> Jeda > Seni Bercerita dalam Tarian

Seni Bercerita dalam Tarian

Oleh: Lia Anjarwati

STANDARDISASI bagi seni adalah improvisasi tanpa batas dengan tidak lepas dari makna. Hal ini yang sekiranya membuat pertunjukan kelompok tari asal Jakarta Timur dalam Solo 24 Jam Menari, (28/4) lalu, terasa berbeda. Keseluruhan pemain yang terbilang masih cukup belia, juga menunjukkan bahwa eksistensi tari tradisional masih tetap terjaga.

Ramai orang memadati berbagai titik yang tersebar dalam lingkungan kampus Institut Seni Indonesia (ISI). Hari yang semakin gelap menambah hilir mudik pengunjung serta penjual kaki lima di berbagai sudut. Menjelang pukul 21.40 WIB, gedung Teater Besar ramai riuh rendah dengan sorak-sorai dan tepuk tangan penonton usai penampilan dari sanggar Citra Art Studio (CAS). Mereka terbilang sukses membawakan tarian berjudul Mirah asal Jakarta. Tarian tradisonal berdurasi 20 menit ini dibawakan secara berkelompok, dengan tokoh utama seorang perempuan bernama Mirah. Dikemas dalam suasana komedi, tarian ini menarik gelak tawa para penonton sepanjang pertunjukan.

Pada awal prolog tarian, muncul seorang laki–laki paruh baya melalukan monolog dengan dialek khas Betawi. Laki–laki tersebut berkeluh-kesah terhadap anak perempuannya, si Mirah, yang tak kunjung menikah.

Kemudian munculah si tokoh utama, Mirah, dengan gerakan silat dalam tarian yang menawan. Tak lama kemudian, muncul seorang lelaki yang menantang Mirah untuk adu bela diri. Terjadilah adegan pertarungan Mirah dengan si lelaki dalam gerakan–gerakan silat yang ciamik. Akhir pertarungan tersebut dimenangkan oleh Mirah si Jagoan Betawi, disertai munculnya para penari lain. Mereka membentuk tarian berkelompok dalam balutan kostum sarung yang melambangkan ciri khas masyarakat Betawi.

Persembahan tari yang dikombinasikan dengan dialog menjadi cerita yang apik ditonton. Diiringi melodi–melodi jenaka dari alat musik khas Betawi seperti sukong dan gabus, membuat penonton semakin larut dalam cerita yang disampaikan. Adegan sang ayah yang memarahi Mirah dan teman-temannya setelah bertarung menjadi ladang tawa selama pertunjukan. Dialog yang disampaikan dengan bahasa sehari–hari yang nyeleneh serta bahasa tubuh yang lucu sontak membuat penontonnya terpingkal-pingkal.

Tarian berlanjut dengan pertarungan sengit antara Mirah dan laki–laki yang sakit hati ingin membalas kekalahannya. Adegan pertarungan kali ini dipermanis oleh penampilan penari lainnya yang mengiringi sang tokoh utama berlaga. Titik klimaks pertarungan keduanya pun terjadi, saat Mirah jatuh ke dalam pelukan sang jagoan laki–laki. Para penari semakin gemulai bergerak membawakan suasana romansa disambut riuhnya penonton yang terserang demam baper (bawa perasaan).

Musik berganti ritme seiring dengan tarian yang hampir rampung. Lampu panggung semakin redup, menghantarkan suasana yang semakin teduh. Pantun menjadi penutup manis yang menyihir penonton.

“Darimana datangnya punai melayang?

Dari sawah turun ke pagi,

dari mana datangnya sayang?

Dari mata turun ke hati.”

Gedung teater gempar. Sorak–sorai dan tepuk tangan yang mewarnai berakhirnya penampilan tari.

Secara keseluruhan rangkain penyajian tarian ini mengalami beberapa improvisasi dari cerita sesungguhnya. Si Mirah merupakan cerita rakyat Betawi yang berlatar masa kolonial Belanda. Cerita ini sendiri banyak ditemukan dalam buku pelajaran Kesenian Budaya Jakarta untuk Sekolah Dasar.

Si Mirah diceritakan sebagai jagoan silat di daerah Marunda. Berkat kemampuannya Mirah pun disegani oleh banyak lelaki. Melihat hal yang demikian sang ayah merasa khawatir akan masa depan Mirah yang tak kunjung menikah.

“Tarian ini menceritakan tentang seorang perempuan yang jago silat, kemudian orang tuanya khawatir kelak anaknya susah mendapat jodoh karena banyak laki–laki yang segan,” tutur salah seorang penari CAS, Laras. Banyaknya stigma negatif seperti julukan perawan tua memang sering kita jumpai dalam masyarakat. Demi mendalami inti cerita, hal ini disampaikan dengan agedan monolog babeh Mirah pada awal penampilan.

Dalam cerita aslinya, sang ayah mengadakan sayembara bagi laki-laki yang dapat mengalahkan Mirah dalam pertandingan silat, maka ia berhak menikah dengan Mirah. Di atas panggung, cerita ini kemudian disampaikan dengan pengadaptasian gerakan–gerakan silat ke dalam tarian.

Adegan romansa yang diusung di sela-sela tarian, sekiranya cukup sesuai dengan yang tertulis dalam cerita yang aslinya. Saat si Mirah dengan sang laki-laki terlibat pertarungan sengit untuk yang kedua kalinya, kemudian diselipkan adegan romantis di antara gerakan-gerakan silat tersebut. Tak jauh dari cerita aslinya, seorang pemuda bernama Asni yang merupakan jagoan silat asal Kemayoran berhasil memenangkan sayembara milik babeh Mirah.

Singkat cerita, dalam pesta pernikahan keduanya bertemu dengan Tirta, pimpinan perampok yang selama ini ia cari. Pertarungan sengit pun tak dapat dihindari. Dalam keadaan terluka Tirta menyerahkan sebuah bungkusan kepada Mirah yang ternyata berisi pending emas. Dengan kalimat yang terbata–bata Tirta mengatakan Asni adalah saudaranya satu ayah beda ibu, sebelum akhirnya ia tewas.

Cerita lengkap kisah si Mirah ini banyak ditemukan dalam buku pelajaran Kesenian Budaya Jakarta tingkat Sekolah Dasar. Dalam versi aslinya, si Mirah hanya berbentuk cerita rakyat. Adanya, pengadaptasian cerita ini dalam bentuk tarian dirasa menarik kembali perhatian masyarakat kepada cerita-cerita rakyat yang mulai usang. Ditambah dengan bumbu-bumbu komedi dan romantis yang sesuai dengan perkembangan zaman, diharapkan semakin menghidupkan eksistensi budaya tradisional di kalangan masyarakat modern.


Lia Anjarwati. Mahasiswi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, angkatan 2015.

Baca Juga

Berlebaran di Kampus

Oleh : Isnaini Khoirunnisa Kepada para mahasiswa, yang merindukan kampung halaman. Kepada dosen tak berperasaan, …

2 Komentar

  1. beh mantap li …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *