Semangat kemitraan dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) 17 tentang Partnerships for the Goals tercermin dalam pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kehadiran mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) memperlihatkan peran perguruan tinggi sebagai penghubung antara pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat desa melalui kerja sama dengan sekolah dan warga setempat. Melalui program kerja “Edukasi Bahaya Kebakaran Lahan dan Keterbukaan Lahan bagi Anak Sekolah Dasar Melalui Kemitraan Sekolah dan Masyarakat untuk Perlindungan Lingkungan”, mahasiswa menginisiasi gerakan literasi lingkungan bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Pernolo guna meningkatkan pemahaman tentang risiko kebakaran lahan serta pentingnya menjaga ekosistem. Kolaborasi antara mahasiswa, lembaga pendidikan, pemerintah desa, dan masyarakat memperlihatkan praktik nyata kemitraan lintas pihak dalam mendukung upaya pencegahan kerusakan lingkungan sekaligus memperkuat komitmen bersama terhadap pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan berlangsung pada Senin (19/01/2026) di MI Ma’arif Pernolo. Pelaksanaan program mencerminkan kemitraan multi-stakeholder yang melibatkan mahasiswa, lembaga pendidikan, masyarakat, serta aparatur desa. Upaya bersama tersebut sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas serta SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Pendidikan dipahami tidak semata sebagai peningkatan kemampuan akademik, melainkan juga sebagai proses pembentukan karakter, kesadaran ekologis, serta tanggung jawab sosial terhadap lingkungan.
Permasalahan kebakaran lahan dan keterbukaan lahan yang tidak terkendali masih menjadi isu serius di berbagai wilayah pedesaan, termasuk Desa Seloprojo. Upaya pencegahan membutuhkan sinergi pemerintah desa bersama lembaga pendidikan dan masyarakat dalam membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini.
Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai dampak pembakaran lahan dan sampah memperbesar potensi kerusakan ekosistem. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan edukasi lingkungan sebagai bagian dari strategi pencegahan kebakaran berbasis komunitas.
Hasil observasi lapangan menunjukkan sebagian siswa sekolah dasar belum memahami konsep dasar kebakaran hutan dan lahan. Sejumlah siswa bahkan telah terpapar perilaku berisiko seperti bermain korek api, membakar benda tanpa pengawasan, hingga mencoba merokok. Pada wilayah dengan dominasi lahan terbuka serta vegetasi kering, perilaku tersebut berpotensi memicu kebakaran berskala besar.
Secara ilmiah, kebakaran terjadi melalui interaksi tiga unsur utama yang dikenal sebagai segitiga api, yaitu sumber panas, bahan bakar, dan oksigen. Minimnya pemahaman terhadap mekanisme tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya insiden yang berdampak luas terhadap lingkungan serta keselamatan masyarakat.
Program edukasi dirancang secara interaktif dengan pendekatan literasi lingkungan sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor antara dunia pendidikan, masyarakat, dan program pengabdian perguruan tinggi. Materi yang disampaikan meliputi penyebab kebakaran lahan, dampak pembakaran terhadap tanah dan kualitas udara, serta risiko keterbukaan lahan seperti erosi dan longsor.
Mahasiswa juga menjelaskan pentingnya vegetasi dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama peran akar pohon dalam menyerap air dan mengikat tanah. Melalui pendekatan co-creation program, siswa tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.
Sebagai bentuk pembelajaran aplikatif, peserta diajak melakukan praktik penanaman pohon. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman teoritis, tetapi juga menanamkan pengalaman langsung mengenai konservasi tanah dan air. Penanaman pohon diharapkan mampu meningkatkan daya resap air, mengurangi limpasan permukaan (run off), serta meminimalkan risiko longsor pada wilayah dengan kondisi tanah labil.
Setelah sesi penyampaian materi, mahasiswa kembali mengajukan pertanyaan yang sebelumnya diberikan pada awal kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta secara signifikan. Siswa mampu menjelaskan kembali konsep segitiga api, dampak pembakaran lahan, serta langkah pencegahan kebakaran. Antusiasme peserta terlihat melalui partisipasi aktif selama diskusi dan praktik lapangan. Kesadaran terhadap bahaya penggunaan api tanpa pengawasan mulai tumbuh pada kalangan siswa sekolah dasar.
Pelaksanaan kegiatan juga berkontribusi terhadap penguatan kelembagaan desa dalam membangun budaya peduli lingkungan melalui jalur pendidikan. Kehadiran mahasiswa KKN turut memperluas jejaring kerja pembangunan yang menghubungkan perguruan tinggi, lembaga pendidikan, pemerintah desa, serta masyarakat.
Pelaksanaan program pendidikan lingkungan di Desa Seloprojo memperlihatkan praktik tata kelola kolaboratif dalam pembangunan berbasis masyarakat. Kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah desa, lembaga pendidikan, serta masyarakat menjadi fondasi bagi terciptanya kemitraan berkelanjutan dalam pengelolaan lingkungan. Pendidikan yang diberikan tidak hanya menambah wawasan, tetapi membentuk karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab sosial.
Mahasiswa KKN berharap anak-anak Desa Seloprojo dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan literasi lingkungan yang kuat, generasi muda diharapkan mampu mendorong perilaku yang lebih bijaksana dalam pengelolaan lahan dan penggunaan api, sehingga tercipta lingkungan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan. Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan kolaboratif dan literasi lingkungan merupakan investasi jangka panjang dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan berkualitas, tidak hanya menghadirkan edukasi bagi siswa sekolah dasar, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif mengenai pentingnya perlindungan lingkungan. Upaya tersebut diharapkan mampu menumbuhkan generasi muda yang memiliki kepedulian ekologis sekaligus memperkuat pembangunan desa yang berkelanjutan.
Penulis : Tim KKN Seloprojo UNS
Fotografer : Tim KKN Seloprojo UNS
Editor : Muthiara ‘Arsy

