> Catatan Kentingan > Opini > Terima Kasih, Predikatnya

Terima Kasih, Predikatnya

Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Udji karena dibilang masih bersaudara dengan Barry Allen alias The Flash (Baca: http://saluransebelas.com/catatankentingan/opini/mahasiswa-dilarang-mendebat.html). Ya, sayalah penanya pertama saat Debat Capres-Cawapres BEM UNS yang diselenggarakan oleh KPU UNS dan dilaksanakan di Halaman Parkir Timur Masjid Nurul Huda pada hari Senin, 2 November 2015. Alhamdulillah, MC pada saat debat masih netral memilih penanya karena sebetulnya saya bukan mahasiswa yang menyandang predikat anggota BEM. Saya hanya mahasiswa baru yang penasaran dengan kemampuan calon pemimpin tatanan politik kampus yang selanjutnya. Dan saya pribadi tidak tahu dan tidak kenal dengan MC acara debat kemarin. Kenapa saya begitu cepat mengangkat tangan? Karena saya sudah ingin menyampaikan pertanyaan yang sebelumnya sudah saya siapkan untuk melihat seberapa jauh dan matang kemampuan pemecahan masalah dari kedua calon presiden dan calon wakil presiden BEM UNS.

Debat capres-cawapres kemarin, saya akui, memang masih kurang dari yang saya harapkan, apalagi dari segi penyediaan waktu. Hanya ada tiga sesi, dan sesi terakhir untuk penanya dari pemirsa yang datang sangat terbatas sehingga memang kurang “sedap”—saya katakan untuk ukuran debat calon pemimpin tinggi kampus yang akan menjabat untuk kurun waktu satu tahun ke depan. Dari segi pelaksanaan acaranya pun masih kurang tepat waktu. Pada poster yang disebar oleh KPU dituliskan jika debat dimulai dari pukul 13.30 WIB, namun pada kenyataannya, acara debat itu sendiri baru dimulai pukul 14.30 WIB. Ngaret. Begitulah. Salah satu budaya sia-sia yang membuang-buang waktu. Padahal satu jam pertama yang terbuang itu masih bisa dimaksimalkan. Mungkin juga ini bisa menjadi salah satu bahan evaluasi untuk anggota KPU UNS.

Porsi ideal waktu untuk melaksanakan debat memang panjang. Tidak cukup waktu beberapa jam saja untuk berdebat. Karena di dalam debat itu sendiri akan muncul pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan baru yang menuntut untuk dicarikan pemecahan masalahnya. Juga, debat kemarin terkesan terburu-buru. Dan, memang idealnya, debat capres-cawapres ini dilaksanakan dua kali jika memang waktu per satu kali acara debat tersebut terbatas, agar banyak mahasiswa yang mendapat kesempatan bertanya dan menguji para calon pemimpin mereka. Dan supaya mahasiswa yang awalnya masih ragu atau “ngawang” untuk memilih pasangan capres-cawapres yang tepat untuk memimpin BEM UNS. Saya yakin, masih banyak mahasiswa yang hingga hari ini masih bingung untuk memilih siapa yang cocok dan seharusnya terpilih untuk menjadi presiden dan wakil presiden BEM UNS selanjutnya.

Saya pribadi sebenarnya agak sedikit aneh dengan tulisan Mas Udji yang dimuat di laman web LPM Kentingan, tentang BEM yang ogah mendengarkan suara orang-orang di luar kalangan BEM. Karena mengira jika yang membuat acara debat calom kemarin itu dari pihak BEM? Maaf, Mas, saya dan teman-teman saya yang baru menjadi mahasiswa saja tahu jika yang mengadakan debat kemarin itu adalah KPU, bukan dari pihak BEM. Bukannya saya berpihak, namun aneh saja tiba-tiba muncul anggapan seperti itu. Terkesan ingin memunculkan stigma negatif terhadap BEM di kalangan mahasiswa dan menyetir opini serta pilihan mahasiswa untuk menjadi apatis, tidak perduli dengan tatanan kepemimpinan kampusnya sendiri. Mungkin juga untuk selanjutnya, pihak BEM tidak usah mengajukan pertanyaan agar acara debat atau acara-acara yang menyangkut dengan pemimpin dianggap netral. Dan maaf, paragraf ini agak sensitif karena membawa nama lembaga.

Namun, ya, semua tulisan ini adalah opini pribadi saya. Opini yang mungkin untuk beberapa kalangan mahasiswa hanya menjadi tulisan yang tidak begitu penting karena apalah saya ini, hanya mahasiswa baru yang masih cupu masalah “rumah baru”-nya ini, yang ingin tahu tentang tatanan pemerintahan di kampusnya sendiri. Kalau dalam istilah basa Sunda, “da aku mah apa atuh ngan saukur butiran debu nu tara diperhatikeun jeung teu di dangu”.

 

Emilia Naura

Mahasiswi Biasa

Pendidikan Geografi 2015

Baca Juga

Duhai Maru, Rektor Kalian Sesungguhnya adalah…

Oleh: Satya Adhi   DUHAI DEDEK mahasiswa baru (maru) yang masih suka berhenti di bangjo …

Satu komentar

  1. Lucu ya, bisa menyaksikan percakapan lewat artikel. Teruntuk teteh Emilia, keun weh , inti tulisan ‘Mahasiswa Dilarang Mendebat’ sanes ka teteh, mungkin lebih tepat di katakan curhat ya. Apa yang dilakukan teteh sudah tepat, mengacungkan jari secepat The Flash. Dan, sebagai sesama Mahasiswa Baru, kita masih perlu belajar banyak. Kalau di baca, saya setuju tulisan tersebut aneh dan membingungkan, ada berbagai subjek ‘asing’, dan agaknya mencampur adukkan urusan emosi tanpa memerhatikan detail acara. Mungkin karena dari awal sang penulis memang tidak niat untuk ikut acara debat sehingga hal sepele seperti penyelenggaraan yang dianggap diselenggarakan BEM padahal KPU UNS, hal tersebut terjadi. Dalam komentar ini, intinya adalah saya sebagai sesama mahasiswa baru mendukung teteh (sesama urang sunda yeuh :D) dan mengapresiasi tulisan teteh ini. Cukup untuk dijadikan perwakilan silent reader seperti saya dalam menanggapi tulisan tersebut.
    Salam dari
    Mahasiswa Bukan Garis Keras
    Ilmu dan Teknologi Pangan 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *