Site icon Saluran Sebelas

Teater Tesa Buka Tahun 2026 Lewat Pementasan ‘PROLOG’

Di tengah rintik gerimis pada Sabtu (10/01/2026) malam, Kelompok Kerja Teater Tesa sukses mementaskan Pentas Pasca Latal bertajuk “PROLOG” di Sanggar Teater, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sebelas Maret (UNS). Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dengan fokus seni teater di lingkungan FIB tersebut sudah dikenal aktif mementaskan berbagai judul garapan sejak pertama kali didirikan pada 1987. Dalam kesempatannya kali ini, Teater Tesa menyambut tahun 2026 dengan serangkaian penampilan pembacaan puisi yang dilanjutkan dengan pementasan dari dua naskah lakon, yaitu “Cinderela” dan “Sukma”.

Pentas Pasca Latal merupakan bagian dari rangkaian pelatihan anggota baru dalam program Latihan Alam (Latal) yang telah berlangsung sejak November tahun lalu. Pentas ini menjadi bentuk implementasi hasil pelatihan yang sebelumnya sudah didapat, baik dalam pemanggungan, produksi, hingga ke dalam bentuk pertunjukan. Berbagai proses mulai dari naskah, sutradara, aktor, hingga teknis sepenuhnya digarap bersama oleh anggota baru.

Keputusan menyelenggarakan Pentas Pasca Latal berangkat dari pengalaman periode sebelumnya, yakni anggota baru tidak melewati praktik pengenalan teater lewat Pentas Pasca Latal. Tidak adanya kegiatan lanjutan setelah berbagai pelatihan awal membuat Teater Tesa sempat mengalami masa kekosongan kegiatan. Sebagai upaya hal tersebut tidak terulang dan dengan keyakinan dari Teater Tesa bahwa teater hidup hanya melalui proses, tahun ini pentas kembali diadakan untuk menjaga keberlanjutan semangat anggota baru dan memberi mereka ruang berkarya.

Rangkaian pementasan “PROLOG” dimulai dengan pembacaan puisi berjudul “Akar Pohon Meranti”, yang terinspirasi dari bencana yang terjadi di Sumatra. Puisi ini berkisah tentang alam dan kehilangan. Penonton dibawa untuk menyelami bait demi bait puisi yang dibawakan secara epik oleh ketiga penampil sebagai pembuka sebelum menikmati sajian utama.

Memasuki lakon pertama, Teater Tesa menampilkan “Cinderela” yang ditampilkan oleh para pengurus aktif dari Teater Tesa, di bawah arahan Try sebagai sutradara dan penulis naskah. Penonton diajak oleh ketiga aktor untuk dapat mengikuti perjalanan Cindy, tokoh utama, dalam menghadapi takdir yang mendadak datang dan mengubah hidupnya. Dengan menyelipkan konflik-konflik ringan dalam keluarga serta sejumlah komedi di dalamnya, “Cinderela” menjadi pengantar yang menarik bagi penampilan berikutnya.

Lakon kedua, “Sukma”, dibuka dengan iringan gitar yang menegangkan dan teriakan dari tokoh utamanya. Lakon ini diproduksi sepenuhnya oleh angkatan baru. Pementasan ini mengisahkan seorang people pleaser yang terjebak dalam tragedi dan rasa bersalah dari niat baiknya sendiri. Dengan garapan yang gelap oleh sutradara, Naufal, dua monolog panjang dan adegan penutup berupa permainan dari sang aktor terhadap kain-kain yang menjuntai di panggung menghadirkan efek ngeri, sekaligus menutup “PROLOG” dengan kesan mendalam bagi penonton.

Setelah seluruh rangkaian pementasan selesai, sebagian penonton dan perwakilan berbagai teater kampus di Surakarta dan sekitarnya duduk melingkar di atas panggung untuk melakukan diskusi sebagai bentuk apresiasi dan evaluasi penampilan yang telah dilakukan. Salah satu pegiat teater di Solo sekaligus alumni dari Teater Tesa sendiri, Budi Bodhot Riyanto menutup diskusi dengan sebuah pesan untuk seluruh peserta diskusi.

“Selamat untuk anggota baru Tesa berhasil mementaskan pertunjukan yang sangat menarik, walau masih banyak detail yang harus dieksplorasi. Kedepannya untuk mengawali proses, penting dilakukan latihan rutin sebagai bagian dari komitmen dalam berteater. Tidak hanya Teater Tesa, tapi juga teater kampus lainnya, mengingat teater kampus masih menjadi salah satu ujung tombak kesenian yang aktif hingga sekarang,” ujarnya.

Melalui pementasan “PROLOG”, Teater Tesa ingin menunjukkan bahwa teater adalah tempat menemukan keyakinan dan kebahagiaan. Sejalan dengan tagline “di titik mula inilah, kisah-kisah menemukan takdirnya”, pementasan ini diharapkan membantu anggota baru untuk mengenali potensi diri, menjelajahi emosi, dan membangun kebersamaan. “PROLOG” menjadi langkah awal untuk memahami dunia teater sekaligus ruang bagi setiap individunya untuk menemukan arah, memahami peran, dan menumbuhkan kisah melalui pengalaman berteater.

Penulis : Ega Yonsu Al-Fauzia dan Tim Kelompok Kerja Teater Tesa

Fotografer : Tim Kelompok Kerja Teater Tesa

Editor : Muthiara ‘Arsy

Exit mobile version