> Ruang Sastra

Ruang Sastra

Musim Semi di Melbourne

Oleh: Adhy Nugroho   AKU MEMEGANG LOLIPOP dengan tangan kiriku, di sampingku ada Ibu, saat aku melihat beruang berwarna abu-abu di suatu kebun binatang. Tanah tempat kami berpijak lembab setelah diguyur hujan. Tapi langit kembali cerah. Ini tidak terlihat seperti Melbourne, selain biru langitnya, juga aku melihat terlalu banyak flora …

Baca Selengkapnya »

Menjaga Nama Baik

Berita Palsu Pagar-pagar rumah semakin tinggi. Menjadi pembatas antara diri sendiri dengan dunia luar yang tak pernah bisa terkendali. Namun mengenali dan mengendalikan orang lain bisa dilakukan melalui pesan-pesan instan dan berantai. Tanpa sua, jumpa, dan tanpa suara.   Berita-berita semakin beringas. Doa dirapal untuk meredam. Berendamlah dalam kubangan kata-kata. …

Baca Selengkapnya »

Ramadan

Puisi-puisi Rizka Nurlaily Mualifa   Ramadan surau-surau penuh sesak oleh tilawah anak-anak dusun yang seperti tiada jengah berkumuh berkah solo, 2017     Di Rumah bapak ibu gelisah bila anak gadisnya urung membelah dhommah tanwin dan fathah solo, 2017     Kota sebagai anak gadis ibu bapak yang pungkasan aku …

Baca Selengkapnya »

Musim Dingin di Melbourne

SUDAH SEPEKAN Marine Band kunci C ini aku mainkan; Dan aku masih belum bisa juga mendapatkan F dari lubang nomor dua ataupun A dari lubang ketiga. Sarah bilang aku bukan pemain harmonika yang baik. Lidahku bukan lidah pemain harmonika, namun lidah peminum alkohol. Katanya, aku adalah lelaki yang tidak memiliki …

Baca Selengkapnya »

Puisi-Puisi M. Lutfi dan Dimas Ridho W.S

Di Mana Kau? Oleh : Muhammad Lutfi   Dimana kau ketenangan, Yang selalu hadir dalam gairah perjuangan Membakar emosi yang tak kunjung padam   Dimana kau keajaiban, Yang ada di saat detik-detik pengibaran Dari panji-panji kemerdekaan   Dimana kau air dan kesejukan, Yang membasuh jiwa dengan lembut Memadamkan setiap api …

Baca Selengkapnya »

Perempuan Ladang

IRAMA hutan bergema  hingga ke aliran tapak sungai tak jauh dari ladang. Hembusan  angin menggeliati roma sekujur tubuh. Segar terasa berfantasi dalam pelupuk mata. Fauna-fauna  kecil berseliweran seolah bergulat dengan singgasana rumputnya. Nuansa itulah yang membuat Mak bertahan di sana.   “Mak, yakin tak balik ke rumah lagi?” tanya pria …

Baca Selengkapnya »

Angkringan Surealis

Kami sedang sedikit rehat Pada secangkir kopi hitam pekat Yang ditenggak, habis penat Dalam cepatnya waktu terlewat   Kami jelata kecil yang terhimpit Genggam elan walau sedikit Buang asa hanya ke langit-langit Agar esok kami tak lagi sempit   Kami sedang menimang nasib malang Pada sebatang rokok ampang Yang dihisap, …

Baca Selengkapnya »