> Catatan Kentingan > Tuhan Pancasila di Kampus Keilmuan
Gambar diambil dari uns.ac.id

Tuhan Pancasila di Kampus Keilmuan

Oleh: Satya Adhi

 

UNS ADALAH produk singkatan Orde Baru paling wagu. Tak lain tak bukan karena singkatan dan kepanjangan yang enggak nyambung babarblas. UNS adalah kependekan dari Universitas Sebelas Maret. Lucu tha? Ya… sama lucunya kayak esais bernama lengkap Bandung Mawardi, tapi nama panggilannya Kabut.

 

Produk singkatan Orde Baru yang lain keren-keren. Ada PKK alias Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Singkatan ini jadi mantra ampuh untuk mendomestikan peran perempuan, hanya sebatas pengepul dapur dan penghangat ranjang. Lalu ada Kopkamtib atau Komando Keamanan dan Ketertiban. Kalau yang ini ampuh mendomestikan peran mahasiswa sebatas pengisi bangku kelas.

 

Yang terakhir adalah yang paling singkat sekaligus dahsyat: P4. Kepanjangannya; Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Sukses besar membikin Pancasila sebagai Tuhannya manusia Indonesia Orde Baru. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu, yang dimaksud Tuhan yang esa menurut Orde Baru ya Pancasila. Ideologi yang lain kafir!

 

Bandingkan singkatan-singkatan tadi dengan U-N-S. Dari sejarah mula penamaan saja UNS sudah wagu. Mulanya bernama Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret. Disingkat UNS Sebelas Maret. Nama kepanjangan yang menjadikan UNS susah “menjual diri.” Ketika tahun 1982 nama kampus diubah jadi Universitas Sebelas Maret, singkatannya tidak berubah. Tetap UNS. Sungguh enggak keren banget.

 

Walaupun enggak keren, UNS seperti ditakdirkan sebagai kampus Orde Baru totok. Pertama dari namanya. Sebelas Maret ini tanggal bersejarah. Menurut Soeharto Sang Sultan Orde Baru, Sebelas Maret jadi tanggal Sukarno menyerahkan mandat kekuasaan kepada Si Jenderal Bersenyum.

 

Kedua, dari rektor yang memulai pembangunan kampus. Namanya dr. Prakosa. Saat itu tahun 1980. Di bawah kendali dr. Prakosa, UNS yang masih mencar di berbagai kawasan, disatukan di daerah Kentingan.

 

Dr. Prakosa berasal dari kalangan militer. Pada saat itu, Sang Sultan berhak menentukan siapa yang menjadi rektor di sebuah kampus. Kalangan militer acap kali jadi pilihan. Tujuannya untuk meredam akar-akar pikiran yang dianggap bertentangan dengan Pancasila. Belakangan, dr. Prakosa dijadikan nama jalan di Banjarsari, Solo dan nama gedung pusat rektorat UNS.

 

Yang ketiga ini yang paling kekinian. UNS menjuluki diri sebagai Benteng Pancasila. Julukan ini disampaikan lewat sebuah video yang diproduksi bagian Hubungan Masyarakat (Humas) UNS.

 

 

Pancasila… Abadi?

Video berdurasi satu menit 44 detik tersebut dibuka dengan pernyataan Rektor UNS, Ravik Karsidi. “Dalam sejarahnya, Universitas Sebelas Maret didirikan memang sebagai benteng Pancasila,” kata Ravik.

 

Seorang dosen lantas memberikan penjelasan kalau UNS punya kawasan Pancasila. Kawasan termaksud adalah kawasan religius. Sebuah masjid, vihara, gereja, dan pura berdiri dalam satu kawasan yang berdekatan. UNS bisa saja menjuluki diri sebagai Kampus Toleransi atau Kampus Keberagaman. Tapi “Pancasila” jadi mantra yang dipilih.

 

Ravik kemudian membanggakan mata kuliah Pendidikan Pancasila. Kata dia, pasca Reformasi ketika kampus-kampus lain menghapus mata kuliah Pancasila, UNS tetap mempertahankan mata kuliah kotroversial itu. Mewajibkan malahan. Video dilanjutkan penggambaran simbol-simbol keberagaman, infrastruktur disabilitas, dan beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu.

 

Bagi generasi milenal yang belum belajar sejarah Orde Baru, julukan Benteng Pancasila memang terdengar gurih. Gagah-militeristik. Tapi tidak akan ada simbol tanpa makna. Benteng Pancasila bukan julukan kosong tanpa sejarah panjang.

 

Pancasila adalah alat Orde Baru untuk berkuasa selama lebih dari tiga dekade. Caranya, ya dengan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya Tuhan yang laik “disembah”. Para birokrat Orde Baru adalah pelayan Tuhan. Kalau ada manusia-manusia yang mereka anggap “kafir,” tindakan-tindakan penertiban dan penstabilan akan dilakukan. Tertib dan stabil adalah koentji.

 

Inilah mengapa mata kuliah P4 dan penataran-penataran Pancasila marak di era Orde Baru. Dengan menanamkan bibit-bibit Pancasila sesuai versi penguasa, diharapkan ketertiban dan kestabilan negara bakal terjaga. Pelajar akan sibuk menghafal nilai-nilai Pancasila. Mahasiswa enggak akan neko-neko belajar pemikiran lain selain Pancasila.

 

Dan UNS dengan sungguh bangga menasbihkan dirinya sebagai Benteng Pancasila.

 

Sebenarnya, bukan Pancasila yang berdosa. Masak Tuhan punya dosa? Yang bermasalah adalah tafsiran eksklusif Pancasila. Agama saja, yang katanya turun langsung dari Tuhan, punya ribuan tafsir yang beragam. Nah, berani-beraninya Pancasila yang cuma buah pikir manusia ditanfsirkan secara tertutup dan absolut.

 

Tentu kita bisa membaca video tersebut dalam konteks ruang sosial dan politik sekarang. Dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No.2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), kelompok-kelompok yang dianggap bertentangan dengan Pancasila akan dibubarkan. Kategori dan ukuran Pancasilais mutlak ada di tangan penguasa.

 

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) jadi Ormas pertama yang dibubarkan. Sudah jadi rahasia umum kalau HTI punya onderbow di kampus-kampus: Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan. Julukan Benteng Pancasila bisa dibaca sebagai upaya UNS untuk membersihkan nama dari gerakan-gerakan yang non-Pancasilais menurut penguasa.

 

Persoalannya menjadi runyam ketika video ini dibaca dalam konteks UNS sebagai lembaga keilmuan. Dalam kampus keilmuan semacam ini, Tuhan bisa dianggap tidak ada. Ilmu Pengetahuan tidak punya ideologi dan agama. Semua ideologi boleh dipelajari. Semua ilmu boleh dikembangkan.

 

Bayangkan sebuah lembaga keilmuan dengan jargon-jargon politik pengkhultusan semacam ini. Di kampus, perdebatan, bahkan pertentangan adalah niscaya. Tidak akan berkembang suatu ilmu kalau tidak ada pertentangan.

 

Jika di video tersebut UNS membanggakan rumah-rumah ibadah yang berdekatan, siapkah UNS menampung rumah-rumah pemikiran lain yang kerap dianggap tidak Pancasilais? Agnostisme dan Atheisme misalnya. Atau Komunisme dan Marxisme-Leninisme yang masih jadi hantu.

 

Kalau pertentangan macam ini tidak bisa diatasi, Benteng Pancasila akan mengalami nasib sama seperti jargon-jargon Orde Baru lainnya. Akan dikhultuskan dan ditafsirkan secara eksklusif. Dan mahasiswa yang bersabda, “Tuhan telah mati” akan dibasmi. Alasannya, “Pancasila… abadi!” Ah, Wagu.[]

 

https://video.uns.ac.id/videos/173/uns-benteng-pancasila/

 

Satya Adhi. Pemimpin Redaksi Majalah Kentingan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Baca Juga

Sarjana Kamar Kos

Oleh: Vera Safitri   KITA  tak membeli apapun dari pendidikan selain kesempatan. Pemberitaan mengenai tiga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *