Site icon Saluran Sebelas

Malam Apresiasi Sastra: Saat Sastra dan Panggung Keresahan Mulai Bersuara

Penampilan dari angkatan 2025 yang mengangkat kisah Marsinah pada acara Malam Apresiasi Sastra pada Sabtu (25/05/2026) di Auditorium SMK Negeri 8 Surakarta. Foto: Dokumen Panitia Malapsas

Malam itu tampak hidup dengan lampu panggung yang menyoroti berbagai pertunjukan seni yang silih berganti. Auditorium Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 8 Surakarta penuh dengan riuhnya tepuk tangan penonton, yang terpukau pada setiap pertunjukkan. Momen pada malam itu terbingkai dalam sebuah acara bernama Malam Apresiasi Sastra yang akrab dikenal dengan sebutan Malapsas. Kegiatan tersebut merupakan agenda seremonial yang diadakan oleh Himpunan Keluarga Besar Mahasiswa Sastra Indonesia setiap satu tahun sekali. 

Malapsas tahun ini diadakan pada Sabtu, 25 April dengan mengangkat tema “Sastra Suara Kita” sebagai bentuk dari representasi usaha-usaha mahasiswa untuk menyuarakan isu-isu dan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sosial. Tema itu tak terlepas dari keinginan inisiator untuk menjadikan Malapsas sebagai ‘suara isu sosial’, sebagaimana yang dikatakan oleh Nafa, Koordinator Malapsas 2026, “Inisiator Malapsas tahun ini membuat konsep Malapsas sebagai wadah mahasiswa Sastra Indonesia untuk menyuarakan isu-isu atau masalah-masalah yang ada saat ini,” ujarnya saat diwawancarai pada Sabtu (25/04/2026). Pertunjukan malam itu menghadirkan kisah-kisah tentang ketidakadilan, perjuangan, dan suara yang terabaikan, dibawakan secara epik bukan sekadar hiburan, melainkan untuk menggugah kesadaran dan emosi. 

Kasus Sum Kuning

Penampilan Peri Sandi pada acara Malam Apresiasi Sastra pada Sabtu (25/05/2026) di Auditorium SMK Negeri 8 Surakarta. Foto: Dokumen Panitia Malapsas

Kasus Sum Kuning, salah satu kasus pemerkosaan paling kontroversial pada tahun 1970 yang melibatkan orang-orang besar sebagai pelaku utamanya. Penyelesaian kasus ini tak pernah mendapat ujung dan pada akhirnya melebur ditelan zaman. Peri Sandi membuka kembali luka lama ketertindasan seorang perempuan dari kaum bawah melalui puisi. Dia menyebut bahwa puisi yang dibawakan menjadi pesan bagi dirinya sebagai seorang laki-laki yang masih sering termakan oleh hawa nafsu.

Marsinah dan Suara Buruh yang Tak Padam

Penampilan angkatan 2025 menghadirkan kisah Marsinah, seorang buruh perempuan dari Sidoarjo yang berjuang di tengah kerasnya realitas sosial. Sosoknya merepresentasikan masyarakat bawah yang kerap dianggap marginal dan tidak memiliki ruang untuk melawan. Dalam pertunjukan tersebut, Marsinah digambarkan berada dalam tekanan kekuasaan yang menindas, dipaksa tunduk demi bertahan hidup hingga harus mengorbankan harga diri. Pilihan yang tersisa pun terasa sempit antara diam dalam ketidakadilan atau menghadapi risiko yang lebih besar. Kisah ini menegaskan bagaimana kekuasaan dapat merenggut kemanusiaan dan membungkam suara yang seharusnya diperjuangkan.

Firdaus Wujud Perempuan yang Melawan

Penampilan angkatan 2024 yang mengangkat kisah Firdaus dalam novel ‘Perempuan di Titik Nol’ pada acara Malam Apresiasi Sastra pada Sabtu (25/05/2026) di Auditorium SMK Negeri 8 Surakarta. Foto: Dokumen Panitia Malapsas

Perempuan hanya menjadi mesin penghasil anak, tanpa penghormatan sebagai manusia: tubuhnya dijual, hatinya disayat, dan kebebasannya dicabut. Luka-luka itu menjelma dalam sosok Firdaus yang diperankan di atas panggung oleh Ika Puri Hafifah.  Pada saat memerankan tokoh tersebut, Ika berusaha menjiwai karakter dengan memahami latar belakang Firdaus, tokoh dalam novel “Perempuan di Titik Nol” yang penuh kekerasan dan penindasan. 

“Aku berusaha menjiwai dengan memahami latar belakang Firdaus. Di dalam buku, Firdaus mengalami kekerasan dari ayah, dijual ke laki-laki, lalu menikah dengan suami yang menindasnya. Pada monolog, ceritanya diolah lagi dengan aku membunuh suami karena suami membunuh anakku. Itu sebenarnya tidak ada di buku, tapi ditambahkan oleh penulis dan sutradara agar lebih dramatis,” ujarnya.

Ika menjalani latihan selama tujuh hari, dengan pendalaman emosi yang telah dimulai sejak awal. Meski dihadapkan pada waktu latihan yang terbatas serta kondisi fisik yang lelah, ia tetap tampil total di atas panggung.

“Latihan emosinya dilakukan sejak beberapa hari sebelum tampil. Kendalanya, waktu latihan mepet dan aku harus bolak-balik Boyolali–Solo. Jadi badan terasa cape, tapi aku tetap berusaha menjiwai karakter Firdaus,” lanjutnya.

Lebih dari sekadar tampil di atas panggung, Ika memandang malam itu sebagai ruang ekspresi sekaligus pembuktian bahwa sastra dapat hadir dalam berbagai bentuk. 

“Kegiatan apresiasi karya seperti ini bisa terus berlanjut dan berkembang. Tahun depan semoga ada pertunjukan yang lebih ‘wah’ dan memberi pelajaran hidup. Aku ingin orang-orang tahu bahwa sastra bukan hanya puisi atau pidato indah, tapi juga bisa hadir dalam bentuk drama, film, atau monolog. Malam ini bukan sekadar pertunjukan, tapi juga wadah untuk mengekspresikan diri,” jelasnya. 

Sisa-Sisa yang Tak Diadili

Penampilan angkatan 2023 melalui penampilan “Sisa-Sisa yang Tak Diadili” menghadirkan kisah yang menyoroti pengaruh kekuatan kapital terhadap kehidupan individu. Pada pertunjukan ini, tokoh Agnes dan Bayu digambarkan sama-sama berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Namun, perbedaan latar belakang intelektual membuat Agnes mampu mengendalikan situasi, bahkan memanfaatkan keadaan dengan menjebak Bayu demi kepentingannya sendiri.

Di samping itu, pertunjukan ini juga menyinggung persoalan hukum yang kerap tidak berpihak pada kebenaran. Sosok yang tidak bersalah justru harus menanggung konsekuensi atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Hal ini memperlihatkan ironi dalam sistem yang seharusnya menegakkan keadilan. Dari sudut pandang tokoh lain, tekanan ekonomi turut menjadi beban yang harus ditanggung. Sebagai istri Bayu, wanita itu digambarkan berada dalam posisi terdesak, harus menghadapi kenyataan pahit dan menanggung konsekuensi dari apa yang ditinggalkan suaminya. Konflik tersebut memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi dan ketidakadilan dapat saling berkelindan dalam kehidupan.

Ketika Pendidikan Kehilangan Makna

Penampilan angkatan 2022 yang mengangkat isu pendidikan pada acara Malam Apresiasi Sastra pada Sabtu (25/05/2026) di Auditorium SMK Negeri 8 Surakarta. Foto: Dokumen Panitia Malapsas

Angkatan 2022 menghadirkan keresahan melalui sebuah pertunjukan yang mengangkat realitas pendidikan secara kritis. Penampilan ini menggambarkan bagaimana pendidikan kerap bergeser dari makna utamanya, bukan lagi sebagai fondasi pembentukan cara berpikir, melainkan sekadar alat untuk memenuhi tuntutan formalitas. Di dalam alurnya, ditampilkan kondisi ketika nilai-nilai pendidikan dipersempit menjadi angka, ijazah, dan pengakuan semata, sementara esensi pembelajaran justru terabaikan. Narasi yang dibangun memperlihatkan bagaimana suara-suara yang mempertanyakan kondisi tersebut sering kali tenggelam, seakan tidak didengar. Melalui kisah yang reflektif, pertunjukan ini mengajak penonton untuk melihat kembali posisi pendidikan dalam kehidupan. 

Kompas Harapan Malam Apresiasi Sastra dan Daya Tarik Tersendiri

Melihat antusiasme dan potensi yang ada, Hanifullah Syukri, Ketua Program Studi Sastra Indonesia, menilai kegiatan ini dapat berkembang lebih jauh jika dikelola secara profesional. “Sebenarnya ke depannya kalau bisa lebih ‘diprofesionalisasi’ ini bagus sekali. Hal ini bisa menjadi salah satu magnet Sasindo (Sastra Indonesia) untuk pendaftaran selanjutnya. Jadi tidak hanya berhenti di sini, tapi direkam dan didokumentasikan dengan baik,” ujarnya saat diwawancarai pada Sabtu (25/04/2026). Menurutnya, pengelolaan yang berkelanjutan juga dapat menjadikan kegiatan ini sebagai daya tarik bagi masyarakat luas.

Sejumlah harapan turut disampaikan oleh panitia dan penonton terhadap keberlanjutan Malam Apresiasi Sastra. “Harapannya semoga ini terus berjalan dan menjadi program kerja tahunan yang bisa ditunggu-tunggu oleh banyak orang, sekaligus menjadi sarana mahasiswa Sastra Indonesia untuk berkarya dan menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi manfaat,” kata Nafa, Koordinator Acara Malapsas 2026.

Harapan serupa datang dari Afra, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2022, yang menginginkan peningkatan kualitas di setiap pelaksanaannya. “Semoga Malapsas untuk ke depannya selalu bisa menampilkan yang terbaik dari setiap angkatannya. Terus, acaranya juga selalu sukses dan bisa lebih ditingkatkan lagi. Apabila ada kekurangan, maka bisa diperbaiki,” ujarnya. 

Alan, mahasiswa angkatan 2024, berharap kegiatan ini terus berlanjut dan semakin berkesan. “Harapannya semoga Malapsas ini bakal terus ada, apalagi kan sudah berlanjut dari tahun ke tahun, semoga lebih baik. Semoga lebih berkesan buat mahasiswa-mahasiswa baru, apalagi yang baru join di Sastra Indonesia dan baru pertama kali pentas di seni pertunjukan dan ditonton banyak orang,” ujarnya.

 

Penulis : Reva Marantika dan Naira Parahita Nastiti

Editor : Dea Asmara Wardana Putri

 

Exit mobile version