Site icon Saluran Sebelas

Kelakuan Penghuni Fakultas Hijau yang Bikin Geleng-Geleng Kepala dan Refleks Ngomong ‘Jujur Janggal’

Potret sampah di salah satu meja kantin Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, pada Senin (20/04/2026). LPM Kentingan/Dzakiya Khairun Nisa

Potret sampah di salah satu meja kantin Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, pada Senin (20/04/2026). LPM Kentingan/Dzakiya Khairun Nisa

Minggu lalu, Senin (20/04/2026) pagi, pukul 10.30—bisa disebut siang juga sih, ada perkara tidak mengenakkan di meja fakultas hijau. Meja fakultas hijau yang saya maksud ialah meja kantin Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS). Yap, perkara di fakultas paling tidak menarik di kampus kita.

Kantin FP yang ada di bayangan kita adalah kantin sederhana yang nyaman dan view-nya bagus. Sebetulnya kantin ini benar-benar nyaman banget, sih. Kalau makan di sini, view-nya cakep, kita bisa makan sambil menghadap ke danau. Biasanya orang-orang bakal datang ke kantin ini dengan perut lapar, lalu pulang dengan perut kenyang dan hati tenang. Kenyataannya, saat itu, kabar kantin yang saya temui beda cerita.

Kantin Milik Bersama, Lalu Sampah Siapa Ini?
Kantin itu kan milik bersama, sudah sepantasnya kita juga sama-sama menjaganya supaya tetap nyaman. Jujur, kita tidak menganut madzhab Aldi Taher kalau semua sampah itu milik Allah. Sampah yang kita hasilkan, ya milik kita masing-masing, bukan warisan buat orang berikutnya yang ingin makan! Jangan sampai meja yang harusnya siap dipakai justru penuh sisa peradaban makan siang orang lain. Cuman ya, realita di lapangan kadang beda cerita.

Saat itu, satu dari sembilan meja utama di kantin dipenuhi sampah makan siang mahasiswa. Agaknya mereka belum paham atau mungkin pura-pura belum paham kalau kantin Fakultas Pertanian memiliki persyaratan mutlak bagi pembeli. Biasanya orang yang ngiras (makan di tempat) di kantin bakal membereskan bungkus sampah dan mengembalikan piring kotor ke kios asalnya. Syarat itu dianggap pula sebagai budaya di kantin. Benar, yang saya maksudkan adalah budaya self-service. Sepatutnya kami—pelanggan normal—bakal memesan, mengambil, memakan, membereskan, serta membuang sampah bekas makanan kami sendiri. Janggal, sih, kalau masih ada mahasiswa yang perbuatannya tidak begitu.

Wahai, para pelaku! Kalian wajib introspeksi diri dan jawab pertanyaan ini nih. Apakah Anda membayar service charge sebesar 10%? Tidak, kan? Itu artinya, Anda memang tidak membayar jasa membereskan bekas makan siang yang Anda pesan. Maka, Anda perlu sadar bahwa Anda memang berkewajiban buat membereskan bekas makan Anda sendiri!

Perkara Lama yang Dianggap Enteng: Pengganggu Suasana Makan yang Nggak Kelihatan


Plang ‘Area Bebas Asap Rokok’ di kantin Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, pada Senin (20/04/2026). LPM Kentingan/Dzakiya Khairun Nisa

Belum selesai disitu, ada juga perkara lain yang berulang kali terjadi dan saya rasa tidak mungkin terselesaikan. Perkara ini datang tiap hari dan sudah lumrah lah di kantin FP. Banyak abang-abangan yang seenaknya sendiri, merokok di kantin hijau. Mengesalkan sekali saat melihat mereka pura-pura tak tahu dan tidak merasa bersalah saat pembeli lainnya menutup hidung ketika makan.

Sebetulnya, sejak kantin FP pindah di gedung baru, sudah terpampang jelas tuh plang ‘area bebas asap rokok’. Jujur janggal sih, nggak mungkin kan mereka nggak pernah melihat plang itu? Cuman ya, mungkin plang itu dianggap sebagai penggugur kewajiban fakultas saja supaya terlihat menaati peraturan. Buat apa sih peduli sama pajangan begitu? Mungkin itu kalimat yang terlintas di pikiran si abang. Sudah dilaporkan ke @uns.parkir pun mereka tetap belum sadar.

Keluhan mahasiswa Fakultas Pertanian kepada @uns.parkir (27/4/2026)

Selain asap rokok si abang yang mengganggu, masalah lain muncul lagi nih. Sambil kebal-kebul, mereka ngetem lama di sana. Kita tahu kan bagaimana ramainya kantin FP saat jam makan siang? Banyak yang nungguin mejanya tuh supaya bisa makan. Yah, semoga saja mereka segera sadar. Tulisan ini cuma curhatan ye mpruy, jangan sakit hati!

Penulis : Dzakiya Khairun Nisa

Editor : Novita Dwi Anggraini

 

Exit mobile version