> Ruang Sastra > Puisi (halaman 3)

Puisi

Aku dan Motor Butut

Oleh: Ayu Tri H. Aku menyusuri jalan kota ketika sang mentari beranjak dari peraduannya, disusul sang dewi malam menguasai gelapnya cakrawala. Gemerlapnya lampu kota menyibak gelapnya malam berhiaskan pamflet-pamflet dan obralan janji para calon petinggi. Aku melaju dengan motor bututku, trotoar dikotori dengan kucing-kucing liar, gelandangan dan aib-aib negariku. Dan …

Baca Selengkapnya »

Aba, Abi, Abu

Oleh: Citra A.P.A Di hari yang agung nan penuh memori ini Memang mereka bersuara Apa yang akan kau lakukan di hari ini, wahai teruna? Berkoar-koar sendu tentang para satria Di makam yang temaram dan musiman Mereka meletakkan bunga   Sayangnya, aku tak seperti mereka Yang berpikauan bak demo mahasiswa Aku hanyalah …

Baca Selengkapnya »

Pada Kata yang Terlepas dari Rahimnya

Kesunyian macam apa yang membebani sampai ubun-ubun Perih dari patah hati belum jua kau lunasi Simbol dan huruf tak memberimu rute untuk kembali kepada peralihan waktu Adakah cara terbaik selain bunuh diri dari rasa keterpaksaan ini?   Kulihat tanganku masih mengepalai atas amarah Membujur segala luka yang kau cipta dari …

Baca Selengkapnya »

Sisi

Oleh: Thea Arnaiz Le Haruskah sisi putih saja yang dapat diandalkan? Kupikir tidak, kuberi tahu sini Tak salah jika sesekali sisi hitam kita diperlihatkan. Kaupikir semua akan baik dengan sisi putih? Keluarkan sisi hitammu juga, ini saranku. Bermainlah seperti ratu angsa dalam opera balet Tepuk tangan riuh akan jadi milikmu …

Baca Selengkapnya »

KITA

Oleh: Rifqathin Ulya Tak pernah aku salahkan pertemuan Tak pula agama Apalagi Tuhan Hanya saja beda Membuat kita semakin logis   Aku tak pernah melihat Apa yang telah salah Tapi orang melihatnya berbeda   Kita Karena Beda Maka terlihat salah   Bahkan aku mulai membenci kata ‘Andai saja’ Yang tidak …

Baca Selengkapnya »

Hei, Kartini Masa Kini!

Oleh: Citra Agusta Putri Wahai Ibu Kartiniku … Pesonamu, geloramu, menghaturkan aroma loyalitas sang dara Kridamu, menumbangkan kemakaran kolonialis tempo dulu Emansipasimu, membangkitkan repih reputnya sukma kaum hawa Namun, perjuangan seakan bertepuk sebelah tangan Impresi agungmu terjelma dalam seremonial belaka Para hawa beradu kirana, mengenakan kebaya dengan eloknya Itukah, intensi …

Baca Selengkapnya »

Semoga Aku Puisi

Tukang Puisi Pikiran ngelantur Imajinasi udzur Jemari nganggur Lalu kertas mabur Healah, gitu kok katanya mau jadi tukang puisi yang bangun pagi lalu berpuisi sampai menjelang pagi (lagi)   Ialah Puisi Ialah puisi Yang membuatku termenung, murung Sesekali menyulut emosi berfrekuensi tinggi Ialah puisi Yang membuatku tertawa geli Sesekali gila …

Baca Selengkapnya »