Site icon Saluran Sebelas

Ada Makna di Balik Juang Mahasiswa UNS Bangun Sini Dimsum

Nirisa Afni Naila Muazara (kiri) bersama partner bisnisnya menunjukkan produk Sini Dimsum di stand Z-Corner, Universitas Sebelas Maret pada Kamis (18/12/2025). LPM Kentingan/Zulfi Khoirunisa

Nirisa Afni Naila Muazara (kiri) bersama partner bisnisnya menunjukkan produk Sini Dimsum di stand Z-Corner, Universitas Sebelas Maret pada Kamis (18/12/2025). LPM Kentingan/Zulfi Khoirunisa

 

Ketika matahari membenamkan sinarnya dan sebagian mahasiswa mulai menutup lembaran hari, Nirisa Afni Naila Muazara masih berjibaku di balik stand dimsum di Z-Corner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Universitas Sebelas Maret (UNS). Meski tangannya sibuk membereskan printilan hari itu, pikirannya sudah melayang ke tugas kuliah yang sudah menunggunya untuk disapa. Bagi mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2024 di UNS ini, harinya terasa tidak pernah selesai begitu saja.

Menjalani Dua Peran Sekaligus

Sejak meluncurkan usaha Sini Dimsum bersama rekannya, hidup Nirisa berubah menjadi rangkaian aktivitas tanpa jeda. Pagi hari digunakan untuk kuliah, siang sampai sore hari dihabiskan untuk berjualan, dan malam hari dipersembahkan untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Selain itu, dia masih aktif dalam organisasi, kegiatan kepanitiaan, bahkan lomba.

“Kita bagi shift sama Mbak Sila (rekan usahanya). Jadi, Mbak Sila yang pagi, aku yang siang. Habis kuliah langsung ke Z-Corner untuk buka sampai jam lima. Benar-benar stand bersih itu (waktu) maghrib. Terus, habis itu mengerjakan tugas kuliah atau mengerjakan beberapa jobdesk di kepanitiaan dan organisasi,” ujarnya melalui wawancara pada Rabu (29/04/2026).

Kesempatan yang Menjadi Awal Usaha

Bisnisnya tidak sepenuhnya berasal dari rencana pribadi. Semua bermula ketika dia dan rekannya mendapatkan kesempatan untuk berjualan di Z-Corner disertai dengan dukungan modal yang tersedia, walau Nirisa sempat mempertanyakan kemampuan dirinya. Sebab dia mesti menyeimbangkan antara kuliah dan usahanya. Apalagi, usaha tersebut harus terus berjalan selama weekday.

“Alasan kuatnya karena kita memang udah dapet slot untuk buka di Z-Corner dan dapat modal. Jadi, kalau ditanya apakah ini keinginanku sendiri untuk buka usaha, bisa dikatakan enggak,” ucap Nirisa.

Dimsum dipilih bukan tanpa alasan. Tren makanan di kalangan mahasiswa dan lokasi yang berada di lingkungan kampus menjadikannya sebagai pilihan yang potensial. Nirisa menyatakan, “Sebenarnya alasannya karena dimsum ini juga lagi trend ya, di kalangan para mahasiswa khususnya. Terus kita juga buka di sekitar kampus, dan targetnya kan memang mahasiswa, jadi dimsum punya potensi gitu.”

Ketika Semuanya Terasa Berat

Kelelahan menjadi makanan sehari-hari bagi Nirisa. Dia harus terus memilih mana hal yang menjadi prioritas di antara tugas kuliah atau pesanan pelanggan. “Sering banget merasa capek, karena mesti fokus ke mana dulu. Cuman ya mesti bisa mengatur skala prioritas dengan melihat deadline yang paling dekat, maka itu yang dikerjakan dulu,” ujarnya.

Tantangannya bukan hanya soal waktu, melainkan juga tuntutan kreativitas dari dua peran sekaligus. Dia dituntut menghasilkan ide-ide kreatif di perkuliahannya, sekaligus dia bertanggung jawab dalam mengelola marketing dan publikasi di bisnisnya. “Nah, itu jujur kadang burnout banget karena harus bikin sesuatu yang out of the box. Itu jadi tantangan terbesar,” ujarnya.

Ada juga momen ketika semua hal datang secara bersamaan, seperti ujian, lomba, dan ramainya pembeli. Kondisi semacam itu kerap kali membuatnya stres. Namun, dia memutuskan untuk tetap bertahan. “Minggu kemarin, sejujurnya aku stres banget karena ada lomba, UTS (Ujian Tengah Semester), terus aku masih harus jualan. Karena aku tipe orang yang pengin coba banyak hal dan nggak mau kecewa karena melewatkan kesempatan itu, maka tetap aku lakukan,” ujarnya.

Belajar dari Kekacauan Waktu

Menyadari kesibukannya yang tidak menentu, Nirisa mulai belajar mengelola waktunya. Biasanya, dia menggunakan teknik time blocking dengan membagi waktu untuk aktivitasnya dalam durasi-durasi tertentu. “Biasanya aku mengatur waktu pakai teknik time blocking, dengan mengatur per jamnya dan durasinya berapa,”katanya.

Meski begitu, rencananya tidak selalu berjalan dengan mulus. Kegiatan yang direncanakan akan selesai dalam waktu dua jam, terkadang memakan waktu hingga lima jam. Hal-hal yang sudah direncanakan sering kali meleset.

Dari situlah dia mulai belajar tentang ritme yang dia miliki bahwa mengatur waktu bukan tentang membuat planning yang sempurna, melainkan tentang beradaptasi dengan realitas. Meski time management-nya belum sempurna, dia merasa kemampuannya dalam mengatur waktu sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. “Dari situ, aku jadi tahu kalau harus meluangkan waktu lebih. Alhamdulillah-nya udah better banget. Sekarang, aku sudah bisa mengatur waktu dengan lebih baik, meski kadang mepet deadline,” kata Nirisa.

Harga yang Harus Dibayar

Di balik itu semua, ada hal-hal yang harus dikorbankan, seperti waktu istirahat yang berkurang. Malam hari yang seharusnya menjadi waktunya beristirahat, sering kali berubah menjadi waktu mengejar deadline tugas. “Paling waktu istirahat, sih, kayak malam aku yang harusnya tidur, tapi malah harus mengerjakan tugas,” kata Nirisa.

Bisnisnya memang tidak mengganggu performa kuliahnya, tetapi interaksi dengan teman-teman sekelasnya sudah tidak sebanyak dulu. Nirisa menyatakan, “Kalau kuliah sama sekali nggak terganggu. Paling pertemanan ke teman-teman DKV (Desain Komunikasi dan Visual) bisa dikatakan kurang karena kan selesai kelas aku langsung jaga stand.”

Makna di Balik Perjalanan

Bagi Nirisa, pengalamannya bukan hanya soal menjalankan bisnis, tetapi juga tentang belajar memahami diri sendiri. Dia menjadi lebih disiplin, lebih sadar akan waktu, dan menghargai setiap proses yang dijalaninya.

“Salah satunya manajemen waktu karena tidak dipungkiri sibuknya maasyaallah. Jadi, lebih aware dengan apa yang menjadi tugasku. Ternyata mengerjakan tugas yang sesuai timeline itu sangat baik daripada menunda-nunda. Selain belajar jiwa bisnis yang baik, jadi lebih menghargai waktu juga,” kata Nirisa.

Ketika ditanya tentang pesan untuk mahasiswa lain yang ingin kuliah sambil berbisnis, dia menyampaikan, “Gaspol aja! Selagi ada kesempatan, apapun itu, gaspol aja. Aku yakin satu hal, apa yang menjadi takdirmu tidak akan melewatkanmu. Apa pun yang kamu inginkan pasti akan datang ke kamu pada saat kamu sudah layak mendapatkannya.”

Penulis : Zulfi Khoirunisa

Editor : Muthiara ‘Arsy

 

Exit mobile version