> Jeda (halaman 4)

Jeda

Seni Bercerita dalam Tarian

Oleh: Lia Anjarwati STANDARDISASI bagi seni adalah improvisasi tanpa batas dengan tidak lepas dari makna. Hal ini yang sekiranya membuat pertunjukan kelompok tari asal Jakarta Timur dalam Solo 24 Jam Menari, (28/4) lalu, terasa berbeda. Keseluruhan pemain yang terbilang masih cukup belia, juga menunjukkan bahwa eksistensi tari tradisional masih tetap …

Baca Selengkapnya »

Balada Bahasa di Negeri Orang

Oleh: Vera Safitri   Pergulatan dua gadis bule di negeri seribu bahasa. “NAMA saya Lo-kha!” Ujar gadis di depan saya. Rambut merahnya sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Kedua matanya bulat berwarna cokelat. Hidungnya mancung khas Eropa. Barangkali tiga kali lipat lebih mancung dibanding orang Jawa pada umumnya. “Lo-ha ?” …

Baca Selengkapnya »

Habis Skripsi, Berburu Sumber Rezeki

Oleh: Satya Adhi ARIF (23) asli Solo. Walau demikian, bangku kuliah Ia tempuh di jurusan Teknik Metalurgi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Rabu (13/4), ia pulang kampung ke kota Bengawan. Tapi kepulangannya bukan dikhususkan untuk menemui sanak famili. Arif berniat mencari pekerjaan baru yang sesuai dengan bidangnya. Mengapa mencari …

Baca Selengkapnya »

Perjamuan Gratis di Gedung Tinggi

Oleh: Satya Adhi “RADAR” mahasiswa menangkap sinyal perjamuan gratis di perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS), Rabu (30/3). Berkat insting gratisan yang terasah, acara yang seyogyanya minim publikasi ini, diserbu ratusan mahasiswa. Bukan! Bukan buku-buku gratis. Tapi mereka dijamu dengan batagor, bakso, nasi liwet, pecel, lontong opor, lotis, wedang ronde, es …

Baca Selengkapnya »

Klasik yang Tersisa

Oleh: Rizka Nur Laily Muallifa dan Dian Ayu Lestari ALUNAN instrumen jaz Bossa nova membelai cuping telinga. Gemanya anggun nan elegan. Cukup merepresentasikan apa-apa yang nampak mata begitu masuk ke dalam auditorium berkapasitas ratusan itu. Berbalut warna merah dan pencahayaan sedemikian rupa, panggung terkesan menyala tajam. Seolah enggan takluk pada …

Baca Selengkapnya »

Antara Dua Adzan, Telinga Mendengar Pohon

Senin itu, 28 Desember 2015, langit temaram. Di lengkung langit sebelah barat, semburat oranye masih pamer pesona. Namun orang-orang tak terpana. Mereka lebih asyik mengegas dan mengerem tunggangannya, sambil berharap lekas berjumpa dengan keluarga. “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” seorang lelaki memanggil mesra Tuhannya melalui pengeras suara masjid. Telinga yang mendengar …

Baca Selengkapnya »

Bertarung Catur dalam Gelap

Oleh: Vera Safitri Suasana hening menyelimuti ruangan lantai dua Student Center (SC)  Universitas Sebelas Maret  (UNS) Surakarta, Senin (14/12). Dua orang duduk saling berhadapan dengan sebuah papan catur berada di depan mereka. Sekilas tak ada yang aneh dalam pertandingan catur ini, dua orang juri duduk persis di samping mereka. Tak …

Baca Selengkapnya »