> Ruang Sastra > Cerpen (halaman 2)

Cerpen

30 Detik

Oleh: Citra A. P. A Tiba-tiba aku terbangun. Mataku terbuka. Namun, badanku telah tegak berdiri. Ya, aku berdiri, tak merebahkan diri, tak berbaring. Apakah aku terbangun dari igauan malamku sehari-hari? Apakah aku sedang bermimpi? Ataukah, ini bukan aku? Aku memandang sekeliling. Luas. Tempat yang kupijak begitu luas, hingga terasa hambar. …

Baca Selengkapnya »

Perempuan

Oleh: Rizka Nur L. M. Musim panen telah berlalu, petak-petak sawah penuh dengan bongkot-bongkot padi bekas sabitan, maka perlu disapu dengan jalan melindasnya menggunakan roda-roda traktor yang bergerigi. Selain meluluh-lantakkan bongkot-bongkot padi bekas panen, traktor pun mengambil alih tugas sapi—satu-satunya jenis hewan yang ketika aku masih kanak-kanak tenaganya sangat diandalkan …

Baca Selengkapnya »

Antara Rintik Hujan dan Sepotong Senja

Oleh: Afifah K. Kau menyukai rintik hujan yang lekas reda, sebab buatmu selalu merindui petrichor-nya. Kau menyukai gumpalan awan putih, ingin sesekali berusaha memeluk hangatnya. Kau menyukai embun pagi diatas dedaunan hijau, sebab ia cukup memberi alasan untuk tidak menyudahi kenangan yang tertingal. Kau bahkan menyukai arunika, sebab ia sempurna …

Baca Selengkapnya »

Ibu Bintang Sejak Kecil

  Desa Wangi, Senin, 9 Oktober 2006. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap melaju perlahan di atas jalanan desa yang tidak rata. Di dalamnya seorang gadis SMP sedang bercengkrama dengan wanita tua tapi cantik dan bersih, seperti orang kaya. Dari barang bawaan mereka, sepertinya mereka hendak kembali ke kota. Ke tempat …

Baca Selengkapnya »

Sampai Halaman 269

Separuh sudah buku Anak Semua Bangsa-nya Pramoedya Ananta Toer kubaca. Kau tanya bagaimana pendapatku? Nah, aku tak tahu juga bagaimana harus mengatakan apa yang kurasa setelah sampai pada halaman 269 ini. Minke (baca: Mingke), sejak sepertiga halaman Anak Semua Bangsa telah didakwa sebagai pribumi yang tak kenal bangsa sendiri. Ia …

Baca Selengkapnya »

Setengah Hari Dengan Sepenuh Hati

Seperti apa pagi tanpa fajar? Seperti apa taman tanpa bunga? Dan bagaimana jika hujan tanpa awan? Tidak lebih hidup bukan? Aku tahu seperti itulah aku tanpa anak-anakku. Rasanya lelah, sangat lelah, semuanya kembali hening, sepi, dan menanti. Hari ini masih terlalu pagi untukku menggerutu. Buah hati yang mulai matang sudah …

Baca Selengkapnya »

Selamat Datang di Bank Kami

***             “Oh, bintang yang bercahaya, bintang yang gemerlap yang pertama yang aku lihat pada malam ini. Aku berharap, bolehlah kiranya, aku menginginkan pada malam ini.. Biarlah Bank First Central itu dirampok.” George Picken mengulang-ulang kalimat itu seranya menatap bintang kecil yang nampak pada di atas …

Baca Selengkapnya »