> Ruang Sastra > Puisi (halaman 6)

Puisi

Kau Itu Siapa?

Wajahmu biasa saja Benar-benar tak istimewa Fisikmu juga lemah Benar-benar tak berdaya Tapi bagaimana bisa kau mampu mengubah tatanan dunia ?   Kau sungguh hebat tak ada dua Kau merasuk dalam jiwa manusia Dan kau merusak jiwa manusia Kau ubah perilaku mereka   Demi kau Anak rela durhaka pada orang …

Baca Selengkapnya »

Puncak Harapan

Bak mendaki sebuah gunung Pun hidup ini, satu tujuan pasti dalam genggaman Dengan kokohnya bertengger di ujung sana Puncak harapan, puncak nan abadi   Derap langkah mengiringi jalan berliku Desah napas terdengar kencang kala kesunyian mencekam Keluh kesah mendera jiwa yang letih Langkah kaki mulai terasa berat   Tubuh ini …

Baca Selengkapnya »

Terus Mencarimu

Betapa hidup ini indah tuk dilalui Jika ku berhasil menggapai mimpi Mimpi yang selalu aku nanti Meski penuh dengan relikui   Hingga suatu hari nanti Dimana aku lelah mencari Kuingatkan diriku sendiri Mencarimu tuk jalan hidup ini Mungkin telah ada interferensi   Interferensi pada celah kalbu Kurang sepadan sepadu Hingga …

Baca Selengkapnya »

Dia yang Mengerti

Semua hanya dalam angan Dalam dimensi kehampaan Tak secercahpun harapan Karena sakit tak terperikan   Kucoba tuk slalu tenang Meski kematian slalu membayang Waktu pun tak mungkin kuhentikan Ku kan berdiri kukuh dan berjuang   Tak seorang pun mengerti Tak seorang pun mengetahui Tak seorang pun memahami Sekalipun tuk mereka …

Baca Selengkapnya »

Untuk Sahabatku

Lebih dari sekedar teman Meski sering menyakitkan Kau lakukan tuk kebaikan   Bukan pembuktian instan Proses yang kan tunjukan Berdasar keikhlasan   Untukmu Sahabatku Kau pewarna hidupku Kan terpatri di kalbuku   Kaulah jarum kehidupan Meski menusuk dan menyakitkan Kau lakukan tuk kebaikan   (Suryani)

Baca Selengkapnya »

Hujan

Telah banyak orang memperbincangkanmu Tak jarang diantara mereka Yang mengistimewakanmu Kau dapat membuat mereka Tenggelam dalam kenangan lalu Kehadiranmu terkadang dinanti Tapi di waktu lain Mereka tak menginginkanmu Dia pernah berkata “kau selalu romantis jika datang…” Aku pun berujar “kau membuatku tiba-tiba dingin” Jika yang satu memujamu, dan menganggapmu sebagai …

Baca Selengkapnya »

Terbang

Oleh: Faifar Nur Perlahan… Jari-jari tanganku tak lagi mengapit tubuhku Perlahan… Satu demi satu jari-jari kakiku tak merasakan lembutnya tanah Perlahan… Aku mulai merasakan betapa ringan raga ini Lenganku mulai terbuka Tangankupun mulai berayun Satu kepak, dua kepak..layaknya sepasang sayap kuayunkan kedua tanganku Hingga tak ku sangka ragaku kini benar-benar menjauh …

Baca Selengkapnya »