Bulan Februari 2026 diwarnai oleh sejumlah peristiwa besar yang menyita perhatian publik. Mulai dari Indonesia menjadi Runner Up Futsal AFC 2026, dipublish-nya Epstein File, hingga konflik antara Netizen ASEAN (SEAblings) dan Korea Selatan (Knetz). Beragam dinamika tersebut menjadi sorotan di berbagai ruang publik, baik nasional maupun daerah. Berikut rangkuman isu-isu yang mencuat sepanjang Februari 2026:
1. Nyaris Ukir Sejarah, Timnas Futsal Indonesia Terhenti di Adu Penalti
Langkah Indonesia di Piala Asian Football Confederation (AFC) 2026 berhenti sebagai runner-up usai kalah dramatis dari Iran lewat adu penalti.

Mampukah timnas sepak bola kita mengikuti lonjakan prestasi futsalnya?
2. Ketika Akses Pendidikan Terasa Lebih Mahal dari Nyawa
Seorang siswa SD di NTT ditemukan tak bernyawa, diduga karena ibunya tak mampu membeli buku dan pena.

Sejauh mana negara hadir ketika pendidikan masih menjadi kebutuhan yang tak terjangkau?
3. Epstein Files: Labirin Fakta di Balik Jutaan Lembar Bukti Kasus Tercela
Department of Justice (DOJ) merilis jutaan dokumen kasus Jeffrey Epstein, memicu sorotan atas jejaring relasi dan nama-nama besar dunia yang tercatat di dalamnya.

Apakah publikasi ini menjadi titik terang, atau justru membuka babak spekulasi baru?
4. IHSG Anjlok, Pejabat Otoritas Keuangan Kompak Undur Diri
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok setelah peringatan Morgan Stanley Capital International terkait transparansi pasar modal Indonesia, 4 Pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengundurkan diri.
Mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban atau lari dari kewajiban?
5. Diskusi di Meja Makan hingga Sikap Balik Badan Ormas Islam terhadap BOP
Awalnya menolak, sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam berubah sikap terhadap keanggotaan Indonesia di BOP setelah bertemu presiden, pemerintah juga siapkan lahan untuk ormas.

Apakah perubahan sikap dan penyiapan lahan sekadar kebetulan?
6. Usai Surati UNICEF dan Kritik MBG, Presiden BEM UGM Terima Serangan Teror
Presiden BEM UGM diteror setelah mengkritik tragedi anak di NTT dan kebijakan pemerintah lewat surat terbuka kepada UNICEF.

Apa arti kebebasan berpendapat dalam demokrasi jika kritik terhadap kebijakan publik justru berujung teror?
7. SEAblings vs Knetz: Ketegangan Antara Warganet ASEAN dan Korea Selatan
Berawal dari sindiran di media sosial soal etiket konser, ketegangan antara netizen Korea Selatan dan Asia Tenggara makin memanas hingga menyeret isu rasisme.

Apakah konflik ini akan mereda, atau justru meluas dan menyeret lebih banyak pihak?
8. Oknum Brimob Aniaya Pelajar 14 Tahun hingga Tewas
Seorang remaja 14 tahun di Tual, Maluku, tewas setelah diduga dianiaya Anggota Brigade Mobil (Brimob) dengan pukulan helm saat patroli, memicu kecaman dan proses hukum terhadap pelaku.

Berapa banyak korban yang harus jatuh lagi akibat tindakan kekerasan aparat?
9. Gentengisasi: Strategi Nasional atau Simbol Feodalisme Modern?
Presiden Prabowo mengumumkan program “gentengisasi” untuk mengganti seluruh atap seng di Indonesia dengan genteng tanah liat demi estetika.

Haruskah kebijakan estetika seperti gentengisasi harus diprioritaskan di saat banyak masalah sosial yang lebih mendesak?
10. Cukup Aku yang WNI: Krisis Kepercayaan Terhadap Ekosistem SDM Nasional
Pernyataan alumnus LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, soal kewarganegaraan anaknya memicu polemik publik, muncul pertanyaan tentang sejauh mana negara menyediakan ruang dan jaminan karir bagi SDM unggul.

Ketika talenta terbaik ragu pada sistemnya sendiri, siapakah yang sepantasnya berbenah?
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Februari 2026 menjadi bulan yang penuh dinamika, sekaligus mencerminkan berbagai tantangan dan arah perkembangan yang akan dihadapi Indonesia ke depan.
Penulis: M. Nur Rohman

