Gedung Perpustakaan UNS. Foto: PPKN FKIP UNS
Gedung Perpustakaan UNS. Foto: PPKN FKIP UNS

Turnitin Gratis di Perpustakaan UNS: Peluang yang Jarang Dimanfaatkan Mahasiswa

Layanan Turnitin pertama kali diperkenalkan di Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai bagian dari upaya kampus untuk mendukung integritas akademik mahasiswa dan dosen. Awalnya, akses Turnitin dikelola oleh Unit Layanan Teknologi Informasi, dengan fokus utama pada pemeriksaan plagiarisme untuk tugas akhir seperti skripsi dan tesis. Sejak itu, penggunaannya terus berkembang, hingga pada tahun 2021 resmi menjadi bagian dari fasilitas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan UNS untuk memudahkan akses bagi seluruh civitas akademika.

Pengguna lebih banyak dari kalangan mahasiswa semester atas yang menggunakan untuk keperluan penulisan skripsi, pengguna teratas juga didominasi oleh mahasiswa pascasarjana yang memerlukan tesis dalam penyelesaian tugas.

Mahasiswa baru juga ikut memanfaatkan layanan Turnitin untuk sekadar mencoba layanan yang disediakan UPT Perpustakaan UNS. Menurut Dzakwan Putra Andrava, salah seorang mahasiswa Keperawatan Anestesiologi UNS berpendapat mengenai kemudahan layanan Turnitin, “Sangat mudah diakses, tinggal isi form dan kirim lewat email,” ucapnya saat diwawancarai pada Kamis (12/03/2026).

Layanan Turnitin pun ikut disebarluaskan melalui media sosial perpustakaan UNS. Menurut Nayla Richty, salah seorang mahasiswa Ekonomi Pembangunan UNS ketika ditanyai (12/03/2026) mengenai sumber informasi Turnitin, “Tau dari Instagram Perpustakaan UNS dan baru sekali memakainya.”

Penjelasan mengenai Turnitin ikut dijelaskan oleh pihak perpustakaan dalam sebuah wawancara online pada Sabtu (11/04/2026). Sri Utari selaku Seksi Pelayanan Pemustaka menyampaikan bahwa berdasarkan data yang menunjukkan penggunaan jumlah penggunaan Turnitin oleh mahasiswa selama setahun terakhir, yaitu sebanyak 2.629 mahasiswa untuk sarana keperluan tugas. Data tersebut adalah data terakhir pada tanggal 10 April 2026 oleh administrator turnitin UNS. Ketika ditanya mengenai promosi layanan Turnitin, Utari menyampaikan, “Melalui kegiatan literasi series, user education, dan promosi medsos (media sosial) @unslibrary.”

Walaupun layanan Turnitin telah berusaha dipromosikan, terdapat halangan berupa masih sedikitnya jumlah mahasiswa yang memanfaatkan layanan Turnitin. Beberapa mahasiswa belum familiar dengan layanan tersebut dan belum mengetahui fungsinya. Mengenai halangan ini, Utari kembali menyampaikan penyebab minimnya pemanfaatan layanan turnitin, “Kepedulian dan perhatian terhadap informasi yang diberikan oleh perpustakaan kepada seluruh mahasiswa. Misalnya, tidak semua mahasiswa mau mengikuti medsos perpustakaan, sehingga info-info yang ada di perpustakaan tidak terbaca.” Namun, hal ini tidak berarti layanan Turnitin tidak produktif dalam pemanfaatannya. Layanan ini terbukti membantu banyak mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir. Selaras dengan jawaban Utari mengenai mahasiswa yang memanfaatkan layanan Turnitin, “Paling banyak, yaitu mahasiswa yang akan submit jurnal, mengerjakan proposal, dan laporan tugas akhir.

Secara keseluruhan, layanan Turnitin di UNS telah terbukti efektif dalam mendukung penulisan akademik, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir dan pascasarjana, dengan 2.629 pengguna dalam setahun terakhir. Meski promosi melalui media sosial dan literasi series cukup optimal, tantangan utama tetap pada kurangnya kesadaran mahasiswa yang rendah terhadap keterlibatan pada informasi perpustakaan. Untuk mengatasinya, UNS perlu memperluas strategi sosialisasi, seperti integrasi langsung ke kurikulum orientasi mahasiswa atau kolaborasi dengan fakultas, agar manfaat Turnitin dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh sivitas akademika.

 

Penulis: Muhammad Aufa Alaudin, Maria Daniella Putri Nugroho, Usna Ullysabin Rahmadhani

Editor: Muthiara ‘Arsy