> Lha Nggih (halaman 3)

Lha Nggih

Mata Duitan

Oleh: Hanputro Widyono IMING-IMING honorarium sering menjadi penggerak utama pena. Deretan angka nol menggiurkan dan menggoda orang-orang ikut menulis. Dikiranya, menulis membikin kaya. Kita bisa melacak kabar-kabar yang beredar di jagat internet. Beberapa laman, blog, atau akun media sosial sering memberi keterangan soal pemuatan tulisan-tulisan yang muncul di koran-koran pada …

Baca Selengkapnya »

Perkara Apresiasi

Oleh: Na’imatur Rofiqoh   SORE SEMILIR. Daku menikmati Tribun Solo edisi 15 November 2016 sambil melahap gorengan diselingi seruputan teh anget. Langit kemerah-merahan kuning jingga. Sore sempurna. Sesaat, mata daku berserobok dengan berita kecil hampir terlewat, mengabarkan keadaan Solo hari ini di rubrik berbahasa Inggris Solo Today. Di sana, terbaca …

Baca Selengkapnya »

Pemira

Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto   BEBERAPA WAKTU yang lalu, aku memutuskan makan siang (sore sih sebenarnya) di warung makan Ayam Geprek Kumlot. Aku makan ke sana hanya karena warung makan langgananku sedang tidak buka saja. Sebetulnya aku memang tidak selalu suka makan ayam geprek. Sering kepedasan, sekalipun jumlah lombok …

Baca Selengkapnya »

Tanpa Sumpah

Oleh: Hanputro Widyono HARIAN Kompas edisi 24 Oktober 2016 memuat iklan “Sumpah Pemuda” abad digital. Dalam iklan yang mengisi sekitar seperempat halaman itu tak ada gambar atau foto. Hanya memuat tulisan. Absennya gambar atau foto membuat iklan tak terlalu sumpek. Ruang-ruang kosong berwarna putih memungkinkan penonton iklan memiliki jeda untuk …

Baca Selengkapnya »

Ibadah

Oleh: Na’imatur Rofiqoh   DETIK ketika diri memilih menapaki jalan kata, maka langkah-langkah kaki berikutnya adalah langkah-langkah berhuruf. Hari demi hari bergerak dari buku ke buku. Pagi sarapan kata. Siang menyantap kata. Malam, tidur berselimut kata-kata. Kata-kata mengantarkan diri pada pertemuan-pertemuan tidak terduga, peruntungan intelektual tak disangka. Diri nekat berhuruf …

Baca Selengkapnya »

Tentir

MAHASISWA di masa lampau, setidaknya sampai tahun 1980-an, punya tradisi khas dalam menyambut mahasiswa dan (terutama) mahasiswi baru. Tradisi yang aku maksud bukan perngelocoan, eh perpeloncoan lho ya. Konon, perpeloncoan di masa kini sudah pantang disebut tradisi, dan justru harus segera dipunahkan. Tradisi yang aku maksud juga bukan keren-kerenan bikin …

Baca Selengkapnya »

Pedoman

Oleh: Hanputro Widyono   ORANG hidup tak boleh sembrono. Mau ibadah, makan, minum, naik motor, menyalakan komputer, menggunakan gawai, hingga soal milih pemimpin harus makai tata cara. Termasuk juga untuk menjadi mahasiswa atau menjalani kehidupan di kampus. Kalau tidak, nasibnya ya seperti yang dialami mahasiswa-mahasiswa baru di Universitas Res Publica: …

Baca Selengkapnya »