> Catatan Kentingan > Surat Pembaca > Surat Terbuka untuk Udji Kayang A. S

Surat Terbuka untuk Udji Kayang A. S

Oleh : Joko Priyono

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb Akh Udji,

 

Tepat pada hari Kamis, 10 November dinihari, saya iseng membuka laman saluransebelas.com. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah mencari informasi terkini mengenai perkembangan Pemira yang ada di kampus UNS tercinta ini. Melalui salah satu aplikasi yang terdapat di dalam gawai, saya menunggu waktu kurang lebih 30 detik. Akhirnya saya mendapatkan halaman rumah saluransebelas.com yang sebelumnya beralamat di lpmkentingan.com. Ternyata di salah satu rubrik, ada tulisan terbaru mengenai Pemira. Tulisan tersebut adalah karya dari manusia bernama Udji Kayang Aditya Supriyanto.

 

Betapa besarnya ucapan terima kasih yang harus disampaikan, khususnya mereka dedengkot BEM UNS. Bagaimana tidak? Udji Kayang sekarang sudah tidak berstatus menjadi mahasiswa alias sudah menyelesaikan prosesi wisuda di jenjang S-1 nya beberapa minggu yang lalu. Kini, beliau masih menaruh perhatian di dunia kampus yang dulu pernah menjadi salah satu tempat belajar. Tulisan yang kritis, renyah, serta mencerdaskan selalu hadir untuk kita semua nikmati. Baik dalam tatanan makroskopik maupun mikroskopik. Baik dalam tataran horizontal maupun vertikal.

 

Udji Kayang Aditya Supriyanto, nama yang menurutku begitu populer. Para mahasiswa UNS atau meminjam bahasa beliau adalah Universitas Nubuat Supersemar perlu mengenalnya. Beliau yang sering nongkrong di media cetak maupun daring, baik dalam skala daerah maupun nasional. Namun yang paling identik hingga hari ini, menurutku ia adalah seorang esais yang cerdas. Saya mengikuti beliau mungkin baru sekadar lewat dunia maya. Proses yang dijalani beliau tentu panjang, berlika-liku. Kalau boleh, saya menyebutnya sebagai salah satu mahasiswa (sekarang sudah lulus) di UNS yang produktif menulis. Meminjam bahasanya Pram, Udji adalah sosok  yang akan terus bekerja untuk keabadian. Iya, kurang lebih ungkapan yang pernah disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer adalah “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

 

Saya tak mau su’udzon terlebih dahulu, akh Udji atas tulisan antum yang berjudul Pemira tersebut. Oleh karena itu, saya membacanya tak cuma sekali saja. Beberapa kali saya mengulangi membacanya guna mendapatkan kesadaran dalam pemahaman. Geser dari atas ke bawah atau biasa kita mengenalnya dengan scroll baik up maupun down, pun sebaliknya mengembalikan ke atas lagi untuk membacanya ulang. Di sela aktivitas tersebut, terhitung tiga kali saya membagikan laman kepada beberapa kawan saya melalui pesan pribadi WhatsApp baik dengan kesamaan tempat tinggal, program studi, maupun kesamaan nasib. Landasan tersebut tentu sebagaimana kalimat yang biasa menempel di setiap akhir artikel yang ada di laman tersebut. Sharing is caring.

 

Setelah selesai membaca tak kurang dari tujuh kali, saya sedikit demi sedikit mulai mendapati pesan yang disampaikan baik tersurat maupun tersirat. Mungkin pesan yang paling begitu mengena adalah penyampaian gagasan utama dari penulisan esai tersebut. Intinya adalah, daripada mengurusi Pemira lebih baik mendengarkan sekian tembang yang membikin hidup tenang, nalar terang, hati senang, dan badan goyang. Begitu sederhana dan terkesan guyonan jika sekilas membaca bagian tersebut. Namun itu mungkin hanya tafsir secara subjektif. Yang memiliki wewenang untuk menafsirkannya, iya akh Udji itu sendiri.

 

Selain hal tersebut, ada beberapa hal yang yang perlu digarisbawahi. Melalui kesempatan ini, mungkin akh Udji dengan segera juga akan memberikan pernyataan lebih lanjut atas hal yang belum dijelaskan secara rinci. Yang pertama adalah ungkapan mengapa organisasi eksternal kampus “itu” masih eksis dan selalu datang sebagai pahlawan bertopeng di setiap penyelenggaraan Pemira. Lebih lanjut lagi dia menyadur petikan tulisan dari Tempo, 8 Desember 1979 yang mengatakan bahwa organisasi eksternal dianggap sudah tidak relevan dan sudah tak bisa lagi menampung aspirasi mahasiswa. Ini menjadi pertanyaan terutama dari saya pribadi sendiri.

 

Memang, saya membenarkan beberapa partai mahasiswa yang ada di kampus digawangi oleh organisasi eksternal kampus yang berkepentingan. Namun poin penting yang mungkin harus dijawab oleh Mas Udji adalah argumen mengenai salah satu perspektif terhadap organisasi eksternal kampus. Apakah sebenarnya ada pesan tersirat yang ingin disampaikan oleh Mas Udji? Atau mungkin ingin membuat sebuah isu yang menggiring untuk anti terhadap organisasi eksternal. Bukankah masing-masing organisasi baik internal kampus maupun eksternal kampus dilandasi pada pemaknaan akan asal muasal pengertian organisasi yang berasal dari bahasa Yunani yaitu organon, yang kurang lebihnya memiliki pengertian dalam lingkup luas, adalah sarana untuk melakukan kerjasama antara orang-orang dalam rangka mencapai tujuan bersama dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki.

 

Mas Udji, bukankah hari ini yang perlu dilakukan kita bersama adalah usaha dalam perjuangan terus melakukan bunuh diri kelas, membentuk kesadaran yang mungkin boleh meminjam istilahnya Paulo Freire adalah kesadaran kritis, menghindari sikap apatis, serta menghindari sikap yang muaranya hanya pada pragmatisme semata. Ini bukan untuk tujuan ndakik-ndakik atau gimana. Ini hanyalah sebatas pikiran yang sempat ngendon dalam kurun waktu dua jam setelah membaca opini sampeyan. Terima kasih, Mas, kalau menyempatkan untuk membaca. Lebih-lebih mau menanggapinya.

 

Ta’dzim!

Wassalammualaikum Wr.Wb

 

Joko Priyono. Mahasiswa Program Studi Fisika. Pengagum wanita yang suka membaca. Penghuni surel jokopriyono837@gmail.com

Baca Juga

Balasan yang Tidak Terbuka-Terbuka Amat untuk Surat Terbuka Joko Priyono

Wa’alaikumussalam Wr.Wb Akh Joko Priyono.     Esai membuka ruang bagi pemuatan rahasia, misteri, dan teka-teki. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *