> Ruang Sastra > Cerpen > Sebuah Monolog: Wajah Tanpa Kelamin

Sebuah Monolog: Wajah Tanpa Kelamin

Oleh Feliana Vinda Vicelia

Setiap pagi saya selalu merasa seperti dihadapkan dengan para penghuni neraka yang merusak citra bangsa. Dan pagi itu, saya sedang asyik berjalan-jalan eh malah langsung bertemu Broto. Walaupun umurnya jauh lebih tua dibanding saya, saya lebih suka memanggil namanya langsung,

“Broto…..” (teriak)

Tanpa “pak“ karena sebutan “pak” terlalu sopan untuk tikus sampah macam dia. Rumahnya saja tingkat sebelas, bagai kesebelasan sepak bola tanpa adanya tim cadangan. Woh…. jangan salah walau tak punya tim cadangan, bagi Broto yang penting punya wanita simpanan dan kabarnya Broto punya banyak wanita. Itu alasan yang membuatnya jarang pulang. Ya jelas jarang pulang, istri Broto sudah tua mungkin baru berapa tendangan saja sudah nyerah. Wong ya belum tentu juga beberapa kali tendangan itu, semuanya masuk gawang. Jadi Broto milih bertanding saja dengan wanita-wanita muda lainnya. Mumpung masih hidup kalo di akhirat bidadari mau tidak diajak tendang-tendangan?

Orang-orang macam itu seperti berkuasa penuh atas dirinya.

“ mbok  ya hati dan kelakuannya ditata” kataku dalam hati.

Otak memang jangan diragukan lagi, tanpa mengeja saja mereka sudah tau jawabannya. Apa lagi tanpa pikir panjang dan menghitung, mereka sudah tau banyak prosentase mana untung mana buntung. Kata mereka

“Rakyat kecil tidak menguntungkan”

“Suntik saja cairan biar cinta sejenis” atau “taruh racun saja dikopinya”

Dengan begitu kemiskinan dan pengangguran berkurang atau kalau perlu

“Hukum Mati Saja”

Kalo toh dihukum lima sampai sepuluh tahun keluar juga sudah tua. Malah merepotkan keluarganya. Belum lagi setelah keluar mereka sakit demam berdarah, diare, darah tinggi, kejang, kencing manis, rabies.

“Mau dibawa kemana narapidana macam itu? sudah bersalah, miskin. Bersalah saja sudah suatu kesalahan ditambah miskin pula. Walah malah ra karu-karuan salahe. “

Coba jawab mau dibawa kemana? (bertanya)

Pos kamling?

Warung kopi?

Tempat prostitusi?

Apa dibawa kedokter? (kaget)

Apa punya duit? Dikira ke dokter gak butuh duit? Mau dibayar pake apa? Paling akhirnya mati juga!

Mau utang tetangga?

Beberapa hari yang lalu setelah bapak keluar dari penjara, bapak sakit keras. Saya lari kerumah mbok Darni tetangga sebelah kontrakan tapi dia marah-marah ketika saya datang ke warungnya untuk meminjam uang.

“Bu anu…..anu….say…..”

“Anu anu. Anumu kenapa? mau apa mau utang lagi? mau kamu bayar kapan utangmu nduk, kok ya berani ngutang lagi. Beras tiga kilo kemarin belum bayar. Telur dua butir belum bayar. Minyak belum bayar. Garam, gula, kopi? Rugi-rugi duwe tonggo kok kere

Padahal belum selesai saya ngomong cangkem mbok Darni sudah nyerocos saja. Itu mulut apa Bluetooth. Kemudian saya langsung lari ke rumah pak Suroto pemilik kontrakan. Saya menangis dan langsung bersujud di hadapan kakinya.

“ Bantu saya pak, tolong bapak, bapak masuk rumah sakit”

“ Kontrakanmu nunggak berapa bulan? Mbok sadar diri kamu” kata pak Suroto

“ Tapi bapak benar-benar sedang sakit keras pak”

“ la urip yo percuma to kowe tetep nelongso.Mboh modar, mboh mati aku ra arep peduli. Saiki ndi duek kontrakan”

(saya langsung pergi meninggalkan pak Surot)

“heh…..lohhhh…hehhhhhh bocah ra genah

Saya berlari sambil menangis menahan segala kekecewaan, bagaimana mereka begitu tega melihat kesusahan orang lain. Saya tidak pernah mau hidup seperti ini.

“Bajingan!”

“Orang-orang itu biadab!”

Ayah saya bukan penjahat macam tikus-tikus berdasi di gedung megah nan mewah. Walau kami hidup di bawah jembatan, untuk makan saja kami kesusahan. Haram! Bagi kami mengambil sesuatu yang bukan milik kami.

Saya pernah melihat ketika Broto lewat, semua wajah menunduk sopan dan tersenyum lebar ramah melihat tubuh broto yang gede, gagah, tampan meski usianya sudah hampir 50 tahun. Mulut-mulut itu dengan fasihnya membual.

“pagi pak”

“apa kabar pak, lama tak terlihat”

“wah pak broto jarang terlihat. Sibuk ya pak”

Memang kita sudah terbiasa senang dengan pujian-pujian gombal macam itu.

“Tapi coba ketika bapak yang lewat?”

Ya Allah mau melihat saja tidak, apa lagi menyapa? Senyum pun mereka tak mau. Malah bapak yang sering menunduk dan berkata

“Mari pak”

“Mari buk”

“Mari mas , mari mbak”

Sejak kapan masyarakat kita didoktrin yang kaya disembah yang miskin bagai sampah. Saya pernah dengar semua manusia sama, yang beda hanya amal dan ibadahnya. Lalu kenapa Tuhan dengan mudah menciptakan segala yang bertolak belakang seperti kaya dan miskin, cantik dan jelek, baik dan jahat. Untuk apa jika katanya dimata-Nya semua sama. Bangsat manusia macam mereka. Mereka yang kemudian membuat bapak mati.

“bapak…..bapakkk…..bapakkkkkkkk…….”

Setelah tiba di rumah sakit saya melihat tubuh bapak terbujur kaku tertutup selimut. Wajahnya memutih pucat.

“Bapakkkkkkkk……bapakkkkkkkkkkk”

Sampai bapak mati pun saya tidak berhasil mendapat pinjaman uang. Di acara pemakaman  bapak, saya tak melihat sedikit pun wajah menyesal dari tetangga-tetangga. Mungkin pikir mereka, akhirnya satu tikos got hilang juga.

“Tuhan dimana kau Tuhan”

“Kau lihat aku atau tidak sekarang?”

Apa kau juga seperti mereka yang hanya mau bergumbul dan ada di tempat yang bersih. Mungkin manusia kotor dan rumah reot saya tak pantas kau lihat, apalagi kau kunjungi.

“Bawa saya pergi sekalian”

“kenapa kau hanya ambil bapak?”

Pindahkan saja aku keduniamu. Dunia macam ini orang-orang hanya takut jatuh miskin tapi tak pernah takut menyakiti hati orang lain. Apa yang akan mereka bawa saat mati.

“Harta?”

Mungkin mereka mau buka mall atau es dawet di neraka. Ya bisa saja karena yang mereka tau hanya uang dan keuntungan. Jualan di neraka lumayan, di sana hanya ada musim panas. Kalo bisa sekalian mereka mati juga bawa gerobak. Siapa tau dineraka harga gerobak lebih mahal.

“Tapi di mana tempat yang tepat bagi mereka?”

“Ya kalau surga jelas gak mungkin,yang mereka perbuat selama hidup juga hanya dosa”

“Kalau mereka harus ke neraka, neraka lapisan berapa yang cocok untuk mereka”

Tapi bisa saja orang-orang macam mereka tak mau diatur. Mereka memilih jalan sendiri kemudian keselip atau keserimpet di akhirat lain. Mungkin ada tempat lain????

Baca Juga

Musim Semi di Melbourne

Oleh: Adhy Nugroho   AKU MEMEGANG LOLIPOP dengan tangan kiriku, di sampingku ada Ibu, saat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *