Diburu-buru pulang karena terbentur aturan jam malam kampus, hingga bayang-bayang derap sepatu satpam yang siap mengusir, rasanya sudah terlalu biasa. Namun, bagaimana kalau yang memburu-buru kepulangan itu justru sesuatu yang tak kasat mata?
Selayaknya hari-hari biasa, sekre selalu menjadi tempat singgah. Ruang sekretariat, atau yang lebih akrab kami sebut “sekre”, adalah ruangan yang tak terlalu besar. Cukup sesak terisi barang-barang inventaris, tetapi masih menyisakan secuil sudut untuk saling bertegur sapa. Tak kenal hari masuk atau libur, sekre tetap jadi jujugan (tempat yang sering dikunjungi).
Hari itu, saya sengaja datang ke kampus hanya untuk mencari Wi-Fi di sekre. Sejak siang hingga sore, sekre kedatangan tiga orang. Namun, dua di antaranya harus pulang lebih dulu, mengejar matahari yang sebentar lagi tenggelam.
Sekre kami bukan bangunan yang berdiri sendiri, melainkan berada di dalam gedung bernama Graha Ormawa 2. Gedung tiga lantai ini dihuni sekre-sekre dari berbagai unit kegiatan mahasiswa (UKM) atau organisasi mahasiswa lainnya. Posisinya ada di belakang Porsima (Pusat Organisasi Mahasiswa), sebuah kumpulan sekre UKM dan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) tingkat universitas di UNS (Universitas Sebelas Maret). Walau jaraknya hanya beberapa meter, perbedaannya sangat kentara. Pepohonan yang rimbun, lampu-lampu yang mati, dan beberapa tumpukan barang besar di sudutnya membuat gedung ini tampak kumuh, gelap, dan sunyi saat dimasuki. Sekre kami ada di lantai dua, ujung koridor sebelah kiri, sehingga dapat keistimewaan berupa balkon. Dari sana, perubahan langit dari terang ke gelap akan sangat terlihat.
Tak terasa malam sudah tiba dan saya masih belum terpikir untuk pergi. Biasanya, saya beranjak ketika jam malam UNS mulai berlaku, aturan yang membuat saya lesu sebagai mahasiswa. Saat sekre menjadi satu-satunya tempat untuk lembur, pukul sebelas malam jadi batas waktu yang tak bisa ditawar. Nantinya, akan ada rombongan satpam yang meminta untuk meninggalkan gedung, dengan alasan sudah terlalu larut untuk berkumpul di kampus.
Waktu masih menunjukkan pukul tujuh. Masih ada cukup waktu sebelum giliran satpam datang. Dengan ditemani laptop dan kabel charger, saya sudah lupa waktu. Dengan suasana yang cukup hening, saya memutar lagu dari laptop sembari mengerjakan beberapa hal yang butuh internet. Di samping, ada kipas angin ukuran sedang yang menyala sejak tadi. Rambut yang cukup panjang saya biarkan terurai. Begitupun, saya meletakkan jedai di dekat kipas itu, di meja yang sama dengan laptop.
Tak ada yang terasa janggal. Sendiri di sekre sudah bukan hal asing. Satu, dua lagu sudah berhasil mengusir keheningan dan saya mulai bernyanyi pelan. Masih sibuk berkutat dengan laptop sehingga tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar.
Lalu sesuatu mulai terjadi.
Jedai yang tadi saya letakkan di dekat laptop tampak bergerak-gerak. Bentuknya yang melengkung di bagian bawah membuatnya bisa bergoyang seperti jungkat-jungkit. Perlu beberapa saat untuk benar-benar menyadarinya. Mungkin tersenggol atau kena hembusan kipas, pikir saya. Saya perhatikan sejenak, dan jedai itu berhenti bergerak dengan sendirinya.
Sampai sini penjelasan logis masih terasa masuk akal. Saya kembali fokus ke laptop.
Cukup lama ia tidak bergerak, padahal hembusan kipas masih sama. Begitu pekerjaan selesai dan perhatian saya mulai longgar, saya melirik jedai itu lagi. Masih penasaran, saya pun memperhatikannya secara khusus, berharap bisa merekamnya kalau terulang.
Seperti yang diharapkan, ia bergerak lagi.
Kali ini, semua pikiran rasional mulai goyah. Saya segera mengambil ponsel untuk merekamnya. Sebab tanpa bukti, ini hanya akan jadi omong kosong belaka. Jedai itu bergerak naik turun, dari sisi kanan ke sisi kiri, cukup konstan. Saya masih berusaha meyakinkan diri bahwa itu karena angin. Maka dari itu, saya memberanikan diri untuk menghentikan gerakannya dengan tangan, lalu melepaskannya kembali di posisi yang sama.
Ia tidak bergerak.
Beberapa detik terakhir video itu merekam hal yang sama, masih dengan posisi jedai tidak berubah. Kipas masih menyala di tempat yang sama, tetapi jedai itu diam tak bergerak sama sekali. Saya segera mematikan laptop, menggulung kabel charger dengan sedikit tergesa, lalu berkemas dan meninggalkan sekre.
Ternyata ada satu hal lagi yang bikin merinding. Saya adalah satu-satunya orang yang ada di gedung itu. Biasanya, beberapa sekre UKM lain masih berpenghuni, seperti Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UNS, Garba Wira Bhuana, yang berada di ujung koridor sebelah kanan dari tangga lantai dua. Malam itu, sekre mereka sunyi dan tertutup. Di ujung koridor sebaliknya, sekre Pramuka dan KSR (Korps Sukarela) yang biasanya ramai hingga cukup larut pun sudah terkunci rapat.
Sungguh pengalaman yang baru dan tak terlupakan, sebuah cerita yang kelak bisa saya kenang bersama anak cucu. Alih-alih takut pada apa yang baru saja terjadi, saya tetap lebih takut pada derap sepatu satpam yang menyuruh saya pulang, padahal tugas kuliah masih belum selesai.
Penulis : Haidar Zhafir
Editor : Rifda Auliana

