> Ruang Sastra > Cerpen (halaman 2)

Cerpen

Antara Rintik Hujan dan Sepotong Senja

Oleh: Afifah K. Kau menyukai rintik hujan yang lekas reda, sebab buatmu selalu merindui petrichor-nya. Kau menyukai gumpalan awan putih, ingin sesekali berusaha memeluk hangatnya. Kau menyukai embun pagi diatas dedaunan hijau, sebab ia cukup memberi alasan untuk tidak menyudahi kenangan yang tertingal. Kau bahkan menyukai arunika, sebab ia sempurna …

Baca Selengkapnya »

Ibu Bintang Sejak Kecil

  Desa Wangi, Senin, 9 Oktober 2006. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap melaju perlahan di atas jalanan desa yang tidak rata. Di dalamnya seorang gadis SMP sedang bercengkrama dengan wanita tua tapi cantik dan bersih, seperti orang kaya. Dari barang bawaan mereka, sepertinya mereka hendak kembali ke kota. Ke tempat …

Baca Selengkapnya »

Sampai Halaman 269

Separuh sudah buku Anak Semua Bangsa-nya Pramoedya Ananta Toer kubaca. Kau tanya bagaimana pendapatku? Nah, aku tak tahu juga bagaimana harus mengatakan apa yang kurasa setelah sampai pada halaman 269 ini. Minke (baca: Mingke), sejak sepertiga halaman Anak Semua Bangsa telah didakwa sebagai pribumi yang tak kenal bangsa sendiri. Ia …

Baca Selengkapnya »

Setengah Hari Dengan Sepenuh Hati

Seperti apa pagi tanpa fajar? Seperti apa taman tanpa bunga? Dan bagaimana jika hujan tanpa awan? Tidak lebih hidup bukan? Aku tahu seperti itulah aku tanpa anak-anakku. Rasanya lelah, sangat lelah, semuanya kembali hening, sepi, dan menanti. Hari ini masih terlalu pagi untukku menggerutu. Buah hati yang mulai matang sudah …

Baca Selengkapnya »

Selamat Datang di Bank Kami

***             “Oh, bintang yang bercahaya, bintang yang gemerlap yang pertama yang aku lihat pada malam ini. Aku berharap, bolehlah kiranya, aku menginginkan pada malam ini.. Biarlah Bank First Central itu dirampok.” George Picken mengulang-ulang kalimat itu seranya menatap bintang kecil yang nampak pada di atas …

Baca Selengkapnya »

Bersyukur dan Ikhlas

Cahaya mentari menerpa separuh bagian bumi hingga terang benderang tak ada satupun penghalang. Namun berbeda dengan sisa belahan, gelap gulita yang terjadi, memperlihatkan gugusan-gugusan bintang untuk ilmu pengetahuan. Perbedaan yang saling berseberangan sama-sama diciptakan dan menciptakan keindahan, untuk makhluk seluruh alam agar mendapat kebahagiaan. Meskipun bukan untuk keabadian, tetapi cukup …

Baca Selengkapnya »

Meneropong Langit-Langit

Mereka hidup berdua di desa tepi pantai. Malam tak pernah sepi oleh debur ombak yang jelas terdengar. Seolah menerjang rumah-rumah disekitar bibir pantai. Menggulung-gulungkan sayap basahnya, menarik kembali, roh yang tengah berkelana menuai mimpi. Berusaha menjangkau bangunan hitam di kegelapan. Anyaman ilalang kering yang menjadi atap hunian ini hampir lapuk …

Baca Selengkapnya »