SOLO (22/10/2026) – Aliansi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Sebelas Maret (UNS) memimpin aksi demonstrasi di kawasan Balai Kota Surakarta hingga Gladak. Aksi disebut sebagai kritik mahasiswa atas dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang perlu dievaluasi. Sejumlah kebijakan dan persoalan nasional yang disorot antara lain penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga kondisi perekonomian Indonesia.
Hasan Yusnindar, Direktur Jenderal Aksi dan Propaganda BEM UNS, menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan upaya mahasiswa untuk menarik perhatian pemerintah terhadap persoalan yang dinilai belum mendapatkan penanganan memadai. Dia menegaskan bahwa aksi dilakukan secara damai sebagai bentuk penyampaian aspirasi masyarakat.
“Sesuatu yang sifatnya damai. Ada subjek yang bisa dilihat pemerintah, agar mereka mau berbenah. Agar mereka mau memperhatikan bahwa rakyat bisa bersuara, rakyat bisa melawan,” ungkap Hasan, Dirjen Akspro BEM UNS (22/10/26).
Tujuh Tuntutan yang Disuarakan Mahasiswa
Hasan menyebut bahwa hasil konsolidasi mahasiswa merangkum berbagai persoalan tersebut dalam tagline “Turunkan Prabowo-Gibran”.
“Dari hasil konsolidasi kita kemarin, kita ingin membawakan lima isu besar, yang mana ini mencakup isu-isu yang terjadi di negara kita hari ini. Mulai dari karhutla, MBG, KDMP, IHSG yang turun, itu semua kita rapel jadi satu isu tagline besar “Turunkan Prabowo Gibran,” ujarnya.
Adapun tujuh poin tuntutan yang disampaikan mahasiswa dalam aksi tersebut meliputi:
- Tetapkan karhutla sebagai bencana nasional dan evaluasi sistem penanggulangan bencana di Indonesia
- Wujudkan pendidikan gratis yang tersistematis
- Evaluasi penetapan desil dan pulihkan hak masyarakat
- Pulihkan kondisi ekonomi masyarakat
- Evaluasi PSN (Proyek Strategis Nasional)
- Reformasi total TNI POLRI
- Hentikan praktik militerisme di berbagai daerah
Massa aksi awalnya berkumpul di Balai Kota Surakarta sebelum akhirnya berjalan menuju patung Gladak di kawasan Slamet Riyadi. Mahasiswa kembali menyuarakan tuntutan mereka dengan membentangkan spanduk tepat di patung Jendral Sudirman Gladak. Pengguna lalu lintas yang melewati kawasan aksi juga turut memberikan dukungan mereka dengan membunyikan klaksonnya.
Tanggapan Kapolresta Surakarta: Tidak ada pengamanan, yang ada pelayanan
Sementara itu pihak kepolisian kota Surakarta menyambut baik aksi damai yang dilakukan oleh para mahasiswa ini. Kapolresta Surakarta, AKBP Condro Sasongko, mengapresiasi atas penyampaian aspirasi yang telah dilakukan dengan damai, serta tidak mengganggu ketertiban masyarakat.
“Mahasiswa memang punya fungsi kontrol, yang penting pelaksanaannya dengan baik. Seperti aksi saat ini adalah contoh aksi penyampaian demonstrasi yang baik,” ujar Kapolresta Surakarta, AKBP Condro Sasongko (22/10/26).
Saat diwawancarai oleh media, Condro menyatakan dengan tegas bahwa pada aksi ini tak ada pengamanan dari pihak kepolisian, kepolisian hanya memberikan pelayanan agar aksi dapat berjalan dengan tertib. Mereka juga memberikan dukungan berupa air mineral untuk massa aksi.
“Tidak ada pengamanan, yang ada pelayanan,” tegas Kapolres saat dimintai keterangan terkait pengamanan aksi demonstrasi.
Reporter: Nisa, Dzakwan, Naira, Rohman, Nabila, Salma, Dzakiya, Alya
Fotografer: Faiz, Edi
Videografer: Rain, Rani, Alif
Editor: Tiara Nur A’isah

