Teriknya matahari disertai panasnya suhu Solo kerap membuat dahaga tak tertahankan. Apalagi menjelang bulan Ramadan, menu pelepas dahaga dengan sajian yang menyegarkan sudah pasti menjadi incaran.
Di Solo, beragam es legendaris hadir dengan cita rasa yang khas dan sejarah unik di baliknya. Es tradisional yang masih eksis hingga kini siap menemani perjalanan kuliner, memanjakan lidah kesegaran. Penasaran apa saja aneka esnya? Yuk, simak rekomendasi es legendaris di Solo berikut ini:
1. Es Kapal
Es yang sempat populer pada tahun 1950 hingga 1970-an ini memiliki nama yang terdengar unik. Berdasarkan buku “Kuliner Tradisional Solo oleh Dawud Achroni”, julukan “es kapal” muncul karena bentuk sudut gerobak penjualnya lancip, menyerupai kapal. Keunikan bentuk gerobak tersebut awalnya dimaksudkan untuk menarik pembeli, tetapi berjalannya waktu berubah menjadi identitas. Es ini mulanya dijual di Pasar Gede saja, tetapi menyebar ke berbagai sudut kota.
Minuman tradisional ini terbuat dari es serut santan yang dicampur sedikit tape, singkong, dan sirup coklat. Es Kapal disajikan dengan sepotong roti tawar yang dicelupkan ke dalam minuman dengan gelas tempo dulu. Perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit asam dari tape menciptakan harmoni rasa yang khas. Harga per porsinya rata-rata berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000. Walaupun sudah langka, minuman legendaris ini masih bisa ditemukan di kawasan Baron dan area Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
2. Es Gempol Pleret
Es Gempol Pleret memiliki nama unik yang sarat makna. Kata gempol konon diambil dari kata jempol, karena pembuatannya ditekan menggunakan ibu jari hingga membentuk bola-bola. Sementara itu, pleret merujuk pada adonan yang dipipihkan lalu digulung melengkung, sesuai istilah “dipleret” dalam bahasa Jawa.
Es yang biasanya muncul di acara hajatan ini terbuat dari bola-bola tepung beras, cendol, serta siraman santan dan gula jawa cair. Perpaduan rasa manis dari gula merah, gurihnya santan, dan tekstur yang kenyal terasa sempurna disantap saat tubuh butuh yang segar-segar. Harga Es Gempol rata-rata berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi. Es Gempol Pleret paling banyak ditemukan kuliner pinggir jalan, khususnya daerah Karangwuni, Polokarto, dan Sukoharjo.
3. Es Dawet Telasih
Bagi wisatawan yang pernah berburu kuliner di Solo, tentu tidak asing lagi dengan Es Dawet Telasih yang terletak di Pasar Gede Hardjonagoro. Minuman legendaris ini dipelopori oleh Harjo Sumini sejak 1930-an, bertepatan dengan berdirinya Pasar Gede, lalu diteruskan oleh anaknya, Yu Darmi. Cita rasanya yang manis dan gurih membuat dawet telasih semakin populer, hingga melahirkan banyak penjual lain yang menjaga resep ini tetap hidup sampai sekarang.
Berbeda dengan es dawet pada umumnya yang menggunakan gula jawa atau aren, Es Dawet Telasih menggunakan gula pasir yang dicairkan dengan isian cendol, selasih, bubur sumsum, santan, dan ketan hitam. Per porsinya dijual dengan harga Rp10.000 hingga Rp15.000 tergantung isian dan tempat penjualan. Es legendaris yang menjadi andalan pemburu kuliner bahkan tokoh nasional ini dapat mudah dijumpai di kios-kios gedung timur Pasar Gede.
4. Es Ala Swiss
Es Ala Swiss yang mengusung nama negara Eropa ini menyimpan kisah unik di baliknya. Konon, tradisi perayaan tahun baru orang Swiss pada 31 Desember melibatkan es krim yang dijatuhkan ke lantai saat bersulang. Es krim yang dikerubungi semut dipercaya membawa keberuntungan.
Di Solo, tradisi tersebut diadaptasi menjadi olahan es yang berisi aneka buah, seperti melon, nanas, blewah, pepaya, hingga sirsak. Tak hanya buah, Es Ala Swiss juga dilengkapi dengan topping jelly yang disiram kuah jus serta susu kental manis. Perpaduan isinya menghadirkan rasa manis dan menyegarkan. Harga per porsi Es Swiss dibanderol dengan Rp25.000. Minuman ini bisa dinikmati di outlet Es Ndelik, kawasan Keraton, Serengan, Surakarta.
5. Es Teh Kampul
Jika di daerah lain dikenal dengan istilah lemon tea, warga Solo punya versinya sendiri yang jauh lebih autentik dengan nama Es Teh Kampul. Kata kampul dalam bahasa Jawa berarti “terapung”, merujuk pada irisan jeruk yang dibiarkan melayang di dalam gelas. Berbeda dengan lemon tea yang rasa asamnya “bersih”, es teh ini menggunakan racikan teh Solo yang sepet dan wangi, berpadu dengan irisan jeruk wedang. Keunikannya terletak pada perpaduan rasa asam segar serta aroma minyak alami dari kulit jeruk lokal yang menyatu sempurna dengan kepekatan teh, yang menciptakan sensasi segar dan sangat aromatik.
Minuman ini sangat mudah dijumpai di berbagai sudut kota, mulai dari warung wedangan, HIK (Hidangan Istimewa Kampung), hingga kedai es teh kontemporer yang kini menjamur di pinggir jalan. Harganya pun sangat bersahabat, biasanya berkisar antara Rp3.000 hingga Rp5.000 per gelas. Lebih dari sekadar pelepas dahaga, Es Teh Kampul telah menjadi identitas budaya yang ngangenin, apalagi setelah meneguknya untuk pertama kali.
6. Es Buah Bunuh Diri
Jangan terkecoh dengan namanya yang terdengar seram, pasalnya bunuh diri di sini hanyalah sebuah kiasan untuk menggambarkan porsinya yang “ugal-ugalan”. Terletak di kawasan Pasar Kliwon, es buah ini sempat viral karena keberaniannya memberikan isian buah yang melimpah ruah.
Bayangkan saja, dalam satu porsi, pembeli akan mendapati potongan melon, semangka, pepaya, buah naga, hingga nanas yang bertumpuk tinggi. Semuanya diguyur dengan sirup merah dan susu kental manis yang melimpah di atas gundukan buah. Nama uniknya muncul dari candaan para pelanggan yang merasa kenyang luar biasa setelah menyantap satu porsi sendirian, atau disebut “mati kekenyangan”.
Meski disajikan dengan porsi brutal, harga yang ditawarkan untuk hidangan ini tidak mengikuti kebrutalan porsinya, yakni Rp11.000 per mangkuk. Menikmati es satu ini tidak hanya sekedar memuaskan dahaga, tetapi juga sebuah tantangan untuk menaklukkan gunungan buah segar di tengah teriknya cuaca Solo.
7. Es Krim Tentrem
Bicara soal es krim di Solo, ingatan kolektif warga pasti akan tertuju pada Es Krim Tentrem. Berdiri sejak tahun 1952 di sebuah kedai sederhana di kawasan Urip Sumoharjo, tempat ini telah menjadi saksi bisu manisnya kenangan warga Solo selama puluhan tahun. Seiring berjalannya waktu, kedai ini bertransformasi menjadi New Es Krim Tentrem yang kini menempati bangunan yang lebih modern di kawasan Slamet Riyadi, Ngarsopuro.
Meski tempatnya telah berpindah dan tampil lebih modern, mereka tetap setia menjaga warisan resep homemade tanpa bahan pengawet yang sudah bertahan lebih dari tujuh dekade. Teksturnya lebih padat, tetapi tetap lembut saat lumer di lidah, menawarkan sensasi es krim tradisional tempo dulu yang sulit ditemukan di gerai modern mana pun.
Menu-menu ikonik seperti Tumpeng Sari, Casablanca, hingga Dewi Shinta tetap menjadi primadona yang menyajikan perpaduan rasa klasik dengan sentuhan buah-buahan segar. Harga per porsinya pun cukup variatif, mulai dari Rp15.000 hingga Rp32.000. Singgah ke kedai ini bukan hanya sekedar mencari es krim yang menyegarkan, tetapi juga merasakan langsung warisan kecil yang terus dijaga selama puluhan tahun.
8. Es Teler
Menutup daftar panjang kesegaran di Kota Solo, kurang lengkap rasanya jika tidak menyebut Es Teler. Meskipun minuman ini populer secara nasional, Solo memiliki beberapa spot legendaris yang punya cita rasa tersendiri. Salah satu yang paling ikonik adalah Es Teler Om Otong yang sudah puluhan tahun setia melayani pelanggannya dengan porsi yang royal.
Konon, nama “teler” muncul dari reaksi para pelanggan yang merasa teler, alias kewalahan karena saking enaknya. Di Solo, es teler ini hadir dengan kombinasi potongan nangka yang wangi, alpukat mentega yang lumer, dan kerokan kelapa muda yang segar. Semuanya diguyur santan gurih dan susu kental manis di atas serutan es yang menggunung.
Keistimewaannya bukan hanya pada rasa, tetapi juga pada kualitas buah yang dipilih dengan kematangan pas. Harganya pun sangat bersahabat, yakni Rp14.000 per porsinya. Menikmati semangkuk es teler di tengah teriknya cuaca Solo adalah cara ampuh untuk menutup perjalanan kuliner. Rasa manis, segar, dan dingin pastinya bikin puas siapapun yang mencobanya.
———-
Jalan-jalan ke Solo di saat cuaca terik memang terasa berat akibat rasa dahaga yang tidak tertahankan. Maka dari itu, beberapa menu segar yang sudah dipaparkan sangat layak dicoba untuk memanjakannya. Tidak hanya dapat dinikmati pada siang hari, beragam hidangan es ini juga menjadi opsi kuat sebagai pelengkap menu berbuka puasa di bulan Ramadan.
Dari uniknya sejarah Es Kapal, manisnya memori di New Es Krim Tentrem, sampai segarnya Es Teler, setiap sajiannya punya cerita tentang ketulusan warga Solo menjaga cita rasa tradisional. Kedai-kedai ini bukan cuma tempat cari makan atau minum, tetapi juga mesin waktu yang menghubungkan masa lalu dengan kita yang sekarang.
Jadi, jika ingin ke Solo atau sedang berada di Solo, pastikan untuk mencicipi hidangan es istimewa yang pasti membuat siapapun kangen dengan suasana kota ini.
Penulis : Reva Marantika dan Muhammad Raydi Fathi
Editor : Natasya Maharani
