Site icon Saluran Sebelas

Gelar Kajian Akbar, KRNH UNS Sambut Ramadan Sebagai Momentum Kebersamaan

Aulia Salsabila

Pakar Aqidah dan Filsafat Islam, Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., selaku pembicara menekankan bahwa Ramadan merupakan momentum penting untuk merajut kebersamaan. Menurutnya, puasa melatih pengendalian diri sehingga meningkatkan dan memperkuat ukhuah dalam kehidupan bersosial. Hal ini disampaikannya dalam Kajian Akbar Tarhib Ramadan dan Grand Opening Kampus Ramadan Nurul Huda (KRNH) Universitas Sebelas Maret (UNS) 1447 H, Surakarta, Jumat (13/2/2026). 

Kajian Akbar ini digelar dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Kajian disambut antusias dan dihadiri oleh segenap sivitas akademika UNS hingga masyarakat umum. Dengan dibuka lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh saudara Tegar Ridha Febrika, dilanjutkan sambutan yang disampaikan oleh Wakil Rektor Kemahasiswaan dan Alumni UNS, Dody Ariawan. Dalam sambutannya, Doddy menyampaikan bahwa sejatinya Tarhib Ramadan merupakan momentum yang tepat sebagai refleksi dan persiapan diri dalam beribadah dan upaya dalam memperkuat kebersamaan. Ia juga menegaskan Ramadan adalah berkah dan pengingat bahwa waktu terus berjalan. Nilai-nilai keikhlasan dan kepekaan menjadi sebuah manifestasi di bulan Ramadan untuk meningkatkan keimanan dan memperkuat integritas diri. 

Melalui tema “Menyambut Ramadan Menemukan Makna Kebersamaan”, Fahruddin menjelaskan bahwa Ramadan merupakan bulan istimewa yang menyediakan banyak fasilitas spiritual untuk memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah, salah satunya melalui ibadah puasa. Secara sosial dan psikologis, puasa bermanfaat untuk meningkatkan kebersamaan. “Hakikatnya puasa adalah dilatih dari imsak untuk menyapih ego dan kunci sukses mencapai kebahagiaan adalah kemampuan mengendalikan diri,” ujar pakar tersebut. 

Fahruddin menyampaikan bahwa sistem hidup bersama yang ideal dalam Islam mencakup tiga tingkatan: husnul muamalah atau interaksi dengan yang baik; husnul muasyarah atau interaksi kebersamaan yang melibatkan kasih sayang; dan husnul musyarokah atau kebersamaan produktif yang melahirkan manfaat bagi lingkungan. Ketiga konsep ini menjadi dasar penting dalam membangun ukhuwah di tengah kehidupan  bermasyarakat.

Dalam kajian ini, ia juga memaparkan rute membangun kebersamaan menurut Imam Al-Ghazali, yang dimulai dari memiliki hati yang lembut hati (ulfah), kemudian menjadi pribadi yang menyenangkan dalam pertemanan (sukhbah), hingga mencapai persaudaraan (ukhuwah), dan puncaknya adalah mendahulukan orang lain dengan penuh cinta (muhabbah).

Kajian ditutup dengan penegasan bahwa sejatinya kebersamaan tertinggi adalah kebersamaan dengan Sang Khaliq, Allah. Ramadan menjadi momen penting sekaligus pengingat untuk kembali menyadari bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya. “Kita sering sembrono, dengan puasa kita diberi momen untuk bersama, mari hidupkan kebersamaan menjaga amanat manusia sebagai hamba sekaligus khalifah di bumi,” tutur Fahruddin. 

Kajian Akbar ini menjadi pengingat bahwa makna kebersamaan pada Ramadan begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Materi yang disampaikan sangat reflektif, pembicara menyampaikan dengan gaya penyampaian yang sangat mudah dipahami oleh kita sebagai anak muda. Nilai-nilai  yang paling membekas menurut saya adalah ketika menjaga adab bersama teman dalam berinteraksi sehari-hari. Contohnya merespons candaan teman dengan baik. Sebab itu menjadi bagian dari menjaga adab. Itu yang saya ingat tadi,” ucap Maudy, seorang mahasiswa yang menjadi peserta Kajian Tarhib.

 

 

 

Penulis : Tim KRNH UNS

Fotografer : Aulia Salsabila

Editor : Muthiara ‘Arsy

Exit mobile version