> Jeda

Jeda

Merayakan Mimpi Semar

Oleh: Vera Safitri   “Aku sendiri yang tau nasibku, karena aku sendiri yang menentukan takdirku. Jika ada wangsit yang menyatakan aku menunggu Candi Laron, maka benar apa yang terjadi hari ini. Kau datang membawa cecunguk-cecunguk prajuritmu itu. Ayo, sini! aku akan hadapi,” kata Semar setengah teriak.   “Anakku, Gareng, Petruk, …

Baca Selengkapnya »

Komedi Lapangan FH vs FKIP

  Oleh: Adhy Nugroho   JURNALIS sekaligus novelis kawakan Britania, George Orwell, pernah secara menggelitik menyinggung penyelenggaraan kontes olahraga dalam esai singkatnya The Sporting Spirit (1945). “Aku selalu merasa kagum ketika mendengar orang-orang berkata bahwa olahraga dapat mempererat hubungan baik antar negara,” tulisnya. Secara lugu tapi nyinyir, ia menyebut Olimpiade …

Baca Selengkapnya »

Aksi di Depan Tuhan

  Oleh: Vera Safitri dan Eka Indrayani   17.23 WIB   Salma membuka pintu kamar. Memandangi sinar senja yang mulai samar. Sambil memegang handuk, dia terduduk mengantri giliran mandi. Bersiap mendatangi Bulevar UNS selepas magrib.   Seluruh penghuni indekos Salma tahu, itu hari Senin, 23 Oktober 2017. Tapi tak semuanya …

Baca Selengkapnya »

Berlebaran di Kampus

Oleh : Isnaini Khoirunnisa Kepada para mahasiswa, yang merindukan kampung halaman. Kepada dosen tak berperasaan, yang menunda-nunda jadwal ujian…   KONON, Hari Minggu 25 Juni 2017, alias besok lusa, yang tinggal sekira 48 jam lagi itu adalah akhir dari Bulan Ramadan 1438. Umat muslim di Indonesia kemungkinan besar akan merayakan …

Baca Selengkapnya »

Djenar Maesa Ayu: Saya Bukan Feminis

Oleh: Ririn Setyowati   “Hanya karena aku perempuan, apakah artinya aku tidak dapat melakukan sesuatu yang buruk? It’s fucking nonsense”   PENONTON DIBUAT KHUSYU mendengar umpatan Cinta. Lantunan semacam fucking dan shitting begitu akrab di bibirnya yang penuh gincu. Ia memang kerap dibuat kesal dengan kisah persetubuhannya dengan beberapa lelaki …

Baca Selengkapnya »

Para Penentang Elitisme Seni

SEANDAINYA PAMERAN SENI adalah kehidupan dan para pengunjung adalah manusianya, yang sekadar mampir, memburu nikmat, lalu segera pergi. Maka larangan terbesar dalam ‘kehidupan’ itu adalah menyentuh karya. Larangan sudah barang tentu tak ditulis dalam kitab suci, melainkan di dinding-dinding tempat pameran diselenggarakan, di bawah benda yang dipamerkan atau kadang berdiri …

Baca Selengkapnya »

Matinya Petani Kami

  “KAMI MERAWAT PADI tiap hari, tapi hanya jadi tahi…” Teriak seorang pria di tengah kerumunan. Dia Choirol Imam, mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS). Usai kalimat itu dibacakan, empat lelaki yang hanya bercelana kolor mulai berkelahi dengan seorang lelaki berbaju hijau tua. Lelaki berbaju …

Baca Selengkapnya »