> Ruang Sastra > Puisi (halaman 2)

Puisi

Mendengar Kipas Angin

Puisi-Puisi Eko Setyawan Mendengar Kipas Angin Aku tak pernah mengerti mengapa kipas angin itu terus berputar. Saling berkejaran dengan dirinya sendiri. Dan menimbulkan deru yang amat bising seperti ketika ibu memarahiku.   Kipas angin ialah ibu yang pernah melahirkanku. Mengejarku ketika aku tak mau mandi. Berlarian ketika aku sesenggukkan. Dan …

Baca Selengkapnya »

Pada Matanya

Puisi-puisi Eko Setyawan     Seorang Perempuan Dengan Air Mata Berjatuhan di Pangkuan   Rumah telah mendekapnya Pintu mempersilakan masuk dan kursi menyuruhnya duduk Kamar paham, ialah yang paling tau tentang air mata itu (2017)     Ini Hanya Seekor Janji   Ini hanya seekor janji yang lahir dari kepala …

Baca Selengkapnya »

Jitapsara

Puisi-puisi Rizka Nur Laily Muallifa   Jitapsara   /I/ payung-payung dibentangkan sebab kenangan menggantung di dahan awan   /II/ pontang-panting menimang duka cuka mengerjap membersamai luka   /III/ masih hendak kau buru napakawaca? sementara ialah kresna telah kau lesap bayangnya ia lesat ialah baladewa     Yang Dihilangkan Namanya   …

Baca Selengkapnya »

Kataku Bukan Senjata

  Kataku bukan senjata Dia hanya serdawa diantara aungan serigala Tak kira tak sangka alih perhatiannya Amarah pada mata dan taring siap memangsa Sekejap tak berlogika Membuatku terluka dan nyaris dipenjara     Kataku bukan senjata Dia tak memanas merobek dada Namun jika itu nyatanya Tentu bukan jua maksud meluka …

Baca Selengkapnya »

Persekongkolan Puisi

Puisi-puisi Rizka Nur Laily Muallifa Persekongkolan Puisi : diskusi kecil pengakhiran di dua tahun lalu menjadi mula persekongkolan puisi menariki kaus kaki demi menjalari telapak kaki sampai ubun-ubun sebelah kiri dengan tumbuhan kata-kata yang rindang yang bercabang banyak sekali di setiap cabangnya menjuntai kuncup-kuncup damai yang segera mekar bila seorang anak …

Baca Selengkapnya »

Darah

 Puisi-puisi Fera Safitri Habis Rambut, kening, alis, mata, telinga, hidung, pipi, mulut Digadai satu-satu, demi hidup yang kadung carut-marut     Leher, pundak, tangan, dada, payudara Hanya lekuk  tak terisi, tak berharga     Hati tanpa arti, otak apalagi, Sudah berkarat! Tak ada bon buat hidup si melarat, sudah habis! …

Baca Selengkapnya »

Danau Tangan Mama

Oleh: Bunga Hening Maulidina Pada jemari mama ada sebuah luka berlubang kecil di kelingking. Tiap petang, menggenang cair—bukan air mata Alice. Dan suatu kali dalam lelap aku mengendap kupegang tangan mama dan menengok Serombongan warna menggumpal isinya: setrika baju seragamku dan sabit pemotong rumput-rumput kelinciku paku-paku penarik kelambu, juga satu …

Baca Selengkapnya »