhasilannya sebagai penguasa modernis yang punya bisnis gula dan properti.

Membaca perjalanan hidup Mangkunegara IV dalam buku “Konsep Sentral Kepengarangan KGPAA Mangkunegara IV” tampaknya begitu langgeng. Ia tak tersendat seperti generasi dewasa ini yang terhimpit realitas lapangan pekerjaan hingga kapitalisnya gaya hidup di jalanan Slamet Riyadi, Solo.

Mangkunegara IV atau nama kecilnya Raden Mas Sudira adalah putra Pangeran Hadiwijaya I yang menikah dengan putri Mangkunegara II, kemudian diangkat menjadi putra oleh Mangkunegara III. Sejak muda, Mangkunegara IV punya banyak kelebihan, pengangkatannya sebagai prajurit Legiun Mangkunegara salah satunya.

Kepangkatannya menanjak ketika merangkap Mahapatih sampai pada masa Mangkunegara III mangkat. Takhta Mangkunegara IV dimulai pada 16 Agustus 1857 dengan bukti kepuasan panen pujian salah satunya diangkat menjadi ajudan luar biasa Raja Willem III dari kerajaan Belanda pada 21 Juli 1866 dengan anugerah Nederlandsche leeuw Kroon dan Fransch Yoseph dari Ootenrijk.

Latar Intelektualitasnya

Pasukan Legiun Mangkunegaran Pelatihan Baris-berbaris di Pamedan Mangkunegaran sekitar tahun 1922–1925. (Sumber: KITLV)

Umumnya seorang ningrat pada masa penjajahan Belanda, banyak putra raja yang melanjutkan pendidikan ke Belanda. Bukti Mangkunegara IV mendapat pendidikan ala ningrat adalah sekolah Kadet Legiun Mangkunegaran dan berpangkat Kapten. Meski belum ada Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan formal, Mangkunegara IV mendapat pendidikan privat selayaknya seorang ningrat.

Penerus Tradisi Pujangga Jawa

Mangkunegara IV punya daya cipta yang tinggi sebagai pujangga, falsafahnya mengakar kuat, tumbuh berdampingan dengan pujangga besar R.Ng. Ronggowarsito. Kepiawaiannya dalam kepengarangan menggubah karya sastra monumental seperti Serat Tripama, Wedhatama, Salokatama, hingga Darmawasita.

Buku Serat Wedhatama terbitan Jakarta: Pradnya Paramita. (Sumber: mangkunegaran.id)

Berikut nukilan tembang Sinom bait I dari Serat Wedhatama:

I. Nulada laku utama/ tumraping wong tanah Jawi/ Wong agung ing Ngeksiganda/ Panembahan Senapati/ kapati amarsudi/ Budane hawa Ian nepsu/ pinesu tapa brata/ tanapi ing siyang ratri/ amamangun karyenak tyasing sasama//

Artinya:

I. Contohlah laku utama, bagi orang-orang di tanah Jawa. Penguasa di tanah Mataram, (yaitu) Panembahan Sonapati yang berusaha sungguh-sungguh mengurangi hawa nafsu, ditekan dengan tapa brata, tiada henti siang dan malam. Berusaha agar mengenakkan hati sesama manusia.

Reksa Pustaka: Awal Inklusi Literasi di Mangkunegara

Ruangan Perpustakaan Reksa Pustaka. (Sumber: https://reksopustokolibrary.wordpress.com/)

Mengutip dari situs Rekso Pustoko Library, lahirnya Reksa Pustaka pada mulanya bukan sebagai perpustakaan. Tugasnya sejak 11 Agustus 1867 adalah mengurusi serat-serat dan juga buku koleksi Mangkunegara IV. Pada 1877, dibentuklah Reksa Wilapa yang hanya mengurus surat-surat sementara Reksa Pustaka fokus pada buku dan menjadi perpustakaan.

Keberadaan 28.000 koleksi di Reksa Pustaka kini seolah jadi tamparan bagi narasi pemimpin zaman sekarang yang (katanya) jarang membaca. Bagi Mangkunegara IV, menjadi ‘Pria Solo’ yang berkuasa berarti harus berdaulat secara pikir, sebuah standar literasi yang kini coba dihidupkan kembali di tengah hiruk-pikuk modernitas Kota Solo.

 

Penulis : Tiara Nur A’isah

Editor : Muthiara ‘Arsy