Angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan generasi muda di kota Surakarta nilainya semakin mengkhawatirkan. Data Satlantas Polresta Surakarta tahun 2025 mencatat sebanyak 51% korban kecelakaan lalu lintas di Surakarta merupakan anak muda. Tak hanya itu, kelompok usia muda juga mendominasi sebagai pelaku kecelakaan sebesar 55%. Angka ini mengalami peningkatan mencapai lebih dari 30% dibandingkan tahun 2024. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan upaya untuk mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas di kota surakarta.
Menanggapi kondisi tersebut, Pusat Studi Mobilitas Lestari Transportologi bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta dan didukung International Road Assessment Programme (iRAP) akan menggelar AI&Me Solo Road Safety Festival. Ajang bertajuk “Nothing About Youth Without Youth” ini akan digelar di SMP Khusus Olahraga Kota Surakarta pada Sabtu, 10 Oktober 2026 mendatang.
Direktur Transportologi sekaligus Team Leader Program AI&Me, Sukmala Rasiti, mengungkapkan bahwa festival ini bertujuan untuk menggeser pandangan masyarakat yang kerap menganggap kecelakaan lalu lintas sebagai musibah takdir semata, sekaligus menaikkan isu keselamatan jalan raya agar menjadi prioritas bersama.
“Kita tidak berbicara tentang detail keselamatan jalan saja, tetapi bagaimana anak muda bisa hidup di kota yang lebih baik dan lebih layak huni untuk semuanya,” ujar Sukma dalam konferensi pers di Surakarta, Selasa (6/10/2026).
Festival ini menargetkan 2.000 peserta dari berbagai lintas usia termasuk kelompok disabilitas tuli dengan melibatkan kolaborasi lebih dari 30 komunitas dan instansi. Acara ini menjadi puncak dari intervensi program keselamatan jalan berbasis riset big data yang telah berjalan di tiga sekolah pilot: SMAN 4 Surakarta, SMA Regina Pacis Surakarta, dan SMPN 12 Surakarta.
“Festival ini berkolaborasi dengan lebih dari 30 komunitas dan juga institusi ataupun swasta yang memiliki misi pencegahan yang sama. Kami juga menggandeng teman-teman kawan Tuli untuk ikut terlibat pada isu yang sama,” ujarnya.
Sukma membeberkan dari hasil analisis metode standar internasional star rating keselamatan jalan (skala 1 hingga 5 bintang), kawasan di depan SMAN 4 Surakarta saat ini berada pada status bintang satu atau kategori sangat berbahaya.
“Di depan SMAN 4 itu tingkat keselamatan jalannya terhitung sangat berbahaya, rating bintang satu. Padahal target aksi keselamatan jalan nasional dan dunia mensyaratkan minimal berada di rating bintang tiga,” jelasnya.
Sebagai bentuk keterlibatan aktif, sebanyak 300 murid dan 15 guru dari sekolah pendampingan telah dilatih memetakan titik bahaya jalan di sekitar mereka menggunakan aplikasi Youth Engagement Apps (YEA). Hasil analisis data partisipatif ini akan diserahkan kepada Pemerintah Kota Surakarta sebagai rekomendasi kebijakan infrastruktur fisik jangka panjang, seperti pembuatan trotoar yang ramah difabel, jalur sepeda, serta pembenahan angkutan umum.
Rangkaian acara Festival Keselamatan Jalan Raya nantinya akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan interaktif yang menarik , seperti pameran data riset kecelakaan, workshop penanganan pasca tabrakan (post-crash recovery), edukasi safe riding oleh Yamaha Riding Academy, hingga pemanfaatan aplikasi YEA. Selain itu juga, dimeriahkan oleh komunitas inklusif (termasuk kawan Tuli), lomba mewarnai untuk anak-anak, serta pengumuman lomba poster ilmiah dan konten kampanye keselamatan.
Melalui rangkaian edukasi ini, Transportologi berharap ada dorongan nyata terhadap perubahan perilaku berkendara masyarakat Kota Solo.
“Selemah-lemahnya iman, kalau naik motor tetap pakai helm, meskipun cuma jarak 100 meter. Kami tidak berharap muluk-muluk, tetapi setidaknya melakukan sesuatu yang applicable dan mudah dilakukan,” tegas Sukma.
Penulis : Mohamad Nur Rohman, Nisa Maftuhaturrohmah
Editor : Muthiara ‘Arsy

