> Ruang Sastra (halaman 3)

Ruang Sastra

Kataku Bukan Senjata

  Kataku bukan senjata Dia hanya serdawa diantara aungan serigala Tak kira tak sangka alih perhatiannya Amarah pada mata dan taring siap memangsa Sekejap tak berlogika Membuatku terluka dan nyaris dipenjara     Kataku bukan senjata Dia tak memanas merobek dada Namun jika itu nyatanya Tentu bukan jua maksud meluka …

Baca Selengkapnya »

Persekongkolan Puisi

Puisi-puisi Rizka Nur Laily Muallifa Persekongkolan Puisi : diskusi kecil pengakhiran di dua tahun lalu menjadi mula persekongkolan puisi menariki kaus kaki demi menjalari telapak kaki sampai ubun-ubun sebelah kiri dengan tumbuhan kata-kata yang rindang yang bercabang banyak sekali di setiap cabangnya menjuntai kuncup-kuncup damai yang segera mekar bila seorang anak …

Baca Selengkapnya »

Darah

 Puisi-puisi Fera Safitri Habis Rambut, kening, alis, mata, telinga, hidung, pipi, mulut Digadai satu-satu, demi hidup yang kadung carut-marut     Leher, pundak, tangan, dada, payudara Hanya lekuk  tak terisi, tak berharga     Hati tanpa arti, otak apalagi, Sudah berkarat! Tak ada bon buat hidup si melarat, sudah habis! …

Baca Selengkapnya »

Danau Tangan Mama

Oleh: Bunga Hening Maulidina Pada jemari mama ada sebuah luka berlubang kecil di kelingking. Tiap petang, menggenang cair—bukan air mata Alice. Dan suatu kali dalam lelap aku mengendap kupegang tangan mama dan menengok Serombongan warna menggumpal isinya: setrika baju seragamku dan sabit pemotong rumput-rumput kelinciku paku-paku penarik kelambu, juga satu …

Baca Selengkapnya »

Sebuah Monolog: Wajah Tanpa Kelamin

Oleh Feliana Vinda Vicelia Setiap pagi saya selalu merasa seperti dihadapkan dengan para penghuni neraka yang merusak citra bangsa. Dan pagi itu, saya sedang asyik berjalan-jalan eh malah langsung bertemu Broto. Walaupun umurnya jauh lebih tua dibanding saya, saya lebih suka memanggil namanya langsung, “Broto…..” (teriak) Tanpa “pak“ karena sebutan …

Baca Selengkapnya »

Aku dan Motor Butut

Oleh: Ayu Tri H. Aku menyusuri jalan kota ketika sang mentari beranjak dari peraduannya, disusul sang dewi malam menguasai gelapnya cakrawala. Gemerlapnya lampu kota menyibak gelapnya malam berhiaskan pamflet-pamflet dan obralan janji para calon petinggi. Aku melaju dengan motor bututku, trotoar dikotori dengan kucing-kucing liar, gelandangan dan aib-aib negariku. Dan …

Baca Selengkapnya »

30 Detik (Part 2)

Oleh : Citra A.P.A Aku masih terperangah tidak percaya. Namun, aku hanya bisa bungkam. Entah mengapa, kekecewaanku tak bisa dengan mudah kulampiaskan dalam bentuk teriakan histeris, atau tangisan yang membludak, ataupun amarah yang berkoar-koar. Aku hanya bisa bungkam, tetapi tidak dengan kelenjar air mataku. Mereka kontraksi tanpa permisi. Dokumentasi hidup …

Baca Selengkapnya »