Opini

Duhai Maru, Rektor Kalian Sesungguhnya adalah…

Oleh: Satya Adhi   DUHAI DEDEK mahasiswa baru (maru) yang masih suka berhenti di bangjo Ngoresan kalau lampunya merah. Kakak tingkat (kating) kalian ini, yang malang melintang jadi saksi ganasnya bangjo legendaris tadi punya sedikit wejangan.   Saya tidak beritikad menggurui apalagi memberikan fatwa. Bukan, dek. Wejangan ini saya tulis …

Baca Selengkapnya »

Guru Besar Imajiner

Oleh: Satya Adhi   BENEDICT RICHARD O’GORMAN ANDERSON. Seorang profesor cum indonesianis lulusan Universitas Cornell, Amerika Serikat. Walau sudah jadi guru besar, almarhum tak mau dipanggil Profesor Ben. Pun bukan dipanggil Pak Ben atau Tuan Ben. Ia justru lebih sering dipanggil dengan panggilan yang terdengar menggelikan di telinga cewek-cewek genit: Om Ben. …

Baca Selengkapnya »

Tuna Etos Keprofesoran

Oleh: M. Fauzi Sukri   /1/ PERSEPSI KITA pada identitas profesor bermula dari prasangka baik. Dan tak hanya itu, malah sangat utopis dan fantastik. Dulu, saat masih bocah kecil di sekolah dasar di satu desa di Jawa Timur, aku dan hampir seluruh teman seusiaku, bisa dan biasa membayangkan: profesor adalah …

Baca Selengkapnya »

Nama itu Nasib!

BETAPA KEJAMNYA orang-orang yang mengganti kata “Mawar” menjadi “Tinja”. Karena meski bagaimana pun, dua kata tersebut telah digunakan untuk memberi nama dua benda  yang berbeda di bawah satu persetujuan bersama. Mengganti nama “Mawar” menjadi “Tinja” adalah tindakan yang tidakadil. Hal yang bisa kita lakukan adalah member nama  lain untuk Mawar …

Baca Selengkapnya »

Ihwal Kitsch dan Cara Pandang

INI BERMULA dari pertanyaan Setyaningsih (penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon, 2016) dalam acara bedah buku Berkini Tiara Hati karya mahasiswa Indonesia-Thailand Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), di Balai Soedjatmoko, Solo (3/2) lalu. Yang tak urung memancingku untuk menimbang keyakinan atas beberapa hal yang akan kujelaskan nantinya.     Kala itu …

Baca Selengkapnya »

Sengaja Menepi

KEPADA dua muda-mudi yang tengah menggelisahi sastra, di tengah gejolak batin kalian yang kurasai benar melalui pembacaan luguku terhadap tulisan kalian yang dimuat saluransebelas.com, laman milik pers mahasiswa (persma) yang belakangan ini kelimpungan sebab para awaknya tak banyak menaruh keprihatinan pada keperluan terisinya laman mereka dengan tulisan-tulisan. Ijinkan aku menyela.   …

Baca Selengkapnya »

Sudah Bukan Soal Sastra

AWAK pers mahasiswa (Persma) Kentingan –pemilik laman ini– seharusnya mau dan malu membaca tulisan Faith Silmi yang diterbitkan saluransebelas.com tempo hari!   Saking geramnya terhadap Persma tukang kritik gedung sebelah dan bahkan memilih ‘prei kenceng’ terhadap aksi mahasiswa. Juga yang paling penting, sepi peliputan dan malah sibuk nyastra (ah, apa …

Baca Selengkapnya »