> Laporan Khusus > “Saya Mempersembahkan Hidup untuk Jiwa-jiwa di Api Penyucian”
Romo Dwiko di Pastoral Mahasiswa (Parmas) Surakarta, Rabu, 29 November 2017 (Foto: Lintang Azhizah/LPM Kentingan)

“Saya Mempersembahkan Hidup untuk Jiwa-jiwa di Api Penyucian”

 

Oleh: Patricia Ferginia

 

Eksorsisme tidak hanya ada di film-film Hollywood. Seorang Romo yang tinggal di belakang RRI jadi saksi, bukti, sekaligus pelakunya.

 

SEORANG lelaki muda datang ke pantai Parangtritis. Ia bertapa di pantai selatan Yogyakarta itu selama 40 hari 40 malam. Berdoa, memohon sebuah permintaan khusus. Tempat itu memang jadi langganan orang-orang yang meminta pesugihan.

 

Pertapaan berjalan. Selama itu, si lelaki merasa bersetubuh dengan istrinya. Anehnya, si istri berubah menjadi perempuan yang sangat cantik dan memikat.

 

Sampai suatu ketika istrinya hamil. Ia kemudian mengajak sang istri bertapa di Parangtritis, tepat saat usia kandungannya tujuh bulan. Saat bertapa, bayi dalam kandungan sang istri keluar begitu saja. Padahal usianya masih tujuh bulan. Plus, tak ada yang membantu pasangan itu melahirkan anak mereka.

 

Lahirlah seorang bayi perempuan. Ia dimandikan dengan air laut pantai selatan. Setengah ari-arinya dibuang di pantai dan setengahnya dibawa pulang. Bayi perempuan itu pun tumbuh selayaknya bayi-bayi perempuan lain. Hanya saja, sepanjang hidup ia selalu dibawa oleh ayahnya untuk melakukan ritual ini-itu.

 

Hidup si gadis jadi tak pernah tenang. Sudah puluhan kali ia melakukan percobaan bunuh diri, namun tak pernah berhasil. Padahal sama sekali tidak ada orang yang menolongnya. Sewaktu gadis itu SMA, ia bahkan pernah mengurung diri di kamar selama tiga bulan. Ia frustrasi karena seperti tidak bisa melihat apapun. Gelap.

 

Berselang lama, akhirnya gadis itu bisa melanjutkan hidupnya. Ia menikah dengan seorang laki-laki, lalu punya seorang anak – mengubah gadis itu jadi seorang ibu muda. Tapi gangguan tak pernah surut. Selama hidupnya, dia sering mengalami kesurupan dan kerasukan.

 

Sudah banyak orang “pintar” yang angkat tangan ketika menanganinya. Mereka justru balik memanggil ibu muda itu dengan panggilan “eyang.”

 

Setahun silam, datanglah ibu muda tersebut ke Pastoral Mahasiswa (Parmas) Surakarta – letaknya di kawasan belakang kantor Radio Republik Indonesia (RRI), Balapan. Ibu itu kelihatan kebingungan, aneh. Para mahasiswa Parmas kemudian menerimanya. Dari dalam ruang tamu, seorang romo yang sedang duduk di pagi hari memperhatikan ibu muda itu.

 

Sang romo memanggilnya. Keluarlah semua cerita dan keluh kesah ibu itu, bahwa suaminya mengalami kesurupan.

 

“Coba kamu panggil suamimu ke sini,” ujar romo.

 

Si suami lalu dibawa ke Parmas. Ketika dibawa ke sana, sekujur tubuhnya sudah penuh luka sulutan dupa atau hio. Hanya saja ia tak merasakan sakit sama sekali. Setelah berdoa, sang romo berkata kepada si ibu muda tadi.

 

“Kayaknya yang butuh bantuan itu bukan suamimu, tapi kamu.”

 

 

LUKAS Bagus Taufik Dwiko Nanda Pratisto, mulanya adalah pria paruh baya seperti orang kebanyakan. Ia bahkan sempat punya pekerjaan mapan selama sebelas tahun. Sebelum itu juga kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tak ada pikiran untuk jadi romo, apalagi jadi seorang romo eksorsis.

 

Tahun 2000, pada umur 36 tahun, Dwiko yang sudah hidup nyaman dan punya pekerjaan mapan, memutuskan menjadi romo. Memilih mengabdikan dirinya bagi sesama. Ibunya sempat melarang pilihan hidupnya tersebut. Jelas saja. Siapa ibu yang tega membiarkan anaknya memilih sebuah jagat, yang tampak bagaikan bejana tanah liat yang mudah pecah?

 

“Motivasinya bukan motivasi yang suci,” ujar Romo Dwiko. “Kalau nanti saya kawin, saya punya anak istri, nanti kasihan anak dan istri saya. Pasti banyak saya tinggal untuk kegiatan sosial,” katanya, Selasa, 21 November 2017 silam.

 

Singkat cerita, Romo Dwiko bergabung ke Serikat Jesus (SJ). Keputusannya untuk menjadi imam juga mengundang perhatian dari seorang dosen imam disana.

 

“Kamu kerja sudah mapan, kenapa kamu tinggalkan semua dan jadi imam?”

 

“Saya punya satu keinginan, yaitu saya ingin mempersembahkan hidup saya untuk jiwa-jiwa di api penyucian.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena kalau saya berkarir untuk orang, [saya akan] banyak dilihat orang. Sedangkan kalau saya ingin berdoa untuk jiwa-jiwa di api penyucian, siapa yang akan melihat?”

 

Tanpa disangka, Tuhan mengabulkan keinginannya.

 

Semua bermula dua tahun silam. Saat itu tepat hari Pentakosta, hari peringatan masa akhir dalam Paskah. Roh Kudus akan turun pada hari itu. Tapi Pentakosta tahun itu, Romo Dwiko tidak hanya menemui roh Tuhan yang suci. Ia juga bersua Lucifer si malaikat jatuh. Salah satu iblis paling kuat yang disebut dalam Injil.

 

Kejadiannya malam hari. Waktu itu, Romo Dwiko sedang duduk berbincang dengan seorang mahasiswi UNS di Parmas Surakarta. Pandangan si mahasiswi kosong. Hampa. Membuat Romo Dwiko curiga.

 

Romo Dwiko kemudian mencoba merapal doa pengusiran. Si mahasiswi berteriak hebat. Mengamuk dan memberontak. Tak perlu waktu lama, ia pingsan.

 

Si mahasiswi dibawa ke kamar Romo Dwiko. Dibaringkan di sana. Iseng, Romo Dwiko mengambil stola – selendang yang biasa digunakan para imam Katolik – dan berdoa lagi. Reaksinya di luar dugaan! Dipan tempat tidur berguncang seperti terjadi gempa bumi. Anehnya, si mahasiswi yang terbaring di atas tempat tidur itu tetap diam, lelap.

 

Doa-doa pengusiran lanjut dilantunkan. Selama kurang lebih empat setengah jam, Romo Dwiko menangani si mahasiswi, dibantu lima sampai enam orang.  Sial, Lucifer tahu kalau Romo Dwiko belum punya izin dari kekuskupan untuk melakukan pengusiran atau eksorsisme. Sang Iblis tertawa mengejeknya.

 

Romo Dwiko kemudian segera menelepon Keuskupan Agung Semarang (KAS). Meminta izin untuk melakukan eksorsisme.

 

Di tengah proses eksorsis, Romo Dwiko bertanya kepada Lucifer. “Kenapa kamu mengikuti anak itu selama 19 tahun?”

 

She is the choosen one (dia orang yang terpilih),” jawab Lucifer.

 

Sejak kejadian itu, Romo Dwiko jadi langganan didatangi setan yang merasuk dalam diri seseorang.

 

Seperangkat alat eksorsis (foto: Lintang Azhizah/LPM Kentingan)

 

“PELIPIS SAYA [pernah] robek. Kejadiaanya pas jam tiga pagi,” kisah Romo Dwiko. Saat itu ia tengah tidur lelap ketika tiba-tiba terbanting dari kasur.

 

Tak hanya itu. Romo Dwiko bercerita, ia sering “diganggu.” Pintu kamar diketuk di tengah malam dan suara-suara aneh yang bermunculan sudah jadi barang biasa. Hal-hal semacam ini yang membuat tidak banyak imam yang tertarik menjadi seorang eksorsis.

 

Lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini juga sering sakit, tapi bukan sakit-sakitan. Menurutnya, itu karena setan yang mengganggu, berusaha melemahkan semangat eksorsismenya. “Saya di sini [di Parmas] sudah delapan kali tifus. Dan masuk rumah sakit, terakhir Desember kemarin,” akunya.

 

Eksorsisme jadi populer berkat film-film Hollywood. Sebut saja The Exorcism of Emily Rose (2005), The Exorcist (1973), The Conjuring (2013), dan film lainya. Ternyata praktik eksorsisme tidak hanya ada dalam film. Ia nyata dan benar-benar ada.

 

Eksorsisme berbeda dari penanganan kesurupan biasa. Eksorsisme adalah pengusiran setan kembali ke neraka. Dalam tradisi gereja Katolik, ia didasarkan pada ritual Gereja Roma yang disebut Eksorsis Meriah.

 

Pada intinya, seorang eksorsis meminta meminta bantuan Tuhan untuk mengusir setan yang merasuki seseorang, untuk kembali ke neraka. “Yang dilihat saat pengusiran adalah hati bukan tindakan. Maka dari itu, [seorang eksorsis] tidak boleh berkonfik dengan hati [ragu],” ujar Romo Dwiko.

 

Gereja Katolik sangat berhati-hati dalam memutuskan eksorsisme. Perlu bukti kuat yang menyatakan bahwa seseorang memang kerasukan setan. Bukan mengalami gangguan jiwa. Soalnya, kerasukan dan gangguan jiwa punya perbedaan tipis. Sebelum memutuskan eksorsisme, imam biasanya akan meminta seseorang yang disangka kerasukan, mengecek kesehatan dan juga kejiwaan. Perlu juga diadakan wawancara mendalam dengan si “pasien.”

 

Ada doa khusus dalam eksorsisme yang menggunakan bahasa campuran. Tapi yang umum digunakan adalah bahasa Latin. “Rahmat Tuhan itu sifatnya sangat universal, tidak terbatas akan keterbatasan bahasa,” jelas Romo Dwiko. Selain itu, menurutnya, ada nama santo atau santa tertentu yang dibenci atau ditakuti oleh setan. “Misalnya Azazel, ia takut pada malaikat Rafael,” tambahnya. “Dan satu yang paling mereka takuti secara umum: Bunda Maria.”

 

Sebelum melakukan eksorsisme, Romo Dwiko biasanya akan membacakan doa pengusiran untuk memutuskan kontak atau ikatan dengan setan. Istilahnya doa uji coba. Kalau reaksinya gawat, barulah terbukti kalau si “pasien” benar-benar kerasukan.

 

Misalnya saat Romo Dwiko menangani seorang pramugari. Awalnya, wanita itu datang mengemuinya, tanpa diundang. Ia bercerita kalau sering melihat panampakan. Wanita itu juga kadang merasakan sakit di badannya.

 

Mulailah Romo Dwiko berdoa. Saat doa biasa, si pramugari masih bisa mengikuti. Tapi ketika stola milik Romo Dwiko diletakan tepat di pundak wanita itu, berteriaklah dia. Teriakan yang hebat macam leher mau disembelih.

 

Saat eksorsisme berlangsung, iblis akan berdiam diri dalam tubuh manusia seolah-olah doa eksorsisme tidak ada artinya. Mereka akan diam, lalu mulai tertawa meledek. Padahal, mereka berusaha menahan siksaan doa eksorsisme sambil mencoba terus menjatuhkan mental para pengusir dengan segala tipu dayanya.

 

Orang yang dirasuki biasanya akan berbicara bahasa kuno. Misalnya bahasa latin, bahasa Jerman, Italia, Inggris, dan masih banyak lagi dengan tata bahasa yang benar. Kekuatan fisiknya pun akan meningkat hingga bisa menghempaskan orang-orang yang berusaha memeganginya.

 

Dan, setan biasanya justru merasuki orang-orang yang beriman.

 

“Kalau enggak beriman ngapain digoda? Enggak digoda saja sudah enggak beriman,” ujar Romo Dwiko.

 

Foto Romo Dwiko di salah satu sudut ruangan di Parmas Surakarta (foto: Lintang Azhizah/LPM Kentingan)

 

SI IBU muda kebingungan. “Loh, kok saya?” Suaminya yang kesurupan, kenapa ia yang butuh pertolongan?

 

Si Ibu muda itu tidak sadar kalau ada setan yang merasukinya.

 

Sampai saat ini, Romo Dwiko belum bisa mengusir setan yang merasukinya. Menurut pengakuan Romo, setan sudah menguasai organ-organ dalam tubuh ibu itu. Saat eksorsisme dilakukan, akan muncul cakaran di seluruh tubuh si ibu. Sakit dan panas dirasakan ibu itu layaknya orang yang dicambuk. Terlebih pada bagian punggungnya.

 

Anehnya lagi, Ibu muda itu sering mendapat pengelihatan tentang Romo Dwiko. Ia juga bisa melihat Romo Dwiko layaknya menonton sebuah film. Terkadang, bila Romo Dwiko melakukan eksorsis di Parmas, si ibu yang ada di rumah bisa ikut kesetanan.

 

“Ini keadaannya sudah parah. Karena dia memang dipersembahkan oleh orang tuanya,” jelas Romo Dwiko.

 

Cara terbaik yang bisa dilakukan Romo Dwiko saat ini, adalah mengajarkan doa dan membawanya lebih dekat dengan Tuhan. Sebenarnya, Romo Dwiko bisa saja mengusir setan yang ada di tubuh si ibu.

 

“Saya bisa ngusir, tapi nanti dia [si ibu] mati,” tegasnya menampung dilema.[]

 

Patricia Ferginia. Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP, 2017. Surel: vferginia@gmail.com.

Baca Juga

Petani dari Kampus Buru

Oleh: Satya Adhi dan Vera Safitri   DI RUMAH Paiman, orang-orang berdatangan hampir tiap hari. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *