> Ruang Sastra > Cerpen

Cerpen

Musim Semi di Melbourne

Oleh: Adhy Nugroho   AKU MEMEGANG LOLIPOP dengan tangan kiriku, di sampingku ada Ibu, saat aku melihat beruang berwarna abu-abu di suatu kebun binatang. Tanah tempat kami berpijak lembab setelah diguyur hujan. Tapi langit kembali cerah. Ini tidak terlihat seperti Melbourne, selain biru langitnya, juga aku melihat terlalu banyak flora …

Baca Selengkapnya »

Musim Dingin di Melbourne

SUDAH SEPEKAN Marine Band kunci C ini aku mainkan; Dan aku masih belum bisa juga mendapatkan F dari lubang nomor dua ataupun A dari lubang ketiga. Sarah bilang aku bukan pemain harmonika yang baik. Lidahku bukan lidah pemain harmonika, namun lidah peminum alkohol. Katanya, aku adalah lelaki yang tidak memiliki …

Baca Selengkapnya »

Perempuan Ladang

IRAMA hutan bergema  hingga ke aliran tapak sungai tak jauh dari ladang. Hembusan  angin menggeliati roma sekujur tubuh. Segar terasa berfantasi dalam pelupuk mata. Fauna-fauna  kecil berseliweran seolah bergulat dengan singgasana rumputnya. Nuansa itulah yang membuat Mak bertahan di sana.   “Mak, yakin tak balik ke rumah lagi?” tanya pria …

Baca Selengkapnya »

Benda-benda Kesepian

JEMARIKU terus menggesek layar gawai, mengesampingkan hiruk pikuk stasiun yang tengah menemui jam padat. Tak heran Didi Kempot perlu mendendangkan lagu ‘Stasiun Balapan’. Lewat stasiun ini, Kota Solo telah menjadi kenangan di mana orang jadi mudah menengok dan meninggalkannya.   Kuhempaskan punggungku ke pangkuan kursi tunggu, sembari membenahi rambut dan …

Baca Selengkapnya »

Sebuah Monolog: Wajah Tanpa Kelamin

Oleh Feliana Vinda Vicelia Setiap pagi saya selalu merasa seperti dihadapkan dengan para penghuni neraka yang merusak citra bangsa. Dan pagi itu, saya sedang asyik berjalan-jalan eh malah langsung bertemu Broto. Walaupun umurnya jauh lebih tua dibanding saya, saya lebih suka memanggil namanya langsung, “Broto…..” (teriak) Tanpa “pak“ karena sebutan …

Baca Selengkapnya »

30 Detik (Part 2)

Oleh : Citra A.P.A Aku masih terperangah tidak percaya. Namun, aku hanya bisa bungkam. Entah mengapa, kekecewaanku tak bisa dengan mudah kulampiaskan dalam bentuk teriakan histeris, atau tangisan yang membludak, ataupun amarah yang berkoar-koar. Aku hanya bisa bungkam, tetapi tidak dengan kelenjar air mataku. Mereka kontraksi tanpa permisi. Dokumentasi hidup …

Baca Selengkapnya »

30 Detik

Oleh: Citra A. P. A Tiba-tiba aku terbangun. Mataku terbuka. Namun, badanku telah tegak berdiri. Ya, aku berdiri, tak merebahkan diri, tak berbaring. Apakah aku terbangun dari igauan malamku sehari-hari? Apakah aku sedang bermimpi? Ataukah, ini bukan aku? Aku memandang sekeliling. Luas. Tempat yang kupijak begitu luas, hingga terasa hambar. …

Baca Selengkapnya »