> Catatan Kentingan (halaman 4)

Catatan Kentingan

Ihwal Kitsch dan Cara Pandang

INI BERMULA dari pertanyaan Setyaningsih (penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon, 2016) dalam acara bedah buku Berkini Tiara Hati karya mahasiswa Indonesia-Thailand Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), di Balai Soedjatmoko, Solo (3/2) lalu. Yang tak urung memancingku untuk menimbang keyakinan atas beberapa hal yang akan kujelaskan nantinya.     Kala itu …

Baca Selengkapnya »

Sengaja Menepi

KEPADA dua muda-mudi yang tengah menggelisahi sastra, di tengah gejolak batin kalian yang kurasai benar melalui pembacaan luguku terhadap tulisan kalian yang dimuat saluransebelas.com, laman milik pers mahasiswa (persma) yang belakangan ini kelimpungan sebab para awaknya tak banyak menaruh keprihatinan pada keperluan terisinya laman mereka dengan tulisan-tulisan. Ijinkan aku menyela.   …

Baca Selengkapnya »

Sudah Bukan Soal Sastra

AWAK pers mahasiswa (Persma) Kentingan –pemilik laman ini– seharusnya mau dan malu membaca tulisan Faith Silmi yang diterbitkan saluransebelas.com tempo hari!   Saking geramnya terhadap Persma tukang kritik gedung sebelah dan bahkan memilih ‘prei kenceng’ terhadap aksi mahasiswa. Juga yang paling penting, sepi peliputan dan malah sibuk nyastra (ah, apa …

Baca Selengkapnya »

Nikmat Sastra Mana Lagi Yang Kamu Dustakan?

DI TENGAH kemuakan yang memuncak pada penilaian mahasiswa tentang sastra, seperti ujaran Mbak Ririn dalam tulisannya berjudul “Mengusir Paksa Sastra”, yang terbit di saluransebelas.com tanggal 11 Januari 2017 lalu. Izinkanlah aku memperkenalkan diri. Aku mahasiswa biasa, tak berani mengklaim diri aktivis, terkadang malu untuk berteriak “Memperjuangkan rakyat!” ketika belum satu …

Baca Selengkapnya »

Mengusir Paksa Sastra

  BARANGKALI sudah banyak yang merasa muak, pada tabiat mahasiswa dalam menilai sastra. Kupikir, kita memang telah memasuki masa di mana kemakluman sivitas akademika atas buku-buku diktat yang membelenggu sastra kian memuncak.   Alkisah, sempat seorang awak aktivis mahasiswa bersikap sangsi pada tulisan-tulisan pers mahasiswa. Ia menyayangkan satu hal: mengapa …

Baca Selengkapnya »

Belajar dari Candide

Oleh : R.Syeh Adni   CANDIDE berbicara kepada temannya, Martin. “Percayakah anda, bahwa manusia selalu berbunuh-bunuhan sejak dulu dan sekarang, bahwa mereka merupakan pendusta, pengkhianat, tak tahu berterimakasih, rampok, idiot, maling, bajingan, rakus, pemabuk, pelit, pencemburu, ambisius, berpikiran buas, pemfitnah, bejat moral, fanatik, munafik dan goblok?’’   “Percayakah anda,” ujar …

Baca Selengkapnya »

Hasrat Museum Keilmuan

Oleh: Vera Safitri   PUKUL SEBELAS lewat lima malam, seorang teman mengirimiku sebuah pesan singkat, “Museum ki opo jal?” Hanya butuh waktu tiga detik untuk membaca pesan ini. Tapi aku memandangi pesan ini sekitar sepuluh detik dengan pembagian waktu seperti berikut: tiga detik untuk membaca, tiga detik untuk tertawa, dan …

Baca Selengkapnya »