> Catatan Kentingan (halaman 10)

Catatan Kentingan

Film, Media, Literasi

  Oleh: Na’imatur Rofiqoh   “BARANGKALI yang harus kita potret monyet-monyet. Barangkali itu yang mau dilihat oleh orang luar negeri,” ujar Ketua Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) Amir Yusuf (Sani: 1997, 397). Dia mengutarakan sinismenya pada Asrul Sani ketika memikirkan soal ekspor film Indonesia. Tahun 1960 dan 1970-an memang narasi …

Baca Selengkapnya »

Maklum pada yang Muda

Oleh: Hanputro Widyono KEMARIN saya ngobrol sama Bapak. Tentang banyak hal, seperti gempa di Mentawai, gerhana matahari di Indonesia, sepak bola, perkuliahan, dan kampus saya tercinta, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pastinya. Dalam tempo itu, saya yang lebih banyak ngomong. Bapak diam saja sambil manggut-manggut. Bapak maklum sama usia saya …

Baca Selengkapnya »

Menyambut “Bapak”

Oleh: Vera Safitri Kepulangan “Bapak” disambut ulah “Anak-anaknya.” WILDAN Wahyu Nugroho masih sibuk dengan telepon genggamnya. Sesekali Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) itu berbicara dengan beberapa orang di depannya. Ia kemudian berbicara dengan “seseorang yang jauh” melalui telepon genggamnya, sambil memegangi kabel headset yang menjuntai di …

Baca Selengkapnya »

Basa-Basi Internasionalisasi

Oleh: Satya Adhi Sebuah institusi keilmuan mengurung diri di tengah simbol modernitas urban. TIDAK kurang dari sepuluh kali, kata ‘internasional’ dan ‘internasionalisasi’ keluar dari lisan Ravik Karsidi. ‘Internasionalisasi’ sebanyak empat kali, ‘internasional’ enam kali. Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) itu mengucapkannya dalam pidato laporan dies natalis pada sidang senat tahunan, …

Baca Selengkapnya »

Menggugat ‘Pengawalan’ BEM UNS

Gugat Pengawalan BEM UNS

SAAT Soeharto masih berkuasa, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) didaulat untuk mengawal pemerintahan sang Raja Jawa itu. Di setiap kasus yang terjadi, baik dengan buruh atau mahasiswa, pihak militer dengan kokohnya menjaga pemerintahan Orde Baru agar tidak tumbang. Kawal mengawal oleh militer ini menjadi sebuah kekuatan represif  untuk menjaga stabilitas …

Baca Selengkapnya »

Kantong Plastik Berbayar: Solutif atau Kapitalistis?

Oleh Panji Satrio Seminggu sudah kebijakan kantong plastik berbayar diterapkan di ritel-ritel di beberapa kota di Indonesia, termasuk di kota Solo. Kebijakan yang juga disebut “diet” kantong plastik tersebut secara resmi berlaku pada tanggal 21 Februari 2016. Pembeli dikenai biaya 200 perak untuk membeli 1 lembar “tas kresek” untuk mengantongi …

Baca Selengkapnya »