> Ruang Sastra (halaman 2)

Ruang Sastra

Musim Dingin di Melbourne

SUDAH SEPEKAN Marine Band kunci C ini aku mainkan; Dan aku masih belum bisa juga mendapatkan F dari lubang nomor dua ataupun A dari lubang ketiga. Sarah bilang aku bukan pemain harmonika yang baik. Lidahku bukan lidah pemain harmonika, namun lidah peminum alkohol. Katanya, aku adalah lelaki yang tidak memiliki …

Baca Selengkapnya »

Puisi-Puisi M. Lutfi dan Dimas Ridho W.S

Di Mana Kau? Oleh : Muhammad Lutfi   Dimana kau ketenangan, Yang selalu hadir dalam gairah perjuangan Membakar emosi yang tak kunjung padam   Dimana kau keajaiban, Yang ada di saat detik-detik pengibaran Dari panji-panji kemerdekaan   Dimana kau air dan kesejukan, Yang membasuh jiwa dengan lembut Memadamkan setiap api …

Baca Selengkapnya »

Perempuan Ladang

IRAMA hutan bergema  hingga ke aliran tapak sungai tak jauh dari ladang. Hembusan  angin menggeliati roma sekujur tubuh. Segar terasa berfantasi dalam pelupuk mata. Fauna-fauna  kecil berseliweran seolah bergulat dengan singgasana rumputnya. Nuansa itulah yang membuat Mak bertahan di sana.   “Mak, yakin tak balik ke rumah lagi?” tanya pria …

Baca Selengkapnya »

Angkringan Surealis

Kami sedang sedikit rehat Pada secangkir kopi hitam pekat Yang ditenggak, habis penat Dalam cepatnya waktu terlewat   Kami jelata kecil yang terhimpit Genggam elan walau sedikit Buang asa hanya ke langit-langit Agar esok kami tak lagi sempit   Kami sedang menimang nasib malang Pada sebatang rokok ampang Yang dihisap, …

Baca Selengkapnya »

Mendengar Kipas Angin

Puisi-Puisi Eko Setyawan Mendengar Kipas Angin Aku tak pernah mengerti mengapa kipas angin itu terus berputar. Saling berkejaran dengan dirinya sendiri. Dan menimbulkan deru yang amat bising seperti ketika ibu memarahiku.   Kipas angin ialah ibu yang pernah melahirkanku. Mengejarku ketika aku tak mau mandi. Berlarian ketika aku sesenggukkan. Dan …

Baca Selengkapnya »

Pada Matanya

Puisi-puisi Eko Setyawan     Seorang Perempuan Dengan Air Mata Berjatuhan di Pangkuan   Rumah telah mendekapnya Pintu mempersilakan masuk dan kursi menyuruhnya duduk Kamar paham, ialah yang paling tau tentang air mata itu (2017)     Ini Hanya Seekor Janji   Ini hanya seekor janji yang lahir dari kepala …

Baca Selengkapnya »

Jitapsara

Puisi-puisi Rizka Nur Laily Muallifa   Jitapsara   /I/ payung-payung dibentangkan sebab kenangan menggantung di dahan awan   /II/ pontang-panting menimang duka cuka mengerjap membersamai luka   /III/ masih hendak kau buru napakawaca? sementara ialah kresna telah kau lesap bayangnya ia lesat ialah baladewa     Yang Dihilangkan Namanya   …

Baca Selengkapnya »