Site icon Saluran Sebelas

PENGAKUAN DOSA MAHASISWA KURA-KURA: KETIKA TIADA HARI TANPA RAPAT MALAH MEMBUAT DIRI SAYA MENJADI MANUSIA PALING KASIHAN

Sekumpulan mahasiswa mengadakan rapat di sekretariat untuk mempersiapkan keberjalanan program kerja. (Foto: Sherlyana Icha Widhiyanti).

Istilah “mahasiswa kura-kura” memang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Kuliah-rapat-kuliah-rapat telah menjadi rutinitas mahasiswa yang ikut dalam organisasi. Namun, apakah benar rutinitas tersebut dapat membangun citra seseorang menjadi mahasiswa yang produktif? atau malah sebaliknya. 

Ada suatu kepuasan aneh yang dulu sering penulis rasakan ketika melihat kalender Googlenya berwarna-warni. Satu program kerja satu warna, misal minggu ini hijau minggu depan merah dan untuk deadline tugas kuliah diberi warna ungu. Semakin banyak warnanya, semakin merasa sebagai manusia paling sibuk di kampus. Ada kalanya jika ditanya teman “besok ada acara gak?” lalu saya langsung memasang muka sebal dan memelas sambil berkata “ah, aku besok ada rapat buat prokerku sampai malam woi” lalu teman saya menambahkan “ya ampun kok kamu sibuk banget sih, kaya ga ada liburnya” ketika mendengar teman saya berkata seperti itu saya merasa keren saja, seperti orang penting. 

Dulu saya berpikir bahwa kesibukan saya setiap minggu ini dinamakan ambisi. Pemikiran untuk memperkaya Curriculum Vitae mempengaruhi keseharian saya. Sampai akhirnya, pada hari Selasa malam, saat ibu saya menanyakan kapan saya pulang, saya malah masih di sekretariat organisasi. Pertanyaan itu terus berulang hingga minggu-minggu berikutnya, kemudian kondisi saya tetap sama, saya belum pulang, padahal seharian dari pagi sudah bertempur dengan berbagai macam mata kuliah yang berbobot 3 SKS itu. Pikiran saya langsung kembali ke belakang, saya mengingat-ingat kapan terakhir kali saya menemui orang tua saya. Ternyata itu sudah 6 bulan yang lalu. Pantas saja ibu saya selalu berkata “mbok leren to kak, dieman-eman awake,” 

Di titik itulah saya sadar, garis antara ambisi dan toxic productivity itu tipis, mirip seperti lembaran tisu yang dimasukkan ke dalam satu ember air. Mudah larut dan bisa menghilang. Ambisi itu idealnya ketika membuat kita bersemangat bangun pagi dan menjalani hari karena ada target yang harus kita penuhi. Sementara toxic productivity? itu seperti penjajah yang senang melakukan perbudakan, tubuh kita sebenarnya sudah lelah akan tetapi terus dipaksa untuk bekerja. 

Lucunya, lingkungan kampus kita ini sering sekali meromantisasi penderitaan tersebut. Semakin sedikit jam tidur dan semakin banyak jadwal seorang mahasiswa maka semakin bagus brandingnya di lingkungan sosial. Sering kurang tidur dianggap wujud totalitas dan tumbang ketika keberjalanan kepanitiaan dianggap badge of honor. 

Padahal kalau mau jujur-jujuran, kita ini sedang merusak diri sendiri dengan dalih “Demi masa depan”. Sekarang, saya mulai membatasi diri dan mengolah segala organisasi maupun kepanitiaan yang akan saya ikuti. Tidak menjawab chat grup ketika lewat pukul 22.00 WIB bukan lagi bentuk lepas tanggung jawab, akan tetapi sebagai cara saya menjaga kewarasan. Istirahat di malam hari tanpa memikirkan kemungkinan terburuk dari program kerja yang dilaksanakan adalah bentuk kasih sayang paling mahal yang saya berikan kepada diri saya sendiri. Saya mengabaikan rasa tidak enak yang sebelumnya menyelimuti diri saya. 

Sebab, pada akhirnya, apa gunanya CV dengan pengalaman sederet jika sewaktu kelulusan nanti tubuh saya menjadi ringkih dengan wajah lelah disertai kantung mata menghitam karena beban pikiran yang terus menggumul? 

Ambisi itu boleh dan harus ada, tetapi jika ambisi itu menjadi bumerang ke diri sendiri sehingga tidak lagi punya waktu untuk mengistirahatkan badan, percayalah teman-teman, itu bukan lagi ambisi, itu racun yang kamu minum sendiri.

 

 

Penulis: Sherlyana Icha Widhiyanti

Exit mobile version