Udara yang menyusup tulang,
Dingin tak tertahankan malam itu,
Cahaya putih memantul pada dinding-dinding sunyi,
Juru bicara akhirat memutar kata di atas mimbar,
“Menikah itu ibadah, penyempurna agama,”
Lantas kenapa dia berkilah?
Tuturnya mengucap lagi,
“Suami itu ibarat penggembala, gembalaannya adalah anak dan istri,”
Lantas kenapa dia berselingkuh?
“Tidak, dia tidak selingkuh,”
Ucap wanita dengan segenggam luka,
Setelah berbulir air mata jatuh
Setelah teriakan sunyi terdengar
Setelahnya dia tidak pernah mendengar kata maaf
Masihkah ia menyanjungnya sambil merangkai umpatan batin?
Sekarang, katakan padaku
Siapa yang gila di sini,
Aku yang mendengar ini?
Atau dunia yang berpura-pura adil
Katakan padaku,
Jika perlu, tampar aku
Ajari aku, bagaimana caraku percaya
Pada kisah retak yang tetap dipuja
Jika yang disebut wanita kuat
Adalah yang memikul laranya sendiri,
Yang merawat aib dengan doa,
Sementara laki-laki yang disanjung
Adalah ia yang menggenggam tangan lain,
Saat wanita itu berdoa.
Penulis: Izzahtu Nuha Z.
Editor: Rizky Azzahra Amallia

