> Tajuk > Sang Kapten dan Pak Presiden

Sang Kapten dan Pak Presiden

 

 

RUMPUT Stadion UNS memang tidak sehijau rumput Stadion Surajaya. Tapi Surajaya dan Kentingan sama-sama punya sosok yang tengah dipanggil. Satunya dipanggil Yang Kuasa, satunya lagi dipanggil yang berkuasa.

 

El Capitano Persela Lamongan, Choirul Huda, meninggal saat pertandingan melawan Semen Padang, 15 Oktober 2017. Surajaya sontak dirundung mendung. LA Mania – suporter Persela – terpaksa kehilangan pujaan hati mereka lebih dini. Tak selesai sampai di situ, para pemain Liga 1 dari berbagai klub ramai-ramai menunjukan ekspresi duka.

 

Sementara di Jakarta sono, Jumat, 20 Oktober 2017 lalu, bocah-bocah ingusan nekat bertanding melawan musuh yang kata orang tidak sebanding. Meski jersey-nya mirip, bocah-bocah tadi bukan para pemain Persela yang mau bertanding melawan Persija Jakarta.

 

Bocah-bocah tadi juga bukan para pemain Manchester City, Napoli, atau tim nasional Uruguay. Ngapain juga David Silva, Marek Hamsik, dan Luis Suarez ujug-ujug datang ke Batavia. Mau minta tips ke Bambang Pamungkas, supaya tidak nganggur di usia pensiun? Bah.

 

Berangkat dari Kentingan, bocah-bocah tadi adalah awak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS yang mendemo Jokowi-JK karena mereka anggap tak becus mengurus negara dalam tiga tahun ini. Sampai di sono, BEM UNS melakukan demonstrasi gabungan dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang menamai diri mereka BEM Seluruh Indonesia (SI). Macam PSSI-nya BEM–BEM di tanah air gitu.

 

Keinginan para demonstran untuk ketemu Jokowi dan menyidangnya dalam sebuah sidang yang mereka namai “sidang rakyat” tidak berhasil. Jokowi mungkin cuma cengar-cengir sambil bisik-bisik dengan Kapolri. “Pak Tito, mereka sidang skripsi aja belum khatam, kok kemaki mau nyidang saya. Khik-khik-khik.” Apa daya, musuh BEM SI memang bukan musuh yang sebanding.

 

Lalu para warga net bereaksi. Anak-anak BEM tentu saja mengutuk Jokowi habis-habisan. Sementara mahasiswi-mahasiswa yang lain malah anyel bin gemes sama BEM SI. Sudah bosan dengan polah tingkah BEM yang melakukan kajian saja masih compang-camping, tapi sok-sokan demo di depan istana. Ini macam Persela mau jumawa menggelar laga persahabatan melawan Manchester City. Lha wong Liverpool yang juara Liga Premier Asia saja dilibas 5-0.

 

Yang ada bukan lagi “hanya satu kata: lawan!” Tapi malah mlipir menjadi “pokoknya satu kata: lawan!”

 

Sudah begitu, para demonstran ngeyel. Disuruh pulang enggak mau. Cerita selanjutnya sudah bisa ditebak. Polisi memaksa demonstran bubar, yang menurut para mahasiswa dilakukan secara represif. Lalu para demonstran dituduh melakukan tindakan melanggar hukum karena merusak fasilitas umum. BEM SI mentah-mentah membantah sangkaan ini.

 

Demonstrasi ini berujung penetapan Koordinator Pusat BEM SI cum Presiden BEM UNS, Wildan Wahyu Nugroho sebagai tersangka. Ia dituduh menggerakan demonstran untuk merusak fasilitas umum. Nah, kalau ini polisi yang bikin anyel bin gemes.

 

[Baca: Presiden BEM UNS Resmi Tersangka]

 

Polisi harusnya menyadari tiga hal. Pertama, para demonstran pasti sadar, kalau mereka melakukan tindak kekerasan dan perusakan, pemberitaan media akan menyudutkan mereka. Kedua, lawan para demonstran kalau terjadi tindak kekerasan dan perusakan, adalah aparat kepolisian. Polisi punya pentungan, water canon, bahkan peluru karet. Demonstran yang waras bakal meminimalisir terjadinya hal-hal yang mengarah ke tindak kekerasan.

 

Terakhir, polisi mestinya sadar kalau para mahasiswa yang berdemonstrasi tidak hanya berasal dari Jakarta. Mereka tak punya tempat menginap. Ya mbok biarkan untuk semalam saja mereka tidur di jalan sambil menikmati bintang-bintang. Kalau lapar dan butuh duit, nanti juga bubar sendiri.

 

Hingga tajuk ini diterbitkan, saluransebelas.com masih belum bisa menghubungi Wildan. Ia sudah sah jadi tersangka. Bantuan hukum kabarnya bakal diberikan UNS. Semoga saja, akhi yang satu itu lekas dilepaskan. Bukan apa-apa. Dibui karena demonstrasi yang ecek-ecek semacam itu, sungguh tidak membuat Wildan terlihat heroik. Dia juga belum sempat meminang ukhti terkasih dan mempersembahkan cucu idaman untuk orang tuanya. Hiks…

 

Wildan yang setia dengan jalur pergerakannya – meski jalur itu sering dicaci – dipanggil yang berkuasa saat sedang memakai jersey almamaternya. Pun dengan Choirul Huda. Sang Kapten tetap ngeyel untuk setia bersama Persela. Meski itu berakibat kiper sekelas dirinya tidak pernah menjuarai liga hingga kini. Choirul Huda bahkan dipanggil Sang Kuasa saat tengah mengenakan jersey kebanggaan.

 

Namun ada pemandangan yang kontras pasca Sang Kapten dan Pak Presiden dipanggil. Seisi Surajaya bersimbah air mata saat menyanyikan lagu Sampai Jumpa milik grup musik celelekan, Endang Soekamti. Spanduk bertuliskan “Tersenyumlah di Atas Awan Kapten, Surajaya untukmu Selamanya” dibentangkan LA Mania. Nomor punggung 1 milinya dipensiunkan.

 

Choirul Huda dikenang sebagai legenda.

 

Sementara itu, Wildan memang mendapat simpati dari warga net. Tagar #darurat demokrasi dan #KitaBersamaWildan berusaha diviralkan. Penetapan Wildan sebagai tersangka, jelas merupakan tindakan aneh dari kepolisian. Tapi banyak juga yang bereaksi sebaliknya. Komentar-komentar semacam, “Yuhu akhirnya tercyduc,” “ini akibat skripsi sering ditolak, angkatan 2013 tapi belom lulus juga,” “ra mikir wong tuo mu tho le?” “Kapokmu kapan,” dan berjibun reaksi sejenis bisa kita jumpai di media sosial.

 

Mengapa demikian? Mari kita renungkan sambil menyeruput kopi dan nonton Liga 1 yang makin tak mutu.[*]

Baca Juga

Surat untuk Profesor

                              …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *